Buruh menolak penetapan upah minimum sebesar 8,03 persen dan mendesak agar PP 78/2015 segera dicabut. (Foto: Kahar S. Cahyono)

Buruh menolak penetapan upah minimum sebesar 8,03 persen dan mendesak agar PP 78/2015 segera dicabut. (Foto: Kahar S. Cahyono)

Buruh Dungu Akut, Jika Masih Pro Rezim Upah Murah

Bogor, KPonline, – Sungguh sangat disayangkan apa yang telah dilakukan oleh Franky Hardy Sasongko, salah seorang anggota FSPMI Bogor yang telah memposting sebuah status Facebook pada hari ini 17 April 2019. Bertepatan dengan hari Pemilihan Umum Raya yang digelar diseluruh Indonesia.

Postingannya sungguh tidak mencerminkan buruh yang cerdas, pasalnya dengan terang-terangan, Franky telah memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden dari kubu petahana. Tidak hanya untuk disayangkan apa yang telah dilakukan oleh Franky Sasongko dan beberapa orang buruh lainnya, akan tetapi juga telah mencederai esensi dari perjuangan kaum buruh itu sendiri.

Sejak awal tahun 2000-an, FSPMI bersama-sama dengan federasi-federasi serikat pekerja/serikat buruh yang ada di Indonesia, telah menggaungkan dan mengkampanyekan Tolak Upah Murah. Menolak upah murah artinya sebagai kaum buruh menginginkan kesejahteraan, melalui sistem pengupahan yang baik, agar kaum buruh mendapatkan upah yang layak.

Seperti yang diungkapkan oleh Rinto Dwi Wahana, Koordinator Media Perdjoeangan Bogor. “Upah adalah urat nadi bagi kaum buruh. Jika urat nadinya kaum buruh sudah disumbat apalagi jika sampai diputus, selesai sudah. Tidak akan ada lagi kesejahteraan bagi kaum buruh. Dan itu semua karena PP 78/2015, dan terjadi di saat rezim Jokowi berkuasa” ungkap pria berambut gondrong ini.

Beberapa orang buruh yang dengan terang-terangan mendukung kubu petahana dalam Pilpres 2019, memberikan argumentasi dan berbagai alasan. “Alasan apapun silahkan saja. Tapi gue, elo dan kawan-kawan buruh yang lainnya, bukannya tambah sejahtera malah tambah sengsara. Sejak 2015 hingga sekarang, nggak ada perbaikan. Malah, Kepala Daerah tunduk sama itu PP 78” tambahnya.

“Dan jika masih ada buruh-buruh yang dengan bangga memilih dan telah mencoblos petahana, agar kembali berkuasa di periode kedua. Gue berharap, buruh-buruh itu segera ke dokter, buat periksa kesehatan kejiwaan mereka. Ya buat apalagi kalau bukan buat memeriksa kedunguan mereka” tegas Wakil Ketua Bidang Politik Dan Aksi PUK SPAMK-FSPMI PT. TGSSI ini.

Facebook Comments

Comments are closed.