Buruh yang Meninggal Karena Kecelakaan Kerja Naik 349,4 Persen

  • Whatsapp

Surabaya, KPonline – Sebanyak 95 orang buruh pabrik di Jawa Timur mengalami kecelakaan hingga tewas saat bekerja. Mereka mengabaikan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sehingga nyawa mereka terenggut.

Kepala Disnakertrans Jatim Sukardo menyebutkan bahwa mereka ada yang tergilas mesin besar di pabriknya.

Bacaan Lainnya

Puluhan pekerja industri dan pabrik itu tewas selama 2016. Tahun ini, Disnakertrans masih mendata kecelakaan yang sama yang terjadi Januari dan Februari 2017. Disnakertrans juga mencatat total pekerja yang mengalami kecelakaan kerja sebanyak 7.017. Dari ribuan pekerja ini, 95 tewas, 37 cacat permanen, 670 cacat tapi kembali bekerja, dan 6.215 sembuh total.

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyatakan bahwa angka kecelakaan kerja di 2016 mengalami penurunan dibandingkan 2015. Namun angka pekerja yang meninggal akibat dari kecelakaan tersebut meningkat ‎349,4 persen pada periode yang sama.

Dari ‎data BPJS Ketenagakerjaan menggambarkan penurunan kecelakaan kerja dari 110.285 kasus di 16.082 perusahaan pada 2015 menjadi 101.367 kasus di 17.069 perusahaan‎ di 2016. Ini berarti terjadi penurunan angka kecelakaan kerja sebesar 8 persen.

Namun sayangnya, jumlah pekerja yang meninggal akibat kecelakaan kerja meningkat tajam dari 2015 ke 2016. Pada 2015, jumlah pekerja yang meninggal sebesar 530 orang. Sedangkan di 2016 sebesar 2.382 orang atau naik 349,4 persen.

Dari jumlah pekerja yang meninggal tersebut, 50 persennya berasal dari sektor konstruksi. Hal ini karena pekerjaan sektor tersebut penuh dengan risiko, seperti bekerja di ketinggian ‎dalam proses pembangunan gedung bertingkat.

Untuk menimimalisir risiko kecelakaan kerja dan timbulnya korban jiwa pada saat bekerja, Kemenaker akan memperketat pengawasan K3 pada masing-masing perusahaan. Pihaknya akan menggandeng BPJS Ketenagakerjaan untuk menekan angka korban jiwa tersebut.

“Kita perlu tingkatkan pengawasan K3 di depan kita akan perhatikan sektor-sektor yang fatality-nya tinggi agara dari sisi kecelakaannya menurunan. Kita bekerjasama dengan BPJS terkait hal itu.”

Pos terkait