Dua Tahun PIJAR: Terus Menyala di Tengah Perjuangan Kelas Pekerja

Dua Tahun PIJAR: Terus Menyala di Tengah Perjuangan Kelas Pekerja

Oleh: Kahar S. Cahyono

Juni, bulan yang membawa makna tersendiri. Di dalamnya, ada tanggal 10 yang memancarkan kenangan dan harapan. Hari itu, di Pusdiklat FSPMI, Bogor, Persatuan Jurnalis Rakyat (PIJAR) resmi berdiri.

Bacaan Lainnya

Pada tempat di mana dedikasi dan perjuangan bersatu, inagurasi Pijar berlangsung dengan semangat. Saya ingat, malam itu, dalam balutan kabut dan rintik hujan, semangatnya menyala seperti matahari, membangun mimpi dan tekad untuk kemenangan kelas pekerja.

Dua tahun berlalu, namun setiap detik dari hari itu terus menggema. PIJAR, seperti namanya, menjadi cahaya yang tak pernah padam, menerangi setiap sudut perjuangan dengan keberanian dan dedikasi. Juni, kini, menjadi tak sama lagi. Ia menjadi sebagai bulan yang memiliki berjuta arti.

Sebagai organisasi sayap Partai Buruh, PIJAR tak sekadar lahir, tetapi juga menjadi simbol perjuangan kelas pekerja, menggenggam erat misi untuk mewujudkan negara sejahtera.

Dalam dua tahun perjalanan, PIJAR mengalami berbagai suka dan duka. Ada tawa bahagia yang membahana ketika tugas berhasil ditunaikan, menjadi saksi bisu tentang bagaimana kelas pekerja membangun alat politiknya sendiri – Partai Buruh.

Setiap cerita yang terungkap, setiap kata yang tertulis, setiap video yang diunggah, menjadi cermin atas dedikasi mereka untuk menyuarakan suara yang selama ini terpendam.

Namun, tak semua hari berjalan mulus. Ada masa-masa kelabu, ketika lelah memadamkan semangat yang telah dinyalakan.

Ada yang memilih pergi, tak mampu menahan beratnya beban perjuangan. Namun, lebih banyak lagi yang tetap setia, mereka yang percaya bahwa cahaya PIJAR harus tetap menyala, apa pun yang terjadi, bahkan ketika tak lagi terbit matahari.

Di antara mereka yang bertahan, ada cerita tentang keberanian yang luar biasa. Bagaimana mereka membagi waktu, bekerja dengan peralatan seadanya, menembus dinding-dinding ketidakadilan, mengangkat suara-suara yang selama ini terpendam.

Kadang saya berfikir untuk menghindari menjadi tim media saat ada kegiatan apa pun. Sebelum acara, musti bikin flayer, poster, nulis rilis, undang jurnalis, nyiapin tetek bengek yang lain. Di hari H, musti standby bikin dokumentasi, entah dalam bentuk tulisan, foto, atau video. Acara yang berjalan nggak bisa diulang.

Begitu acara selesai bisa selonjoran? Tidak. Karena pekerjaan yang sesungguhnya justru sedang dimulai. Bikin artikel, nulis berita, ngedit video, upload foto, dsb. Semua ini nggak bisa sambil leha-leha karena berkejaran dengan waktu. Telat tayang sudah basi.

Setiap langkah yang mereka ambil adalah bagian dari perjalanan panjang untuk memastikan bahwa keadilan tidak hanya menjadi mimpi, tetapi juga kenyataan.

Saya menaruh harapan besar, PIJAR akan terus menjadi lentera di tengah kegelapan, menerangi jalan bagi mereka yang memperjuangkan masa depan. Di bawah langit yang sama, dengan semangat yang terus menyala, kita akan terus melangkah bersama, mengukir sejarah dengan keberanian dan keyakinan.

PIJAR akan selalu ada untuk menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara. Karena pada akhirnya, setiap perjuangan adalah tentang cinta, dedikasi, dan keyakinan bahwa masa depan yang lebih baik selalu mungkin untuk dicapai. Di bawah bendera Partai Buruh, PIJAR berdiri tegak, menatap hari esok dengan penuh keyakinan.

Dan di sinilah kisah itu berlanjut, sebuah kisah tentang keberanian dan harapan. Dua tahun sudah usianya, cahayanya terus menyala, menerangi langkah-langkah perjuangan menuju terwujudnya negara kesejahteraan.

Kahar S. Cahyono, Wakil Presiden FSPMI & KSPI, Ketua Bidang Infokom dan Propaganda Partai Buruh