Gaji Buruh “Dianjuk” Buruh Mengamuk

Sukabumi, KPonline -Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat dinanti-nantikan oleh semua orang, khususnya Umat Muslim diseluruh dunia. Tidak terkecuali kaum buruh, dimana Tunjangan Hari Raya (Idul Fitri ; red) sangatlah ditunggu-tunggu dan sangat dinantikan “kehadirannya” pada 2 minggu sebelum Hari Raya Idul Fitri.

Hal ini cukup mudah untuk dimengerti, jika Kaum Buruh sangat mengharapkan dan menantikan Tunjangan Hari Raya. Bagaimana tidak, harga-harga kebutuhan pokok dan harga bahan pangan akan melonjak tidak seperti dihari-hari biasanya. Sehingga, Tunjangan Hari Raya sedikit banyaknya akan menolong Kaum Buruh dalam menghadapi lonjakan harga-harga kebutuhan pokok dan harga-harga bahan pangan lainnya.

Tapi bagaimana jika upah untuk Kaum Buruh “dianjuk” (dihutang; dalam bahasa Sunda red) oleh pengusaha atau pemberi kerja ? Hal inilah yang sedang dirasakan oleh buruh-buruh PT. Sentosa Utama Garmindo (SUG) yang berlokasi di Kampung Caringin Karet RT 04 RW 03 Desa Nyangkowek Kecamatan Cicurug. Mereka dengan terpaksa menggeruduk pabrik dimana mereka bekerja. Kekesalan ratusan buruh garmen tersebut memuncak setelah pihak perusahaan telat membayarkan upah mereka pada bulan ini.

Berdasarkan informasi dan berita yang dilansir RadarSukabumi.com dan pantauan Media Perdjoeangan, setelah buruh-buruh tersebut melakukan mediasi dengan pihak perusahaan yang dikawal oleh pihak kepolisian, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Sukabumi dan Satuan Polisi Pamong Praja, akhirnya tuntutan buruh-buruh garmen tersebut akan dikabulkan oleh pihak perusahaan dengan membayarkan gaji berikut Tunjangan Hari Raya tahun ini.

Pengakuan dari salah seorang buruh perempuan PT. Sentosa Utama Garmindo, yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, “Upah pabrik garmen itu seharusnya diberikan pihak perusahaan pada 15 Mei 2018 yang lalu. Akan tetapi, pihak perusahaan malah menawarkan pinjaman sebesar Rp.500.000; kepada masing-masing buruh untuk menutupi kebutuhan selama bulan Ramadhan, sehingga membuat buruh-buruh di pabrik garmen tersebut berontak dan melakukanAyah aksi.

” Kami hanya ingin agar upah yang biasanya dibayarkan setiap tanggal 15 tetap dibayarkan. Sebelumnya pihak perusahaan hanya menjanjikan saja sehingga berujung pada aksi ini” lanjut buruh perempuan tersebut.

Jika kedepannya nanti perusahaan melakukan kesalahan yang sama lagi, dari pihak buruh-buruh PT. Sentosa Utama Garmindo tidak akan segan-segan untuk kembali melakukan aksi protes. Pasalnya, kejadian dan kesalahan yang serupa kerap kali terjadi di perusahaan ini.