Jakarta, KPonline-Forum Pendidik Tenaga Honorer Swasta Indonesia (FPTHSI) bersama Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (FSP FARKES KSPI) menggelar sosialisasi bahaya asbes (asbestos) bertajuk “Kenali Bahayanya, Lindungi Diri dan Keluarga” pada Sabtu (11/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di Rumah Honorer atau Rumah Kaum Jayakarta ini menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap ancaman kesehatan akibat paparan asbes.
Sosialisasi tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari tenaga pendidik, aktivis serikat pekerja, pemerhati kesehatan, hingga pegiat lingkungan. Melalui kegiatan ini, panitia ingin memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai bahaya asbes serta pentingnya langkah-langkah pencegahan untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Acara dibuka oleh Ketua Umum FPTHSI, Hamdi Zaenal, Presiden FSP FARKES KSPI, Idris Idham, serta Wakil Presiden KSPI, Kahar S. Cahyono. Dalam sambutannya, para pimpinan organisasi menegaskan bahwa edukasi mengenai bahaya asbes harus terus diperluas karena masih banyak masyarakat yang belum memahami dampak jangka panjang dari paparan material tersebut.
Mereka juga menekankan bahwa perlindungan terhadap kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara organisasi masyarakat, serikat pekerja, dunia pendidikan, dan pemerintah dinilai menjadi kunci dalam membangun budaya keselamatan dan kesehatan yang lebih kuat di Indonesia.
Keynote speech disampaikan oleh Dr. H. Didi Suprijadi, M.M., Dewan Pembina FPTHSI, anggota Majelis Pertimbangan Organisasi (MPO) KSPI, sekaligus pegiat lingkungan di Kelompok Tani Hutan Rumah Kaum Jayakarta. Dalam paparannya, ia mengingatkan bahwa pembangunan yang berkelanjutan harus selalu mengedepankan keselamatan manusia dan kelestarian lingkungan.
Menurut Dr. Didi, penggunaan material yang berpotensi membahayakan kesehatan, seperti asbes, perlu terus dikurangi melalui edukasi yang masif serta mendorong penggunaan bahan bangunan yang lebih aman. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memiliki kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas hidup generasi mendatang.
Agenda utama sosialisasi disampaikan oleh Sekretaris Jenderal FSP FARKES KSPI, Siswo Darsono. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan berbagai risiko kesehatan akibat paparan serat asbes, mulai dari penyakit paru kronis, kanker paru, hingga mesothelioma. Ia menegaskan bahwa penyakit akibat asbes umumnya memiliki masa laten yang panjang sehingga gejalanya sering kali baru muncul bertahun-tahun setelah seseorang terpapar.
Siswo juga mengingatkan pentingnya penerapan prinsip keselamatan dan kesehatan kerja (K3), terutama bagi para pekerja yang masih berpotensi bersentuhan dengan material yang mengandung asbes. Menurutnya, edukasi yang berkelanjutan menjadi langkah strategis untuk mencegah bertambahnya korban akibat paparan asbes di masa mendatang.
Selanjutnya, Prof. Agus Kusman dari FPTHSI memaparkan pentingnya peran dunia pendidikan dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai bahaya asbes. Ia menilai sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan memiliki peran besar dalam menanamkan budaya hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan sejak usia dini.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Aisyah Fauziah sebagai perwakilan Training Trainer Module (TTM) KSPI serta Rizka Septiana sebagai perwakilan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) KSPI. Kehadiran keduanya memperkuat sinergi lintas program di lingkungan KSPI dalam mengembangkan edukasi keselamatan dan kesehatan kerja yang inklusif, partisipatif, serta mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Melalui kegiatan bertema “Kenali Bahayanya, Lindungi Diri dan Keluarga”, FPTHSI dan FSP FARKES KSPI berharap masyarakat semakin memahami risiko penggunaan asbes, mampu mengenali potensi bahayanya sejak dini, serta menerapkan langkah-langkah pencegahan untuk melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar.
Sosialisasi ini menjadi bukti nyata komitmen FPTHSI dan FSP FARKES KSPI dalam memperkuat kolaborasi antara organisasi profesi, serikat pekerja, komunitas pendidikan, dan pegiat lingkungan. Diharapkan gerakan edukasi mengenai bahaya asbes terus berkembang menjadi gerakan bersama di berbagai daerah, sehingga tercipta lingkungan kerja dan lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, berkelanjutan, serta bebas dari ancaman paparan asbes bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.