Diantara 2 Pasar: Anyar dan Citeureup

Bogor, KPonline РDi pojokan terminal pasar Anyar, dekat tempat pembuangan sampah, Asep dan kawan-kawannya yang sesama sopir angkot melepaskan lelah setelah seharian narik. Duduk di dekat pembuangan sampah yang mengeluarkan bau menyengat, barangkali sudah menjadi rutinitas bagi sopir-sopir yang lain. Tetapi tidak bagi Asep.

Asep yang merupakan “putra daerah” Bogor ini sebelumnya juga bekerja di belakang kemudi. Tetapi bukan pengemudi angkutan kota seperti profesinya saat ini. Melainkan sopir mobil SUV yang senantiasa mengantarkan dirinya dari rumah menuju kantor tempatnya bekerja. Mobil ini juga yang sering membawa Asep dan keluarga kecilnya berlibur ke tempat-tempat wisata di setiap akhir pekan.

Sebagai buruh pabrik di sebuah perusahaan manufaktur yang cukup bonafide di wilayah Bogor, Asep termasuk buruh yang cukup beruntung. Mempunyai jabatan dan upah yang jauh di atas UMK Bogor dan masa depan yang membanggakan. Setidaknya jika dilihat dari sudut pandang calon mertua di awal 90-an. Tidak mengecewakan.

Meski memiliki posisi dan upah yang lumayan besar, Asep bersedia menjadi salah satu pengurus serikat pekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Beda dengan kebanyakan orang. Baru berposisi leader saja, sudah belagu. Gayanya sudah seperti yang punya perusahaan.

Tak terhitung jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun sudah dia mengabdikan dirinya untuk perusahaan dan serikat pekerja. Hanya ada satu hal yang selalu terpatri dalam hati dan pikirannya, yaitu menjadi buruh yang baik dalam memberikan kontribusi untuk perusahaan dimana dia bekerja serta bahu membahu bersama kawan-kawan di serikat pekerja agar keadilan dan kesejahteraan buruh tercapai.

Hingga akhirnya…

Datanglah waktu yang hampir pasti akan dialami setiap buruh. Apalagi kalau bukan, PHK.

Situasi dan kondisi perusahaan semakin tidak menentu. Order perusahaan yang semakin menurun seiring menurunnya daya beli buruh dan masyarakat. Tidak ada pilihan lain selain melakukan efisiensi dan pengurangan jumlah buruh yang efektif bekerja.

Pihak manajemen perusahaan dan pihak serikat pekerja berunding, mencari jalan keluar yang terbaik agar tidak terjadi PHK massal di perusahaan tersebut. Tetapi apalah daya, setelah melalui perundingan demi perundingan, akhirnya pihak perusahaan “angkat tangan” dan menyatakan tidak ada pilihan lain selain menutup pabrik.

Sebagai pengurus serikat pekerja, Asep bersikap tegar. Meskipun sebenarnya “kerapuhan bercampur dengan kesedihan” selalu menyelimuti hati dan pikirannya.

Ya, tegar dan tenang dalam menghadapi setiap masalah adalah suatu keharusan yang ada dalam setiap diri pemimpin. Tak terkecuali pemimpin serikat pekerja. Meskipun teriris-iris hingga tak mampu untuk menangis, ketegaran dan ketenangan harus tetap terjaga agar anggota tidak bertambah panik.

Hingga akhirnya, waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dengan terpaksa dan berat hati, pihak manajemen perusahaan mengumumkan proses PHK terhadap seluruh buruh yang ada diperusahaan tersebut.

Bermacam-macam ekspresi diperlihatkan oleh setiap orang dalam perusahaan tersebut. Ada yang memang sedang menunggu-nunggu proses tersebut, tapi banyak pula yang enggan bahkan tidak menerima keadaan dan kenyataan yang sudah terjadi.

***

Ach, itu hanya masa lalu yang cukup untuk di kenang dan mejadi pelajaran. Bahwa sebaik apapun posisi kita di tempat kerja, PHK adalah sebuah keniscayaan.

Bagaimanapun, Asep merasa beruntung memiliki serikat pekerja saat perusahaan tutup. Dengan ini, buruh memiliki alat untuk berjuang demi mendapatkan hak-haknya.

Hingga tibalah pada hari ini. Di siang yang terik, di pojokan terminal Pasar Anyar dekat tumpukan sampah, Asep menghitung uang tarikan dari angkot yang ia kemudikan.

Seperti biasa, ditemani segelas kopi hitam dan rokok kretek kesukaannya. Hanya 178.000 rupiah yang ia dapat seharian ini, itu artinya hanya 78.000 rupiah yang bisa ia bawa pulang. Karena 100.000 rupiah harus ia setorkan ke Tauke, si empunya angkot.

Apakah ia mengeluh hanya membawa pulanh 78.000 rupiah setelah sehatian bekerka? Tidak. Asep sadar, itulah rezeki yang ia peroleh hari ini.

Perasaan seperti itulah yang membuat pilirannya menjadi lapang. Apapun yang terjadi hari ini dan esok hari adalah Kuasa Illahi.

Asep teringat dengan kata-kata dari Abah Sakri, seorang pengepul botol plastik kemasan di Pasar Citeureup yang dimasa muda pernah mengalami pasang surut kehidupan. Dari seorang pemabuk hingga pernah menjadi supir truk, pernah menjadi kondektur sampai pernah mencicipi bagaimana rasanya menjadi seorang direktur. Abah Sakri menjalaninya dan mengalir begitu saja, tanpa harus mengeluh dan berputus asa.

Jang (dari kata Ujang dalam bahasa Sunda yang artinya pemuda atau anak muda), hirup mah keudah ikhlas. Ulah ngeluh wae (hidup itu harus ikhlas. Jangan mengeluh terus),” ujarnya sambil merapikan botol-botol plastik yang telah ia kumpulkan seharian ke dalam karung plastik besar.

Hirup mah keudah ikhlas, lamun tos teu ikhlas naha anjeun hirup.” (Hidup itu harus ikhlas. Kalau sudah tidak ikhlas. Terus buat apa kamu hidup.)

Entah apa arti dan maksud dari kata-kata tersebut. Yang pasti kata-kata tersebut membuat sembab mata Asep dan akhirnya meneteskan titik-titik air mata kepedihan yang selama ini ia pendam.

Penulis : Rinto Dwi Wahana, Koordinator Media Perdjoeangan Daerah Bogor