Dengan Jual Kaos, FSPMI Gresik Bisa Beli Mobil Komando

  • Whatsapp

Gresik, KPonline – “FSPMI Gresik sudah memiliki mobil kamando lengkap dengan soundsistem,” katanya. Kemarin sore, sambil minum kopi di sebuah cafee yang terletak di seberang sekretariat KC FSPMI Gresik, dia bercerita.

“Bagaimana caranya?” Kata saya.

Bacaan Lainnya

“Koperasi.” Jawabnya. Cepat. Penuh antusias. “Maksudnya menggunakan sistem koperasi.”

Kemudian dia menceritakan, saat May Day kemarin seluruh anggota FSPMI Gresik diwajibkan untuk membeli kaos May Day yang disediakan oleh KC FSPMI Gresik. Karena setiap May Day biasanya setiap PUK membuat kaos sendiri-sendiri. Melihat potensi itu, kemudian dikoordinir. Dari keuntungan penjualan kaos inilah, mereka bisa membelikan mobil komando.

Saat pembelian soundsistem untuk perlengkapan mobil komando, mereka juga melakukan cara yang sama. Kali ini dengan penjualan kalender. Keuntungannya bukan untuk pribadi, tetapi untuk organisasi.

“Pokoknya semua orientasinya harus pada penguatan serikat pekerja. Pembelian atribut organisasi jangan digunakan sebagai bisnis satu dua orang,” katanya. Kemudian dia melanjutkan, “Coba kalau dalam skala nasional atribut FSPMI dikelola oleh Inkopbumi. Itu dahsyat.” Inkobmuni adalah Induk Koperasi Buruh Metal Indonesia, salah satu pilar FSPMI.

Apa yang dilakukan FSPMI Gresik membuktikan, betapa jika dikelola dengan baik, kaum buruh memiliki potensi yang hebat. Gresik memang bukan yang pertama melakukan cara-cara seperti ini. Tetapi, setidaknya, ia membuktikan untuk yang kesekian kalinya tentang kehebatan kaum buruh jika diorganisir dengan baik. Bagi daerah lain, tidak ada salahnya untuk mencontoh.

Beberapa tahun sebelumnya, anggota PUK SPL FSPMI Smelting juga patungan untuk membeli gedung yang kini digunakan untuk Sekretriat KC FSPMI dan LBH FSPMI Gresik. Sekitar dua tahun lalu, gedung ini dibeli dengan harga sekitar 700 juta. Sekarang kalau dijual harganya sudah mencapai 1,3 milyar. Ketika itu perjuangan mereka berhasil dan mendapatkan rapelan. Organisasi meminta anggota untuk menyisihkan sebagian yang kemudian dipergunakan untuk membeli asset. Gedung itu milik seluruh anggota.

Salah satu pengurus PUK FSPMI Smelting, Ruston mengatakan, asset PUK saat ini berjumlah sekitar 10 milyar. Padahal anggotanya hanya berjumlah 300 orang. Dengan kekuatan pendanaan seperti ini, organisasi menjadi kuat dan semakin energik dalam melakukan kerja-kerja pembebasan. (*)

Pos terkait