Cerpen : Ketika Istri Tidak Bekerja

Setuju nggak kalau lelaki itu suka selingkuh? Apalagi kalau mereka sudah memiliki keuangan yang lebih. Kadang gak punya uang yang cukup saja masih berani selingkuh kok. Mirisnya, lelaki selingkuh ini sering lolos pada istri yang tidak memiliki kekuatan finasial. Mereka tahu kalau wanitanya nggak akan bisa berbuat apa-apa dan nggak bisa bertahan hidup dengan anak-anaknya tanpa penghasilan dari sang suami.

Nah, ketika seorang suami memiliki istri yang mampu bertahan secara finansial, mereka cenderung bersikap baik pada istrinya karena mereka tahu kalau istri mereka masih bisa bertahan, meskipun tanpa penghasilan dari suami. Yah, walaupun masih ada lelaki yang tulus dan baik didunia ini, tetapi sudah menjadi makluk yang langka. Susah ditemukan, dalam seribu paling nemu satu. Jika yang satu itu suami kamu, maka jagalah baik-baik makhluk langka itu.

Disebuah desa di daerah Sumatera banyak ditemukan kehidupan rumah tangga yang tidak sehat karena istri terlalu bergantung pada suami. Sebut saja Namanya Nina. Perempuan malang yang saat ini hanya bisa bersabar ketika suaminya dengan terang-terangan main api dengan perempuan lain. Tidak mungkin hatinya tidak terluka, tetapi dia tetap bertahan demi anak-anak dan dirinya. Dia tidak sanggup menghidupi ketiga anaknya jika dia memilih bercerai dengan suaminya.

“Nina, suamimu masih sama dirimu atau bukan? Aku sering melihat dia membonceng perempuaan dari arah selatan sana, bukan sekali dua kali lho” Bu Midah tetangga sebelah rumahnya bertanya pada suatu hari disaat ia berpapasan diacara pesta kawinan anak tetangga.

Nina hanya merespon dengan senyum kecut dan tidak tau mau menjawab apa. Dengan mata yang berkaca-kaca dia pamit duluan meninggalkan Bu Midah. Serapi apapun menyimpan yang namanya menyimpan bangkai suatu hari pasti akan kecium juga.

Suatu hari Nina mencoba bicara sama suaminya

“Bang, semua tetangga kita sudah tau kamu selingkuh. Tolonglah kamu hargai aku, tidak malu kamu jadi bahan omongan orang? Kasihan anak-anak kita bang! Mereka juga kena dampaknya”

“Kamu tidak usah banyak komentar, yang penting uang yang ku dapat sudah kukasih kamu dan anak-anak. Jadi kamu tidak usah banyak komplain. Lagian bukan aku saja yang seperti itu, banyak juga suami yang lain yang melakukan hal yang sama, makanya kamu tidak usah bertandang kerumah orang, cukup dirumah saja” jawab suaminya dengan enteng, sambil dia berdandan dan siap-siap menuju tempat karaoke sekalian bertemu dengan wanita-wanita penghibur ditempat itu.

Nina hanya berdiri mematung menyaksikaan suaminya yang sudah rapi dan wangi pergi dengan motor scoopy yang baru dibelinya. Dia membayangkan sebentar lagi suaminya akan berpelukan dengan perempuan-perempuan penghibur ditempat karaoke itu. Entah hanya sebatas pelukan atau bahkan lebih dari itu dia tidak tau. Air mata bergulir dari sudut matanya, dadanya sesak, tapi tidak sanggup berbuat apa-apa.

Nina pernah bercerita pada sahabatnya Lita dan Lusi. Tapi ternyata nasib mereka sebelas dua belas. Suaminya juga tidak memperlakukkanya dengan baik tetapi mereka harus tetap bertahan karena tidak bisa menghasilkan uang dan hidupnya bergantung pada suami.

Pernah suatu malam, Nina, lita dan Lusi pergi ke pesta sunatan salah satu waga dikampungnya. Ada hiburan orgen tunggal sampai larut malam. Disana mereka menyaksikan para lelaki duduk dipinggir panggung dengan cahaya remang-remang didatangi artis sambil berjoget meliuk-liuk seperti pelacur yang ada di diskotik sedang mencari mangsa. Dan para lelaki itu dengan senyum sumringah langsung memeluk artis bergantian, meraba yang tidak patut diraba, dengan bebas mencium pipi artis-artis tersebut  sambil menyelipkan uang kedalam BH nya.

Diantara lelaki itu ada suami mereka bertiga yang tidak peduli istrinya lagi menyaksikaan tingkah mereka atau tidak. Tanpa ada rasa cemas sedikitpun akan ketahuan istri-istrinya. Mereka bertiga akhirnya pulang dengan hati yang sangat terluka, sakit menyaksikan perilaku suaminya tetapi mereka tetap harus bertahan karena keadaan. Bertahan karena anak, bertahan karena takut tidak bisa hidup jika mereka ditinggalkan oleh suaminya.

***

Setahun kemudian beredar berita bahwa suami Lusi yang bekerja sebagai kepala tukang bangunan menghamili selingkuhanya. Namanya Bagas dan perempuan itu seorang janda yang beranak satu tinggal dikampung sebelah, namanya Ratih. Keluarga Ratih menuntut agar Bagas menikahinya secara sah agar anak dalam kandungan Ratih ada bapaknya.

“Lusi, Aku akan menikahi Ratih, kamu tidak usah khawatir karena kamu tidak akan aku cereikan” ucap Bagas disuatu malam tanpa peduli akan rasa sakit di hati istrinya.

