Cerpen : Jodoh Dari Tuhan

Oleh :Maryam Ete*

“Lani, kau diam! Dan dengarkan aku! Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini, jika kamu ingin menikah silahkan kamu cari yang lain saja dan lupakanlah aku” tut…tut…tut.. telepon terputus.

Bak di sambar petir disiang bolong saat mendengar kalimat itu lewat telepon genggam. Penantian panjang selama tujuh tahun berakhir begitu saja lewat panggilan telepon. Aku kaget dan menangis seperti orang kesurupan. Aku teriak sampai suara ku habis. Aku bingung apa yang harus kulakukan setelah ini. Apa yang akan ku ceritakan kepada keluarga ku dan bagaimana aku akan menghadapinya. Bagaimana aku akan melalui hari-hari ku kedepan yang akan penuh dengan cibiran orang dan rasa malu. Semua berkecamuk dipikiran ku.

Dua bulan lagi adalah hari pernikahan kami yang sudah kami tetapkan. Keluarga kami sudah tahu akan rencana ini, bahkan juga keluarga besar beserta teman-teman ku. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya. Sungguh aku hancur! Aku mengutuk diriku yang bodoh menghabiskan waktu selama ini bersama lelaki pengecut seperti dia. Nasi sudah menjadi bubur tidak bisa kembali menjadi nasi. Sungguh berat rasanya hidupku ini. Aku galau, aku putus asa, aku hancur.

Tiba-tiba suara panggilan HP membangunkanku. Ternyata sudah pagi dan jam menunjukan pukul delapan pagi. Astaga, aku terlambat bekerja. Dan itu telepon dari meja supervisor tempat aku bekerja. Buru-buru ku angkat.

“Halo…” suara dari seberang sana.

“Lani, kamu tidak masuk bekerja hari ini? Kamu sakit atau bagaimana? Karena tidak ada kabar dan tidak tau apa yang harus di bikin di dash board control health check” itu suara Kak Yanti supervisorku ditempat kerja. Di perusahaan aku bekerja ada sebuah system yang dibuat untuk melacak kesehatan karyawan selama pandemic covid-19 ini.

Aku bangkit dari tempat tidur dan melihat wajah ku di cermin. Mata ku bengkak seperti habis kena tonjok. Nggak mungkin dengan wajah seperti ini aku masuk kerja.

“Kak, boleh kah saya mintak cuti untuk hari ini? Saya telat bangun, tapi saya tidak sakit kok” aku mencoba mengajukan cuti kepada supervisor agar bisa beristirahat dulu hari ini. Masih malas mau ngapa-ngapain. Yang sakit bukan fisik, tapi jiwa. Tapi tak mungkin aku sampaikan kepada atasan ku.

“Lani, kamu ini seorang leader lho. Masa iya kamu bisa telat bangun dan meminta cuti mendadak begini”

“Maaf Kak, saya tidak bisa menjelaskan banyak, saya mohon untuk diberi cuti hari ini dan besok. Saya merasa perlu untuk menenangkan diri sejenak. Tiba waktunya nanti saya akan ceritakan apa yang terjadi”

“Ya sudah, tapi ini yang terakhir ya, jangan sampai ini jadi kebiasaan” telepon terputus.
Aku duduk termenung didepan cermin melihat wajahku yang bentuknya tak karuan. Sama halnya dengan hatiku saat ini. Masih ingin meratap lagi, mengingat betapa bodohnya aku selama ini bisa setia sama lelaki pengecut seperti dia. Ingatan ku kemabali lagi pada saat Leo mencampakan aku lewat telepon. Hari itu aku menghubunginya untuk membicarakan segala sesuatu tentang persiapan pernikahan kami yang sudah ditetapkan dua bulan lagi.

Leo pacarku bekerja di Papua sedangkan aku bekerja di kota Batam. Kami sudah berpacaran tujuh tahun lamanya. Walaupun kami LDR, tapi selama ini aku mencoba untuk setia denganya. Kedua keluarga kami juga sudah lama saling kenal.

Kami sama-sama berdarah Batak. Dan begitu banyak proses adat yang akan kami lalui disaat menikah nanti. Wajar donk kalau aku sering menelpon untuk mendiskusikan segala sesuatunya agar saat pernikahan nanti berjalan sempurna. Karena bagiku menikah adalah hal yang sakral dan cukup terjadi sekali seumur hidup.

Karena aku adalah seorang karyawan pabrik, dan bekerja di bagian produksi jadi jam kerja ku ikut shift. Sementara Leo jam kerjanya normal. Jadi aku menghubungi dia siang hari karena kebetulan aku masuk malam.

Entah apa yang merasuki jiwanya hari itu dia marah-marah tidak jelas. Memang biasanya dia kurang semangat juga setiap membahas masalah pernikahan. Tapi tidak sampai marah dan teriak seperti saat itu. Aku tidak tau apa yang terjadi disana. Sampai hari ini tidak ada kabar darinya. Walaupun hanya sekedar pesan WA.

Sebelum Bapaknya meninggal tiga bulan yang lalu, memang Leo ingin menunda pernikahan kami katanya dua tahun lagi baru dia siap untuk menikah. Tapi disaat aku pulang ke kampung halaman Ketika mendapat kabar bahwa bapaknya meninggal, keluarga menyuruh kami untuk segera menikah. Dan langsung mendiskusikan hari, tanggal dan bulanya. Aku sebagai perempuan yang sudah cukup berumur tentu tidak keberatan niat baik itu dipercepat.

