Purwakarta, KPonline-Dalam dunia sepak bola, sebuah tim bisa saja membangun serangan dengan begitu meyakinkan. Bola digiring mendekati mulut gawang lawan, tekanan diberikan, peluang diciptakan, dan sorak kemenangan seakan sudah terdengar. Namun, dalam satu momen yang tak terduga, bola justru masuk ke gawang sendiri. Bukan lawan yang mencetak gol, melainkan kesalahan sendiri yang mengubah keadaan.
Begitulah sebuah pelajaran yang sering terjadi dalam sejarah organisasi dan politik. Bukan karena lawan terlalu kuat, tetapi karena strategi yang salah mampu melahirkan luka dari dalam.
Pasca Kongres suatu Serikat Pekerja atau serikat buruh, dinamika internal menjadi perhatian publik. Ali oncom, yang sebelumnya maju sebagai calon Presiden, sebut saja serikat pekerja maju mundur, tidak berhasil memperoleh dukungan mayoritas. Dalam pemungutan suara, dukungan enam Serikat Pekerja Anggota (SPA) mengalir kepada Subagyo, sementara Ali oncom memperoleh dukungan dari satu sektor. Setelah proses kongres, perselisihan pun ternyata berlanjut hingga memasuki jalur hukum.
Namun, sejarah selalu mengajarkan bahwa kekalahan dalam sebuah kontestasi bukanlah akhir. Yang menentukan justru adalah bagaimana seseorang merespons kekalahan itu.
Dalam catatan para ahli strategi, mulai dari pemikir militer Tiongkok kuno Sun Tzu hingga filsuf perang Prusia Carl von Clausewitz, kemenangan bukan semata soal kekuatan, melainkan kemampuan membaca situasi, mengendalikan emosi, dan memilih waktu yang tepat untuk bergerak. Sebab organisasi bukan arena adu otot.
Ia lebih menyerupai permainan catur daripada pertandingan tinju.
Dalam narasi perjuangan, ada kalanya seseorang merasa sedang menciptakan masalah bagi kubu lawan. Padahal, tanpa disadari, yang retak justru rumahnya sendiri.
Laksana sebuah tim yang terlalu percaya diri, menyerang tanpa pertahanan, bermain dengan emosi, seolah unggul dalam segala hal, tetapi lupa menjaga lini belakang.
Akibatnya bukan hanya kehilangan pertandingan. Tetapi juga kehilangan energi. Kehilangan sumber daya. Kehilangan pengaruh.
Dan yang paling berbahaya, kehilangan daya tahan dalam pabrik sehingga Ali Oncom pun dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. “Menciptakan kemelut di daerah kotak penalty lawan, malah bunuh diri ke gawang sendiri. Jelasnya, buka kasus ke pengadilan malah dia yang di PHK dan itulah yang namanya Apes”
Dalam sepak bola modern, pelatih-pelatih besar selalu mengajarkan bahwa serangan terbaik harus dibangun dengan keseimbangan. Klub-klub yang hanya mengandalkan semangat tanpa strategi sering kali tampil meyakinkan di laga awal, tetapi akhirnya runtuh ketika menghadapi tekanan yang lebih besar.
Di situlah makna ungkapan klasik menjadi relevan:
“Tidak semua pertempuran harus dimenangkan dengan amarah. Kadang kemenangan justru lahir dari kemampuan menahan diri.”
Kongres sendiri, sebagaimana dijelaskan dalam berbagai literatur organisasi, merupakan forum tertinggi yang menjadi ruang demokrasi bagi anggota untuk menentukan arah perjuangan bersama. Serikat pekerja Maju Mundur pun menegaskan bahwa kongres menjadi sarana memilih kepemimpinan baru dengan memperkuat solidaritas dan menentukan langkah strategis menghadapi tantangan gerakan buruh Serikat Maju Mundur ke depan.
Karena itu, perlunya saling mengingatkan diantara para pimpinan serikat pekerja bahwa persaingan dalam pemilihan seharusnya tidak berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Sebab jabatan datang dan pergi. Tetapi organisasi harus tetap berdiri. Dalam dunia buruh, kekuatan terbesar bukanlah individu. Melainkan persatuan.
Dan sejarah gerakan buruh di berbagai negara membuktikan bahwa organisasi yang terpecah dari dalam justru lebih mudah dikalahkan dibanding organisasi yang menghadapi tekanan dari luar.
Mungkin itulah mengapa para aktivis pendahulu gerakan selalu berpesan:
“Jangan sampai terlalu sibuk mencari celah di kubu lawan, sementara tembok rumah sendiri dibiarkan retak.”
Karena gol bunuh diri selalu menyakitkan. Bukan hanya karena skor berubah. Tetapi karena seluruh penonton tahu, sebenarnya kekalahan itu bisa dihindari.
Dalam perjuangan, seperti dalam sepak bola, kemenangan bukan hanya soal siapa yang paling keras menyerang.
Melainkan siapa yang paling mampu menjaga keseimbangan, merawat solidaritas, dan memahami bahwa sebuah organisasi tidak dibangun oleh ego, tetapi oleh kebijaksanaan.