Kenapa Harus Memahami Sejarah FSPMI?

Bogor, KPonline – Soekarno pernah berkata, “Jangan pernah sekali-kali merupakan sejarah”. Apa yang diucapkan oleh Bapak Pendiri Bangsa ini tersebut, bukanlah sesuatu yang mengada-ada. Karena dengan membaca sejarah, dengan mengetahui dan memahami sejarah, kita bisa mengenal dan memahami diri kita sendiri, melebihi siapapun.

Sabilar Rosyad yang merupakan Ketua DPW FSPMI Jawa Barat menjelaskan secara singkat kepada awak Media Perdjoeangan, mengapa materi sejarah FSPMI diberikan kepada seluruh anggota FSPMI. Disela-sela agenda kegiatan Refreshing Course PC SPL-FSPMI Bogor, Sabilar mengungkapkan rasa kecintaannya kepada FSPMI. “Karena dengan mengetahui dan memahami sejarah FSPMI, maka akan timbul rasa memiliki atas organisasi ini, juga akan timbul rasa cinta kepada FSPMI. Sehingga generasi penerus organisasi, dapat menilai, sekaligus menentukan sikap dan semangat ghiroh serta semangat perjuangan” tutur Sabilar Rosyad.

Bacaan Lainnya

Dia pun menjelaskan kepada awak Media Perdjoeangan, bahwa sejarah lahirnya FSPMI merupakan jawaban atas kebutuhan kaum pekerja pada rezim Orde Baru saat itu. “Sehingga pada agenda Refreshing Course diberikan materi sejarah FSPMI, agar generasi muda penerus FSPMI mengetahui perjalanan sejarah sejak lahirnya FSPMI, prestasi dan reputasi FSPMI yang telah dicapai hingga saat ini” lanjutnya.

Menanggapi tentang eskalasi dan semangat perjuangan buruh yang mulai menurun beberapa tahun terakhir. Sabilar memiliki beberapa cara, agar mampu menghidupkan kembali semangat yang mulai memudar tersebut. “Jalankan organisasi sesuai dengan AD/ART organisasi. Minimal rapat-rapat rutin baik ditiap tingkatan susunan organisasi dimulai dari tingkat PUK. Karena ide, gagasan dan hal-hal baik lainnya biasanya muncul disaat rapat-rapat atau musyawarah. Jangan sampai rapat rutin ditiap tingkatan tidak ada, karena akan menimbulkan kebosanan” ujar Sabilar Rosyad.

Lain halnya dengan Supri Izhar, Sekretaris Pimpinan Cabang SPL-FSPMI Bogor ini mengupas mengenai peranan Pimpinan Unit Kerja (PUK) dalam membangkitkan semangat dan ghiroh perlawanan anggota FSPMI. “Penguatan anggota ditingkat PUK pun tidak kalah penting. Misalnya saja, perjuangan PUK dalam mensejahterakan anggota-anggotanya. Ketika para Pengurus PUK terlibat aktif dalam membela, melindungi dan mensejahterakan anggota-anggotanya, maka dalam proses perjuangan tersebut, anggota-anggota PUK akan melihat sejauh mana perjuangan para pimpinannya” tutur Supri.

“Terlepas dari hasil perjuangan tersebut, menang atau kalah, berhasil atau tidak perjuangan tersebut, maka secara otomatis militansi dan semangat anggota-anggota PUK akan meningkat. Jadi penguatan atau cara membangkitkan semangat dan ghiroh perjuangan kaum buruh bisa dimulai dari akar rumput. Karena kalau akarnya kuat, maka pohonnya pun pasti akan kuat” lanjutnya.

Perjuangan kaum buruh yang sebenarnya, boleh dikatakan berada di akar rumput, terjadi di PUK-PUK. Sehingga penguatan mental dan spiritual harus terus dilakukan secara kontinyu di akar rumput. Terlebih-lebih dalam hal negosiasi dan advokasi, tidak hanya sebatas para Pengurus PUK saja, akan tetapi anggota-anggota PUK pun boleh diberikan pendidikan negosiasi dan advokasi. Karena agar proses regenerasi dalam organisasi bisa berjalan dengan baik dan semestinya.

“Pendidikan PPHI, negosiasi dan advokasi itu sangat penting. Karena seringkali buruh-buruh berhadapan dengan proses tersebut. Bahkan penyelenggaraan berbagai pendidikan bagi anggota perlu dilakukan, agar buruh cerdas dan regenerasi berjalan. Karena sejarah FSPMI tidak hanya sebatas perjuangan upah, demonstrasi atau unjuk rasa dijalan-jalan saja. Akan tetapi, sejarah FSPMI tidak terlepas dari pendidikan-pendidikan perburuhan” jelas Supri Izhar. (RDW)

Pos terkait