Demi Nasi di Meja Makan Keluarga, Ratusan Buruh PT PAKERIN Bertahan dalam Perjuangan

Demi Nasi di Meja Makan Keluarga, Ratusan Buruh PT PAKERIN Bertahan dalam Perjuangan

Surabaya, KPonline – Lebih dari 100 pekerja yang tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT PAKERIN menggelar aksi di salah satu rumah yang berada di Jalan Sumatra, Kota Surabaya, pada Sabtu (30/05/2026). Rumah tersebut diketahui merupakan kediaman salah satu petinggi PT PAKERIN yang berinisial “D”.

Massa aksi yang mayoritas merupakan anggota FSPMI PT PAKERIN dan berdomisili di Desa Bangun, Kecamatan Pungging, Kabupaten Mojokerto, telah bertahan sejak Kamis (28/05/2026). Hingga hari ketiga pelaksanaan aksi, para pekerja menyatakan akan terus bertahan sampai persoalan pembayaran upah dan Tunjangan Hari Raya (THR) yang belum terselesaikan mendapatkan kepastian.

Dalam aksinya, para pekerja menuntut agar dana Rp. 82 miliar segera digunakan untuk membayarkan hak-hak pekerja. Dana tersebut, sesuai hasil kesepakatan para pihak pada Maret 2026, diperuntukkan untuk pembayaran upah pekerja bulan Januari dan Februari 2026 serta THR tahun 2026.

Berdasarkan informasi yang diterima, menjelang Idulfitri 2026, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) telah mencairkan dana sekitar Rp. 82 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pembayaran upah pekerja periode Oktober, November, dan Desember 2025, serta Januari dan Februari 2026 berikut THR.

Namun, realisasi pembayaran hingga saat ini baru mencakup upah bulan Oktober, November, dan Desember 2025. Sementara itu, upah bulan Januari dan Februari 2026 serta THR 2026 disebut belum diterima oleh para pekerja hingga akhir Mei 2026.

Salah satu pekerja PT PAKERIN, M. Slamet, yang terus mengawal aksi sejak hari pertama, menyampaikan bahwa perjuangan yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan pekerja semata, melainkan juga untuk ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan tersebut.

“Perjuangan ini bukan hanya tentang hak pekerja, tetapi juga tentang harapan ribuan keluarga PT PAKERIN yang setiap malam mendoakan kesehatan dan keselamatan para pekerja yang sedang berjuang,” ujar Slamet.

Ia juga menegaskan bahwa para pekerja akan tetap bertahan sampai hak-hak mereka benar-benar dibayarkan.

“Kami tidak akan pulang sebelum upah dan THR dibayarkan. Sebelum ada pemberitahuan masuknya pembayaran ke rekening teman-teman pekerja, kami akan terus bertahan dan memperjuangkan hak kami,” tegasnya.

Aksi tersebut menjadi gambaran besarnya harapan para pekerja terhadap penyelesaian persoalan yang telah berlangsung selama berbulan-bulan. Bagi para pekerja, pembayaran upah dan THR bukan sekadar kewajiban perusahaan, melainkan sumber penghidupan bagi ribuan keluarga yang bergantung pada keberlangsungan pekerjaan mereka.

Sampai berita ini diturunkan ratusan massa masih bertahan di depan kediaman “D” Sampai pembayaran upah dan THR 2026 dibayarkan.