Purwakarta, KPonline-Di tengah riuh rendah dinamika hubungan industrial yang kadang lebih mirip panggung sandiwara daripada ruang dialog, Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT. Sumi Indo Wiring Systems justru memilih cara yang lebih sunyi namun mendasar yakni pendidikan.
Bertempat di ruang training center Kantor Konsulat Cabang FSPMI Purwakarta, Sabtu (18/4/2026), kegiatan pendidikan dasar ini digelar sebagai upaya memperkuat fondasi organisasi dari dalam. Bukan sekadar agenda rutin yang hadir untuk menggugurkan kewajiban administratif, melainkan ruang pembelajaran yang diharapkan mampu membentuk kesadaran kolektif anggota.
Ketua PUK, Ade Supyani, dalam keterangannya kepada Media Perdjoeangan menegaskan bahwa pendidikan ini bukan hanya soal teori organisasi, melainkan soal membangun kesadaran yang kerap kali terlupakan.
“Kita selaku pengurus PUK berharap seluruh anggota tetap memahami dengan baik dan secara sadar merasa bahwa berserikat itu penting sekali sebagai pekerja,” ujarnya.
Pernyataan tersebut terasa sederhana, namun dalam praktiknya justru sering menjadi barang langka. Di tengah tekanan kerja, target produksi, dan kadang “bisikan halus” yang membuat buruh ragu bersuara, kesadaran berserikat kerap tergerus perlahan tanpa terasa, tanpa perlawanan.
“Targetnya kita sebulan sekali. Kita sisir semua anggota buat refresh training dasar berserikat. Biar gak lupa, mengapa kita harus berserikat. Pentingnya serikat pekerja itu apa.
Sejarah FSPMI itu bagaimana dan pentingnya solid satu komando itu untuk apa,ungkap Ade Supyani.
Lebih jauh, Ade menekankan bahwa kekuatan serikat pekerja bukan terletak pada atribut, spanduk, atau jumlah anggota di atas kertas. Melainkan pada kekompakan nyata di lapangan.
“Memahami bahwa kekuatan serikat pekerja adalah ada pada saat anggotanya kompak, solid, taat instruksi, satu komando,” lanjutnya.
Kalimat itu mungkin terdengar klise bagi sebagian orang. Namun sejarah gerakan buruh justru berulang kali membuktikan bahwa tanpa soliditas, serikat hanyalah nama tanpa daya tawar, tanpa arah, bahkan tanpa suara.
Ada ironi yang tak bisa dihindari, dimana di satu sisi, semua sepakat bahwa persatuan itu penting. Sedangkan, di sisi lain, menjaga persatuan sering kali jauh lebih sulit daripada mengucapkannya dalam forum-forum resmi. Ego, kepentingan sesaat, hingga rasa apatis bisa dengan mudah menyelinap dan menggerogoti kekuatan dari dalam.
Karena itu, melalui pendidikan dasar ini, PUK SPAMK FSPMI PT Sumi Indo Wiring Systems mencoba merawat dua hal utama yang disebutkan oleh ketuanya yaitu kesadaran dan soliditas. Dua hal yang terlihat sederhana, namun menjadi penentu hidup-matinya sebuah organisasi.
“Kita memelihara atau mempertahankan dua hal itu,” tegas Ade.
Kegiatan ini pun menjadi pengingat bahwa perjuangan buruh tidak selalu dimulai dari jalanan atau mimbar aksi. Kadang, ia justru lahir dari ruang-ruang kecil seperti training center, tempat dimana pengetahuan dibagikan, kesadaran ditumbuhkan, dan komitmen diuji.
Di tengah realitas dimana tidak sedikit pekerja masih memandang serikat sebagai pilihan kedua atau bahkan pilihan terakhir bahwa pendidikan semacam ini menjadi langkah strategis. Sebab tanpa anggota yang sadar dan solid, serikat pekerja hanya akan menjadi simbol tanpa substansi.
Dan mungkin, di sinilah letak “satir” yang sesungguhnya. Ketika pendidikan dasar harus terus diulang, bukan karena materinya yang sulit, tetapi karena kesadaran yang terlalu sering lupa untuk diingat kembali.