Gelombang PHK Terus Berlanjut, Jumlah Pengangguran Dipastikan Meningkat

Gelombang PHK Terus Berlanjut, Jumlah Pengangguran Dipastikan Meningkat

Bekasi, KPonline – Gelombang pemutusan hubungan kerja di pabrik tekstil nasional masih terus berlanjut. Terbaru, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) Ristadi mengungkapkan, ada 4 pabrik tekstil memutuskan menutup operasionalnya.

“Pabrik tekstil terus bertumbangan. Di bulan Mei kemarin, PT Alenatex yang berlokasi di jalan Moh. Toha, Bandung, Jawa Barat tutup. Akibatnya sekitar 700 pekerja kena PHK,” ujar Ristadi.

“Sekarang menyusul PT Kusuma Group yang memiliki 3 perusahaan, menutup pabriknya. Lokasinya di kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Akibat tutup pabrik 1.500-an pekerja kena PHK,” tambahnya.

Dikutip koran perdjoangan (16/6) penyebab tutupnya pabrik tekstil tersebut hingga menyebabkan ribuan pekerja kehilangan pekerjaan adalah efek sepi order.

“Sepi order. Coba produksi sendiri namun tidak laku,” kata Ristadi.

Sebelumnya, KSPN mencatat, sejak awal tahun 2023, setidaknya sekitar 7.200 buruh di 8 perusahaan tekstil telah jadi korban PHK. Di mana, 700-an orang diantaranya terkena PHK karena pabrik tutup.

“Namun, kalau ditotal sejak tahun 2020, jumlah PHK di pabrik-pabrik tempat anggota KSPN sudah mencapai 56.976 orang. Ini total jumlah karyawan kena PHK karena korban 36 perusahaan di Semarang, Pekalongan, Sukoharjo, Magelang, Demak, Karanganyar, provinsi Jawa Barat, dan provinsi Banten,” ungkap Ristadi.

Menurutnya 14 dari 36 pabrik tersebut dilaporkan akhirnya tutup.Sebagai informasi, data itu adalah total PHK sejak tahun 2020 sampai awal tahun 2024. PHK terjadi di pabrik tekstil, garmen, ekspedisi, kulit, mebel, ritel, sepatu, dan sparepart. Lokasinya tersebar di Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Banten.

Pabrik-pabrik itu adalah perusahaan tempat anggota KSPN bekerja. Belum menghitung pabrik lain yang bukan anggota KSPN.

Sementara Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengungkap perilaku sewenang-wenang pengusaha ketika melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kepada karyawan.

Said Iqbal mengatakan, ada pengusaha yang melakukan PHK karyawan dengan sembarangan, yakni hanya melalui pesan WhatsApp (WA).

“Mudah sekarang orang PHK. Pakai WhatsApp bisa PHK. Gila ini negeri. Jahat sekali pengusaha hitam ini,” tegas Iqbal.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa PHK dampak dari kebijakan pemerintah yang salah, upah buruh kecil bahkan di 2024 tidak ada kenaikan sehingga berdampak pada daya beli buruh menurun. “Daya beli masyarakat kelas buruh menurun karena upahnya minus,” pungkasnya (Yanto)