Terutama keluarga ku yang memang sudah lama mendesak aku menikah.

Tapi tanpa alasan yang jelas Leo telah memutuskan sepihak. Dan sepertinya dia memang serius tidak ingin menikah dengan ku. Karena dia tidak ada menghubungiku lagi. Aku mencoba menenagkan diri dulu dan berniat untuk tidak memberitahu keluarga dulu. Dua hari cuti aku habiskan dirumah untuk menangis. Menangisi tujuh tahun yang sudah berlalu dengan sia-sia. Umur ku sudah 32 tahun, untuk perempuan bisa dibilang sudah sangat terlambat untuk menikah. Dan tujuh tahun ku sudah sia-sia. Bekerja dipabrik membuat ku lupa untuk mengenal cinta, sekali mengenal cinta berujung sia-sia.

Aku kembali lagi bekerja setelah cuti dua hari. Tapi semangat ku berkurang. Begini rasanya patah hati yang sesungguhnya. Dulu aku pernah pacarana waktu SMA saja. Kata orang itu hanya cinta monyet. Tapi hubungan kami cukup dekat dan masih terbilang ada hubungan keluarga dengan ku. Istilah orang batak itu Pariban. Karena aku merantau ke Batam, jadi aku memutuskan dia. Aku ingin focus bekerja.

Itu alasanku dulu. Aku tidak tau ternyata diputuskan itu sakit rasanya. Apalagi tanpa alasan yang jelas. Hati ku gamang, entah umur berapa jodohku akan dikirim. Walaupun secara finasial aku mapan, tapi aku tetap butuh teman hidup yang bisa berbagi, berjuang bersama membangun sebuah keluarga dan melahirkan anak yang lucu-lucu. Entah kapan itu, batin ku.

Sudah sebulan berlalu semenjak aku diputuskan. Dan sebulan itu aku galau terus dan susah untuk aku sembunyikan. Aku kadang menulis status galau di WA. Aku juga belum ada keberanian untuk memberi tahu keluarga ku. Tiba-tiba malam itu aku mendapatkan pesan dari seseorang yang pernah ada dimasa lalu, yaitu cinta monyet ku, pariban ku.

“Lani, gimana kabrmu sekarang? Apakah kamu baik-baik saja? Aku sering melihat status galau mu di WA, beritahu aku jika kamu butuh sesuatu, atau cerita sama ku jika kamu perlu teman untuk cerita”

Aku amat sangat tersentuh membaca pesan itu, air mata meleleh dipipiku, entah tangisan apa itu. Kami memang masih saling simpan nomor HP. Karena masih keluarga juga hubungan kami masih terjalin baik dari dulu. Setiap natal dan tahun baru dia selalu datang kerumah ku. Dia juga sangat akrab dengan ibu bapak ku. Orangnya pintar ngambil hati orang tua.

“Frans, terimakasih sudah memperhatikan aku dari jauh. Aku memang sedang tidak baik-baik saja”

Aku membalas pesan Frans. Tak lama setelah itu ada panggilan masuk dari Frans. Dan aku tidak bisa sembunyikan apa masalah yang membuat aku galau. Aku ceritakan kepada Frans tentang rencanaku menikah yang kandas dan berakhir begitu saja. Aku juga cerita kalau sudah satu bulan Leo tidak ada kabar dan tidak menghubungi aku. Begitupun aku, tidak mau menghubungi dia duluan karena dia meminta aku melupakanya. Mungkin karena dia orang kaya dan berduit bisa gampang membuang perempuan yang sudah setia menunggu tujuh tahun untuknya. Aku mengabaikan semua laki-laki yang mencoba mendekati ku demi setia denganya. Tapi ternyata Tuhan berkata dia bukan jodoh ku.

Frans mendengarkan aku bercerita Panjang lebar dan sesekali dia menenangkan aku. Lalu kami mengakhiri percapakan kami. Aku merasa sedikit lega telah menumpahkan semua yang ada dibenak ku kepada Frans. Dia sudah menjai tong sampah uneg-uneg ku hari ini. Maafkan aku frans, sekali kita telponan malah kamu harus menjadi pendengar yang baik.
Malam berikutnya aku mendapatkan sebuah pesan yang cukup mengagetkan dari Frans.

“Lani, jika memang kamu serius ingin menikah, ayo kita menikah di hari, tanggal dan bulan yang sudah kamu tentukan. Waktu tidak banyak, dan jangan banyak mikir. Jika kamu bersedia, segeralah urus cuti. Sampai jumpa di kampung halaman kita”

Aku kaget membaca pesan itu, tapi hatiku kok merasa senang dan tidak ada keinginan untuk menolaknya. Aku baca pesan itu berulang-ulang untuk memastikan aku tidak salah. Aku cubit pipiku untuk memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Ternyata itu memang bukan mimpi.

Tuhan, maafkan aku yang sempat kecewa. Ternyata enagkau datangkan pelangi setelah hujan. Memang rencanamu tidak ada yang bisa menebak. Begitu panjang perjalanan cinta ku, ternyata jodohku adalah pariban ku sendiri.

Maryam Ete – Devisi Sastra  Media Perdjoeangan Nasional