Didi Suprijadi, HOS Tjokroaminoto, dan Pembebasan Kaum Tertindas

Ketua PB PGRI Didi Suprijadi

Jakarta, KPonline – Membandingkan Didi Suprijadi dan HOS Tjokroaminoto barangkali terlalu berlebihan. Tetapi, memang, tulisan ini bukan untuk membandingkan keduanya. Hanya ingin menjelaskan, bahwa diantara keduanya ada satu irisan yang sama.

HOS Tjokroaminoto dikenal sebagai guru bangsa. Sejalan dengan itu, Didi Suprijadi juga seorang guru. Laki-laki bertitel doktor ini seorang dosen di UIN Syarif Hidayatulah, Jakarta.

Bacaan Lainnya

Seperti halnya Tjokro, sejak muda, Didi juga aktif dalam pergerakan. Ia pernah aktif Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan saat ini sebagai Wakil Sekretaris Dewan Pakar Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (KAHMI) DKI Jakarta. Selain itu, ini yang kemudian saya sebut antara Didi Suprijadi dan HOS Tjokroaminoto berada dalam satu irisan yang sama, Ketua PB PGRI ini adalah Wakil Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam Indonesia.

Syarikat Islam dahulu bernama Sarekat Dagang Islam (disingkat SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada tanggal 16 Oktober 1905. Misi persatuan dan kesejahteraan bersama menjadi bara api yang menggerakkan para pelaku ekonomi yang berbasis rakyat. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, SDI tampil menjadi kekuatan baru yang diperhitungkan tertama oleh para pelaku ekonomi asing di Nusantara.

Ketika HOS Tjokroaminoto memimpin, nama Sarekat Dagang Islam (SDI) diubah menjadi Sarekat Islam (SI). Hal ini dilakukan agar organisasi tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang lain seperti politik. Memang, antara politik dan ekonomi tidak dapat dipisahkan. Ketidakadilan ekonomi seringkali lahir dari kebijakan politik yang tidak adil, menguntungkan sebahagian rakyat dan merugikan sebahagian lainnya. Demikian sebaliknya, kekuatan ekonomi dan finansial memiliki pengaruh kuat dan menentukan bagi kebijakan politik.

Langkah konkret dalam politik tercermin, ketika Didi Suprijadi diminta untuk maju dalam pemilihan legislatif tahun 2019 untuk DPR RI dari daerah pemilihan Jakarta Timur melalui Partai Gerindra.

Sebagai Wakil Presiden Lajnah Tanfidziah Syarikat Islam Indonesia, tidak berlebihan jika Didi Suprijadi banyak bersentuhan dengan HOS Tjokroaminoto, sebagai salah satu orang yang pernah memimpin SI. Dan karenanya, tidak heran jika Didi memiliki naluri yang kuat dalam memperjuangkan pembebasan kaum yang tertindas.

Hal ini terlihat, salah satunya, pria yang akrab disapa Ayah Didi ini lantang menyuarakan nasib honorer.  Para honorer adalah orang-orang yang tertindas. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mengabdi lebih dari 15 tahun dengan gaji kurang lebih 300 ribu, tetapi tidak juga diangkat sebagai PNS.

Selain itu, Didi juga aktif menyebarkan prinsip-prinsi serikat pekerja di kalangan guru. Apalagi ia juga diberi amanah sebagai Ketua Majelis Nasional KSPI, sebuah konfederasi serikat pekerja yang vokal melawan ketidakadilan.

“Sosialisme religis,” demikian kata Didi ketika dihubungi Redaksi Koran Perdjoeangan. Kata sosialisme religus ini mengutip pernyataan HOS Tjokoroaminoto, yang menjelaskan sosialisme religius sebagai pengakuan terhadap nilai-nilai sosialisme, seperti keadilan social, kesetaraan dan egalitarianisme, dan anti kapitalisme, tetapi mendasarkan diri kepada ajaran-ajaran islam; pengakuan eksistensi tuhan, sifat-sifat ketuhananan, dan ajaran kitab suci.

 

Pos terkait