Cerpen : Perempuan Pembuat Mendung

  • Whatsapp

Batam masih saja panas siang ini . Tidak ada hujan yang turun. Jika pun ada, hanya sesekali. Pepohonan tampak cokelat karena kurang air. Banyak daun yang berguguran. Rumput di depan gerbang itupun berwarna cokelat.

Perempuan itu bekerja di sebuah perusahaan elektronik yang ada di Batam.
Sejak yang aku tahu, dia anak yang rajin dan tekun bekerja. Selain itu dia juga rajin menabung dan pintar mengatur keuangan.

Di Batam, aku sering melihat cewek tomboy dan lesbian. Tetapi dia berbeda dengan kebanyakan perempuan tomboy yang lain. Tergabung dengan geng motor, suka ngebut di jalanan, tetapi tetap rajin sholat.

Anaknya manis dan murah senyum. Aku sempat memgagumi kepribadiannya. Tetapi kekaguman itu mendadak sirna. Satu peristiwa telah menghancurkan rasa simpatikku padanya. Kepercayaan dan kekaguman itu berubah menjadi benci.

Aku sangat membencinya, saat mengetahui jika dia menyukai sahabatku sendiri, yang juga perempuan.

Ternyata kamu tidak ada bedanya dengan mereka. Mungkin disini sahabatku juga salah. Aku tidak mengatakan hanya dirinya yang salah. Tapi tetap saya membenci kamu. Karena sebelumnya terlalu besar rasa sayang dan kagumku akan kepribadianmu itu.

Awal aku tahu tentang fakta itu, sebenarnya aku tak lantas membencimu. Aku nasehati kalian. Aku buka mata kalian kalau itu perbuatan yang dilaknat Allah. Lalu kalian bilang kalian paham dan mengerti. Aku percaya dan aku pikir kalian memang mengerti dan bertaubat.
Tetapi ternyata aku makin sakit mengetahui kenyataan itu. Kalian diam-diam masih menjalin hubungan di belakangku.

Kalian begitu banyak alasan. Salah satu alasan klise yang selalu kalian sebut karena kalian satu tempat kerja. Kalian beralasan susah untuk saling menjauh.

Aku belum berhasil menyadarkan kamu. Tapi aku lega aku bisa menyadarkan sahabatku. Sampailah akhirnya ia memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki yang dikenalnya. Aku bersyukur dan berbahagia. Beberapa bulan setelah pernikahan sahabatku, dia juga keluar dari perusahaan, sementara si cewek tomboy masih lanjut kontrak kerjanya.
Tapi baru sebentar aku merasakan tenang dan lega, tiba-tiba aku dengar rumah tangga sahabatku berantakan. Mereka sering bertengkar. Dan ternyata penyebabnya masih kamu. Kamu masih menghubungi sahabatku. Kamu kirimi suaminya photo-photo kemesraan kalian yang menjijikan itu.

Beberapa bulan setelah itu, semua mulai membaik lagi. Rumah tangga sahabatku selamat. Aku merasa lega karena sudah tak aku dengar lagi kabar tentangmu walau kamu bekerja di perusahaan yang bertetangga dengan perusahaan tempat aku bekerja. Aku sudah tidak peduli lagi tentang hidupmu. Aku mulai menghapus cerita dan kisahmu dalam hidupku.

Seiring berjalanya waktu akupun berhasil memperbaiki hatiku dari rasa benci yang mendalam. Aku sadar membenci yang terlalu bukanlah hal yang baik. Bibirku mulai tergerak untuk mendo’akanmu agar kamu mendapat hidayah dan bertaubat.

Setelah satu tahun tak mengingatmu lagi, tiba-tiba aku tergerak untuk melihat facebook kamu. Dan betapa terkejutnya aku ketika melihatmu kembali setelah sekian lama. Kamu telah berhijab. Tetapi itu perubahan yang luar biasa.

Tak terasa ada bulir kecil yang turun dari kelopak mataku. Do’aku telah di ijabah. Semoga kelak kamu menjadi perempuan soleha. Do’aku kembali untukmu yang telah bermetamorfosis. Ya kamu si ulat yang sekaligus si pembuat mendung itu akhirnya berada dalam dunia yang berbeda dengan sayap-sayap yang indah berwarna warni.

(Maryam Ete)