Cerita Buruh Terjebak Macet Menuju Monas, May Day 2026: Panjang Umur Perlawanan

Cerita Buruh Terjebak Macet Menuju Monas,  May Day 2026: Panjang Umur Perlawanan
Foto by Wiwik Aswanti

Purwakarta, KPonline-Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta pada Jumat (1/5/2026) menyisakan banyak cerita dari para anggota serikat pekerja atau serikat buruh. Dan salah satu kisah yang paling banyak terdengar adalah perjuangan mereka yang harus berjibaku dengan kemacetan panjang saat berangkat menuju lokasi acara sejak pagi buta.

Sejak pukul 06.00 WIB, puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu buruh dari berbagai daerah di Jabodetabek dan wilayah penyangga sudah bergerak menuju pusat kota. Namun, padatnya arus kendaraan, membuat sejumlah rombongan terlambat tiba di Monas. Jalan-jalan utama seperti MH Thamrin, Medan Merdeka Barat, Gambir, hingga sekitar Patung Kuda dipenuhi antrean bus, mobil pribadi, dan sepeda motor yang membawa massa buruh.

Kendaraan di sekitar Monas hanya mampu bergerak sekitar 5 hingga 10 kilometer per jam, bahkan beberapa kali berhenti total karena penumpukan bus rombongan yang menurunkan peserta di pintu masuk kawasan Monas.

Sejumlah buruh mengaku harus berangkat lebih pagi dari biasanya agar tidak tertahan macet. Ada rombongan dari beberapa daerah di wilayah Jabodetabek yang berangkat pasca solat Subuh. Sama halnya dengan peserta dari Karawang dan Purwakarta, demi bisa tiba sebelum acara dimulai. Setelah waktu subuh pun tancap gas menuju Ibu kota.

“Biasanya dari Purwakarta dua jam sampai Jakarta, ini hampir lima jam. Tapi kami tetap semangat karena ini merupakan momen perjuangan buruh dalam memperingati hari buruh Internasional,” ujar salah satu peserta Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat pekerja Metal Indonesia (SPAI-FSPMI) dari kawasan industri Jatiluhur, Purwakarta.

Bukan hanya pengguna bus, banyak buruh yang memilih naik sepeda motor demi menghindari kemacetan total. Media Perdjoeangan melaporkan puluhan ribuan buruh terlihat memadati Jalan Medan Merdeka Selatan menggunakan kendaraan roda dua untuk menghadiri May Day 2026.

Meski begitu, kemacetan tak menyurutkan antusiasme massa. Sesampainya di Monas, para buruh tetap membawa bendera serikat pekerja, spanduk tuntutan, serta atribut organisasi masing-masing. Kawasan Monas dipadati lautan manusia dari berbagai federasi yang berafiliasi dengan empat Konfederasi Serikat Pekerja di Tanah Air.

Polda Metro Jaya sebelumnya memang telah memperkirakan kepadatan tinggi di pusat kota karena ratusan ribu massa diperkirakan hadir dalam perayaan tersebut. Beberapa media menyebut jumlah peserta bisa menembus lebih dari 200 ribu hingga 400 ribu orang dari unsur buruh dan elemen pekerja lainnya.

Cerita terjebak macet ini justru menjadi bagian dari semangat solidaritas. Banyak buruh menyebut perjalanan panjang menuju Monas adalah bentuk pengorbanan untuk menyuarakan aspirasi soal upah layak, penghapusan outsourcing, dan hal kesejahteraan pekerja lainnya.

Di tengah kemacetan, ada pula peserta yang turun berjalan kaki beberapa kilometer karena kendaraan tidak bisa bergerak mendekati lokasi.

May Day 2026 pun membuktikan satu hal yakni macet boleh menghadang, tetapi semangat buruh untuk bersatu dan menyuarakan hak-haknya tak pernah padam dan menegaskan; panjang umur perlawanan.