Canda Cinta Sang Hujan

Aku mengintip tetesan air hujan yang cukup deras melalui jendela ruang tamu, ada semilir angin nan sejuk yang menyelinap melalui celah-celah daun jendela. Hujan cukup deras menerjang dan menghujam bumi di senja ini. Diiringi dan ditemani hembusan angin, yang menerpa, dan mulai menggoyang-goyangkan pepohonan. Beberapa tumbang dihempas angin, yang lainnya basah kuyup diterpa badai dan sebagian lainnya tegar berdiri.

Aku menatap hujan yang deras, menerawang jauh kedepan dengan tatapan yang kosong. Hujan kali ini mengingatkanku pada salah satu pesanmu, “Semoga suatu saat nanti, kita akan mempunyai cerita bersama hujan”. Aku tersenyum, waktu kau mengatakan hal itu kepadaku. Kembali kutatap hujan deras diluar sana dari balik jendela.

“Ayo pulang” katamu. “Kehujanan tidak apa-apa?” lanjutmu. “Iya, tidak apa-apa” jawabku sambil menyembulkan sungginh senyum di sudut bibir mungilku. Hujan hari ini begitu deras, hingga membuat pakaian dan tubuhku basah kuyup.

“Jangan bersembunyi dibelakangku, air hujannya membasahi wajahmu nanti” setengah berbisik didaun telingaku kau mengatakannya. Sedetik kemudian, kepalaku sudah berada bahunya.
“Ini momen kehujanan yang paling indah buat kita berdua, kamu merasakannya?” kali ini suaranya agak dibesarkan. Bersahut-sahutan dengan suara bising kendaraan dan suara rintik hujan.

Perlahan kuangkat wajahku dari pundaknya, yang sedari tadi menjadi sandaranku. Kuangkat wajahku menatap langit, menantang pada rintik hujan. Dan air hujan pun menampar manja wajahku. Membasahi wajah dan tubuhku.
Agak perih memang, tapi sedetik kemudian aku tertawa. Dan ia pun ikut tertawa. “Bagaimana? Seru? sambil memasang wajah ceria, ia berucap mencoba mengalahkan suara jutaan rintik hujan.

” Iya” jawabku singkat saja. Dan akhirnya, kami tertawa bersama diiringi rintik hujan senja ini. Ditemani tawa dan rasa bahagia, yang tak kan mungkin bisa kita ungkapkan melalui lisan. Canda tawa serta pelukan kita sore itu, seolah-olah telah berbicara, mewakili semua rasa itu.
Waktu terasa singkat kala senja itu. Sepanjang jalan seolah menjadi saksi rasa cinta dan bahagia kami. Bahagia itu terkadang dapat kita nikmati, meskipun dalam situasi dan kondisi yang sederhana. Sesederhana senja kala itu.

Kami berhenti tepat didepan gerbang rumahku. Seperti biasanya, kami bersalaman untuk berpamitan. meskipun sebenarnya kami enggan untuk berpisah.
“dahh…” ucapku sambil melambaikan tangan. “Kasih kabar kalau sudah sampai dirumah ya?” pintaku sambil menahan rasa dingin yang mulai menusuk-nusuk kulitku. Dan ia hanya tersenyum dan kepalanya yang mulai mengangguk. Tubuhku mulai menggigil menahan hawa dingin, lalu masuk kedalam rumah. Langsung menuju kamar mandi, mengeringkan badan dan bergegas berganti pakaian. Kujatuhkan tubuhku diatas pembaringan, mencoba menghangatkan tubuh di atas tempat tidur.

“Terima kasih yaa, Sayang. Aku bahagia jika bersamamu” kukirimkan pesan berbasis layanan internet itu untuk dirinya.
Aku tarik selimut dan merapatkannya ke tubuhku, sambil tersenyum manja mengingat-ingat perjalanan tadi.

Kami tenggelam dan terlelap dengan lelah bercampur bahagia kami masing-masing. Ditemani segudang kebahagiaan, dan diselimuti rasa kasih sayang dan juga..cinta.
(Vina)