Lusi hanya bisa menangis tanpa bisa berkata-kata. Dia tidak punya pilihan, masih untung tidak dicereikan, setidaknya anak-anaknya masih ada yang bertanggung jawab untuk nafkahnya. Lagi-lagi dia harus bertahan dengan pilihan yang sangat tidak berpihak kepadanya. Kedepanya dia harus menjalani kehidupan bermadu. Tentu saja tidak hanya suami yang berbagi, segala penghasilanya pun harus di bagi.

Nina dan Lita sebagai sahabat Lusi juga sangat terpukul mendengar kabar tersebut. Mereka ketakutan kalau-kalau setelah ini berlaku pula hal yang sama kepada mereka. Suami Lusi masih mending kepala tukang bangunan, tentu penghasilanya cukup untuk menghidupi dua istri. Sementara suami Nina dan Lita hanya nelayan biasa.

Suatu malam Nina mencoba mengajak suaminya bicara baik-baik agar apa yang terjadi dengan Lusi tidak terjadi pula di rumah tangganya.

“Bang, sudah saatnya kamu berhenti main perempuan. Tidak usah lagi kamu ketempat karaoke itu. Hentikanlah semuanya bang. Aku takut nanti kamu bernasib sama dengan Bagas” ungkap Nina pada suaminya.

“Kamu tidak usah samakan semua orang, aku bukan Bagas. Kamu tidak perlu mengurus urusan ku, tugasmu mengurus anak, kerjakan saja dengan baik apa yang menjadi tugasmu. Yang penting uang belanja mu tidak aku kurangi” Rido suami Nina membalas dengan emosi.

“Apa kamu tidak takut dosa bang? Anak mu ini perempuan bang, bagaimana kalau nanti karma berlaku? Tidak takut kamu bang?”

“Diam kamu! Tidak perlu kamu ajari aku tentang dosa. Aku ini suami mu, sekali lagi kamu ngomong jangan salahkan aku main keras!” Hardik Rido.

“Apa kamu tidak peduli dengan perasaan ku sedikitpun bang? Hati Nurani mu dimana? Bagaimana jika saudara perempuan mu diperlakukan sama oleh suaminya?”

“Diaaaam! Plaak…

Tangan Rido mendarat dipipi Nina meninggalkan bekas memar yang tidak bisa ditutupi. Nina meraung kesakitan tanpa mampu berkata lagi. Rido pun tetap meninggalkan rumah dan pegi ketempat hiburan dimana ia biasa nongkrong ditemani para janda yang memang bekerja ditempat itu mencari nafkah.

***

Pagi itu Lita main kerumah Nina, ia ingin berbagi cerita dengan Nina. Tapi dia malah mendapati Nina dengan wajah yang lebam dan mata yang sembab.

“Nina, kamu kenapa?

“Biasalah, nasib menjadi perempuan yang tak bisa apa-apa ya beginilah”

“Ini tidak bisa dibiarkan, para lelaki ini memang biadab. Dulu semasa kita gadis menjadi kembang desa dia melakukan segala cara agar bisa mendapatkan kita. Sekarang apa yang mereka perbuat”

“Kamu masih mending Lit, suami mu masih belum terlalu parah, kamu juga belum punya anak”

“Sama saja kita Nina, selama ini aku hanya sedikit menyimpan. Suamiku malah main dengan istri orang. Mereka sama-sama main halus, tidak terlalu kentara. Tapi aku sudah tidak kuat Nina, aku berencana mau minta cerei saja”

“Lita, kamu harus pikirkan matang-matang, setelah jadi janda nanti jadi beban orang tua”

“Tidak, aku akan meninggalkan kampung ini, aku akan merantau ke Malaysia mencari kehidupan disana, mumpung aku belum punya anak”

Lita sudah bulat tekadnya untuk berpisah, dan dia memilih meninggalkan kampung halamanya mencoba peruntungan di negri orang. Diantara mereka bertiga Lita memang belum memiliki anak, jadi dia tidak punya pertimbangan berat untuk bertahan dan terus tersakiti.

***

Akhirnya sudah tiga tahun Lita merantau ke Malaysia. Dia rindu kampung halaman dan memutuskan untuk Kembali. Ia berencana membuka usaha dikampung dengan uang tabungan yang ia kumpulkan selama bekerja di Malaysia.

Setibanya di kampung dia bertemu dengan Lusi dan Nina. Nasib kedua sahabatnya itu semakin memburuk. Lusi hidup serba pas-pasan karena penghasilan suaminya harus berbagi. Sedangkan Nina suaminya kadang jarang pulang, dan uang belanjapun kadang dikasih seminggu sekali. Penampilan mereka semakin semeraut, jangankan buat beli baju baru, buat makan saja kadang tidak cukup.

Sangat berbeda dengan Lita, dia semakin putih, penampilanya rapih dan matanya bersinar bahagia. Tidak ada tekanan batin yang terpancar disana. Sedangkan mantan suami Lita dikabarkan masuk buih karena ia dilaporkan sebagai perusak rumah tangga orang oleh suami selingkuhan nya.

Hanya Lita yang nasibnya lebih baik diantara mereka. Karena dia berani mengambil keputusan untuk hidupnya dengan menjadi Wanita yang mandiri, punya penghasilan sendiri dan tidak bergantung pada lelaki yang bergelar suami.

Hidup itu memang penuh dengan pilihan. Jadi semua tergantung kita, pilihan mana yang akan kita pilih. Tentu saja setiap pilihan ada resikonya. Kita memang tidak bisa menghindari resiko secara keseluruhan, tapi setidaknya kita bisa meminimalisir resiko dari pilihan yang akan kita ambil.

(Maryam Ete)