Jakarta, KPonline – Upaya membangun komunikasi dua arah antara buruh dan perusahaan terus didorong. Bertempat di Vasaka Hotel Jakarta, Jumat 19 Juni 2026, digelar Dialog Terbuka Pimpinan Serikat Pekerja/Serikat Buruh dengan Pimpinan PT IMIP Morowali.
Dialog ini jadi ruang temu langsung antara perwakilan pengurus serikat pekerja dan jajaran manajemen kawasan industri terbesar di Sulawesi Tengah itu. Tujuannya satu menyamakan persepsi sebelum masuk perundingan Perjanjian Kerja Bersama.
Dari unsur serikat pekerja hadir perwakilan :
1. Federasi Pertambangan dan Energi (FPE)
2. Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI)
3. Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan FSPMI (SPLP FSPMI)
Dari pihak perusahaan hadir perwakilan manajemen PT IMIP Morowali. Kehadiran kedua belah pihak jadi bukti niat baik buat ngobrol kepala dingin, bukan saling serang.
Dalam sambutannya, Ketua Umum Federasi Pertambangan dan Energi (FPE), Nikasi Ginting menegaskan dialog terbuka ini harus jadi jembatan.
“Dialog terbuka diharapkan menjadi sarana menjalin komunikasi antara serikat pekerja dan manajemen kawasan Industri IMIP menuju perundingan PKB yang seimbang dan berkeadilan,” ujarnya.
Senada dengan ketua Umum FPE, Riswan selaku moderator berharap forum ini melahirkan komunikasi yang efektif.
“Melalui dialog ini bisa mewujudkan arah komunikasi yang efektif sehingga kelangsungan usaha dan kesejahteraan pekerja terwujud. Dua hal itu nggak bisa dipisah perusahaan jalan, pekerja sejahtera,” kata dia.
Respon positif datang dari pihak perusahaan. Mendatu, perwakilan manajemen IMIP menyambut baik kegiatan ini. Ia menyoroti perubahan sosial Morowali 10 tahun terakhir yang berdampak langsung ke ketenagakerjaan.
“Lonjakan penduduk di Morowali sangat signifikan. Awalnya hanya hitungan ribuan kemudian 10 tahun berikutnya menjadi ratusan ribu sehingga menjadi permasalahan yang harus diperhatikan,” kata Pak Datu.
Ia menambahkan, manajemen berkomitmen agar pertumbuhan industri juga dibarengi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pekerja.
Dialog jadi menarik karena banyak masukan konkret dari serikat terkait substansi yang perlu dimasukkan dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang akan dinegosiasikan Agustus 2026. Isu upah, status kerja, K3, cuti, RP3 sampai jenjang karir jadi catatan awal.
Dengan forum dialog terbuka seperti ini, diharapkan saat masuk perundingan PKB nanti, kedua pihak udah punya peta masalah yang sama dan tidak ada lagi miskomunikasi, yang ada solusi bersama.
Dialog ini jadi langkah awal penting karena hubungan industrial yang sehat lahir dari dialog, bukan dari saling menutup pintu. (Yanto)