DPP FSPMI Bahas PO Organisasi, Sabilar Rosyad Tekankan Keseragaman Aturan hingga Struktur Bawah

DPP FSPMI Bahas PO Organisasi, Sabilar Rosyad Tekankan Keseragaman Aturan hingga Struktur Bawah

Jakarta, KPonline-Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPP FSPMI) kembali memperkuat fondasi tata kelola organisasi. Bertempat di Kantor DPP FSPMI lantai 3 Rabu 9/9/2026, digelar rapat pembahasan Peraturan Organisasi (PO) FSPMI yang dipimpin Sekretaris Jenderal FSPMI, Sabilar Rosyad, bersama para perwakilan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Anggota (PP SPA) FSPMI.

Pembahasan PO bukan sekadar agenda administratif. Regulasi internal tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan seluruh struktur FSPMI memiliki pedoman yang sama dalam menjalankan roda organisasi.

PO FSPMI pada prinsipnya merupakan aturan pelengkap Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Jika AD/ART menjadi landasan utama organisasi, maka PO memberikan pengaturan yang lebih teknis mengenai bagaimana ketentuan organisasi dijalankan dalam praktik.

Karena itu, ruang lingkup PO menyentuh berbagai aspek kehidupan organisasi, termasuk mekanisme permusyawaratan, tata kelola organisasi, pembidangan tugas, administrasi, kewajiban organisasi, serta hubungan kerja antartingkatan struktur.

Pengaturan tersebut menjadi penting karena FSPMI memiliki struktur organisasi yang berjenjang, mulai dari Pimpinan Unit Kerja (PUK), Pimpinan Cabang (PC), DPW/KC, PP SPA hingga DPP FSPMI, termasuk bidang dan pilar yang berada di dalam struktur organisasi.

Satu Aturan, Satu Gerak Organisasi
Salah satu persoalan yang hendak dijawab melalui penguatan PO adalah bagaimana memastikan seluruh struktur organisasi tidak berjalan dengan tafsir dan standar masing-masing.

Keseragaman aturan menjadi kunci. Ketika aturan organisasi diterjemahkan secara berbeda di setiap tingkatan, potensi terjadinya perbedaan pemahaman mengenai kewenangan, mekanisme pengambilan keputusan, maupun tata kelola administrasi dapat muncul.

Sebaliknya, aturan yang jelas dan dipahami bersama dapat menjadi rambu bagi setiap struktur dalam menjalankan tugas dan kewenangannya.

Dalam konteks tersebut, pembahasan PO menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih tertib, disiplin, dan memiliki kepastian dalam menjalankan mekanisme internal.

Bukan Hanya Soal Administrasi
Penguatan tata kelola internal pada akhirnya berkaitan langsung dengan kemampuan organisasi dalam menjalankan fungsi perjuangannya.

Organisasi buruh tidak cukup hanya memiliki kekuatan massa. Dibutuhkan pula sistem organisasi yang solid, administrasi yang tertib, pembagian tugas yang jelas, serta mekanisme pengambilan keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan tata kelola yang kuat, konsolidasi organisasi diharapkan dapat berjalan lebih efektif, termasuk ketika menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan dan melakukan advokasi terhadap kepentingan anggota.

Di titik inilah PO memiliki posisi strategis. Aturan bukan dibuat untuk membebani struktur, melainkan menjadi rambu agar kewenangan, tanggung jawab, dan mekanisme kerja organisasi dapat berjalan secara terukur.

Menyiapkan Organisasi Menghadapi Tantangan ke Depan
Pembahasan PO juga menjadi bagian dari kebutuhan untuk memastikan perangkat organisasi tetap relevan menghadapi perkembangan tantangan perjuangan pekerja.

Dinamika hubungan industrial, perubahan kebijakan ketenagakerjaan, perkembangan industri, serta kebutuhan anggota yang terus berkembang menuntut organisasi memiliki sistem internal yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip dan garis organisasi.

Namun, pekerjaan tidak berhenti pada penyusunan aturan.

Tantangan berikutnya justru berada pada implementasi. Sebaik apa pun sebuah PO disusun, aturan tersebut tidak akan memiliki arti apabila tidak dipahami dan dijalankan secara konsisten oleh seluruh jajaran organisasi.

Karena itu, pembahasan PO di tingkat DPP bersama PP SPA menjadi momentum untuk menyamakan persepsi sekaligus memperkuat komitmen agar aturan organisasi dapat menjadi pedoman bersama.

Pada akhirnya, kekuatan sebuah organisasi bukan hanya diukur dari seberapa besar jumlah anggotanya, tetapi juga dari seberapa tertib organisasi itu mengelola kewenangan, menjalankan keputusan, dan menjaga disiplin terhadap aturan yang telah disepakati.

Pembahasan PO FSPMI menjadi salah satu bagian dari proses tersebut: membangun aturan yang jelas, menyatukan gerak organisasi, dan memastikan seluruh struktur memiliki pijakan yang sama dalam menjalankan perjuangan.