8 Kesimpulan Pilkada Bekasi

  • Whatsapp

Bekasi, KPonline – Aktivis dan salah satu pentolan Rumah Rakyat Indonesia, Budi Wardoyo, menyampaikan 8 (delapan) kesimpulan terkait Pilkada Bekasi. Kesimpulan ini ia tulis dalam akun media sosial pribadinya.

Pertama

Muat Lebih

Kesadaran berpolitik–dengan cara-cara yang baik, mengalami peningkatan secara kuantitas, paling tidak ditunjukan dengan dukungan sebasar 16 % bagi pasangan calon independen, Obon-Bambang.

Kedua

Sekalipun Obon-Bambang maju melalui jalur independen, dan merupakan hasil dari proses gerakan buruh di Kab Bekasi, namun tingkat apatisme politik di kalangan kaum buruh Bekasi masih tinggi. Ini bisa dilihat dari tidak adanya (atau mungkin ada tapi sedikit), kawan-kawan buruh yang bekerja tahunan di Kab Bekasi, namun dengan KTP asal daerah yang dalam pilkada ini mengganti KTP nya dengan KTP Bekasi. Atau bentuk-bentuk protes terhadap perusahaan-perusahaan yang tidak meliburkan buruhnya pada saat pilkada. Sehingga bisa diperkirakan, angka Golput kaum buruh Bekasi, cukup besar.

Ketiga

Dari jangkauan Obon-Bambang dan relawan Obama, yang terus melakukan tatap muka dengan masyarakat Kab Bekasi selama 1,5 tahunan (mungkin dua tahun), di seluruh desa dan kecamatan, memang paling banyak berkisar di angka 100 ribuan (dan saya yakin, inilah yang mayoritas masuk memilih Obon-Bambang), atau dengan kata lain, sudah tercerahkan dan tidak terpengaruh politik uang atau bentuk kecurangan lainnya.

Keempat

Selain kesadaran untuk terlibat dalam politik elektoral (dengan cara yang baik), ada juga peningkatan kesadaran (baik dari relawan buruh maupun non buruh yang giat bergerak dalam barisan Obon-Bambang), soal pemahaman tentang persoalan-persoalan umum yang dihadapi masyarakat Kab Bekasi dan persoalan-persoalan yang lebih khusus di kampung-kampung. Kesadaran ini yang menjadi landasan bahwa Kab Bekasi memang harus dirubah, harus diperjuangkan agar menjadi lebih baik dan benar.

Kelima

Kemenangan kandidat lainnya, bukanlah karena lebih baik (secara program, trade record maupun cara-cara berpolitiknya), namun karena kesadaran rakyat Bekasi yang mau bergerak untuk perubahan masih terlalu sedikit dibandingkan dengan yang belum sadar ( walau sekali lagi, dukungan 16 % adalah jumlah yang cukup besar)

Keenam

Selanjutnya, kekuatan Gerakan Politik Rakyat (yang tersebar di semua desa, semua kecamatan), inilah yang penting untuk dijaga, dirawat, dikuatkan, dibesarkan, karena Gerakan Politik Rakyat sejatinya memang melampaui pilkada, melainkan sebagai sebuah kekuatan politik rakyat yang terus hidup untuk memperjuangan kepentingan rakyat sehari-harinya.

Ketujuh

Apakah seluruh kekuatan Gerakan Politik Rakyat (Relawan dan simpatisan Obon-Bambang), akan dikonsolidasikan (atau ditransformasikan) menjadi sebuat alat politik rakyat (mungkin semacam organisasi massa–yang bertujuan membela/memperjuangkan kepentiingan rakyat), itulah yang mungkin menjadi PR sekarang ini.

Kedelapan

Dengan menangnya status quo, maka masa depan Kab Bekasi sudah bisa diprediksi, tidak akan ada perubahan yang lebih baik–justru cenderung lebih buruk, dan itulah tantangan bagi Gerakan Politik Rakyat (jika terkonsolidasi), untuk menunjukan sepak terjangnya, menunjukan kapasitasnya sekaligus pembuktian, bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan belaka.

Pos terkait