Jujun Juansah: Kita Akan Berjuang Hingga Titik Penghabisan

Bandung, KPonline – Konsulat Cabang FSPMI Bandung Raya menggelar rapat koordinasi dengan Pimpinan Cabang, Pimpinan Unit Kerja, dan pilar organisasi di sekretariat KC FSPMI Bandung Raya, Kamis (04/07/2019).

Rapat kordinasi kali ini membahas beberapa hal. Antara lain: Kejelasan Perda Nomor 8 tahun 2015 di kota Cimahi; Penyampaian hasil kajian UMSK di kota Cimahi oleh DPK; Menagih janji – janji politik walikota Cimahi pada saat kampanye pilkada; Kasus yang sedang terjadi di PUK CV Primatex; hingga Persiapan aksi unjuk rasa Aliansi SP/SB pada hari Senin 8 Juli 2019 ke pemkot Cimahi.

Bacaan Lainnya

Jujun Juansah selaku Ketua Konsulat Cabang FSPMI Bandung Raya dalam sambutanya mengatakan bahwa FSPMI akan berjuang hingga titik penghabisan.

Jujun juga menyampaikan bahwa dalam berjuang, bukan hanya mengharapakan untuk kenaikan upah atau sekedar keleluasaan dalam hal dispensasi.

“Karena ketika sudah mendapatkan upah dan dispensasi kemudian kawan – kawan sudah merasa cukup dengan upah yang sudah di terima saat ini mending tidak usah lagi ikut berjuang upah. Itu tidak bagus, berjuanglah hingga akhir,” ujarnya.

Bidin Supriyono selaku anggota Dewan Pengupahan kota Cimahi dari FSPMI menyampaikan terkait hasil kajian UMSK di kota Cimahi yang telah di munculkan oleh tim pengkajian serta di sampaikan di rapat Dewan Pengupahan Kota (DPK) Cimahi.

Ada 6 sektor unggulan yang di munculkan sebagai bahan perundingan dengan Asosiasi APINDO yaitu antara lain industri penyempurnaan benang/textile, industri kertas, industri kimia, industri cat, industri logam bukan besi, dan industri macam – macam wadah dari logam.

Menurut Bidin, keenam sektor tersebut sudah disepakati oleh Dewan Pengupahan Kota (DPK) Cimahi yang selanjutnya tinggal di rundingkan dengan Asosiasi APINDO atau antara serikat pekerja dan perusahaan,” capnya.

Yayan Mulyana selaku anggota Lembaga Kerja Sama (LKS) Tripartit yang mewakili unsur buruh dari FSPMI berpendapat bahwa saat ini kita sebagai anggota FSPMI tidak lagi selalu menunggu Intruksi pada saat merasa upah kita di perlakukan tidak adil atau di kebiri oleh pengusaha.

” Harus kita lawan dengan pergerakan atau dengan upaya – upaya perundingan bipartit di tingkat perusahaan. Selain itu ketika ada anggota PUK lain sedang tersakiti,maka kita pun harus ikut merasakan kesakitan tersebut agar kita punya rasa solidaritas yang kuat.” ujar Yayan.

” Seperti dalam Pilosofi anggota tubuh kita seperti ketika kaki tersandung dengan otomatis anggota tubuh yang lainpun ikut merasakannya. “Tegasnya.(Drey)

Pos terkait