27 Aktivis Buruh Bekasi Lulus Sidang Ujian Skripsi Ilmu Hukum

Bekasi, KPonline – Nabi Muhammad SAW menyuruh kita untuk terus menuntut ilmu: “Tuntutlah ilmu hingga ke liang lahat.”

Rasul menyuruh pada kaumnya untuk terus menuntut ilmu tanpa berhenti. Karena kadar keilmuan akan menentukan posisi kehidupannya baik di dunia maupun diakhirat kelak.

Orang yang berilmu tinggi cenderung lebih mudah dalam menjalani kehidupan ini.

Terkadang kesulitan ekonomi dan kesusahan hidup bisa menjauhkan kita dari menuntut ilmu. Memang bukan salah orang tua kita yang tidak mampu membiayai sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Tetapi faktanya bisa kita lihat di area parkir mahasiswa di universitas-universitas ternama seperti di Universitas Gajah Mada didaerah Bulaksumur Yogyakarta, yang hampir penuh dengan mobil.

Di Institut Teknologi Bandung, di Jalan Ganesha Nomor 10 juga tidak jauh beda. Begitupun di Universitas Indonesia di Jalan Salemba Raya Nomor 4 Jakarta.

Aktivis buruh Bekasi lulus skripsi di Fakultas Hukum.

Seolah mengisyaratkan pendidikan hanya milik orang-orang kaya. Kita yang lahir dari rahim ibu seorang buruh pabrik, pembantu, buruh tani, pencuci baju seolah tidak mempunyai hak mencicipi sekolah di perguruan tinggi bergengsi.

Entah apa yang salah di Negeri ini. Jumlah orang-orang yang hidupnya kembang-kempis di Negeri ini memang tak sedikit.

Setidaknya sekitar 27,27 juta orang Indonesia hidup miskin. Sebanyak 10,36 juta di antaranya ada di perkotaan dan tak punya lahan membawa 17,37 juta orang desa hidup miskin.

Tapi kita tidak boleh menyerah dengan kondisi kita saat ini, semangat bisa memerdekakan kita dari kesusahan ekonomi seperti kisah Devi Triasari, Putri seorang ibu pembantu rumah tangga yang pernah menggegerkan jagat dunia maya.

Meski hanya anak pembantu rumah tangga, semangat Devi meraih pendidikan terbaik terang menyala. IPK 3,99 dari Universitas Sebelas Maret Surakarta menjadi bekalnya berkelana di belantara Monash University, Australia juga kisah dari Universitas Negeri Semarang.

Mochammad Najmul Afad, mahasiswa penjual donat ini mungkin membuat mereka yang berleha-leha mengisi waktu kuliahnya, bisa tersipu malu, Afad mendapat kesempatan langka.

Berjabat tangan dengan Rektor karena menjadi mahasiswa lulusan terbaik. Nilai IPK-nya nyaris sempurna 3,87. Dan baru-baru ini 27 aktivitis buruh dari Bekasi dinyatakan lulus ujian skripsi ilmu hukum di STIH Dharma Andigha Bogor.

Rata-rata mereka bekerja sebagai buruh pabrik di Kabupaten Bekasi dan sudah berkeluarga, selain bekerja mereka pun aktif di organisasi serikat pekerja dibawah nauangan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) ada yang di pilar Garda Metal, pengurus PUK, Media Perjuangan dan Eks Pekerja.

Bisa dibayangkan bagaimana kesibukan dan kebutuhan materinya. Mereka harus mengatur waktu untuk bekerja, keluarga, organisasi dan kuliah juga mereka harus pandai mengatur keuangan untuk biaya hidup keluarga, transportasi, bayar cicilan motor dan rumah, biaya sekolah anak-anak dan biaya kuliah.

Sungguh berat beban waktu, tenaga dan materi yang harus mereka korbankan. Tapi semua itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk terus menuntut ilmu sesuai sabda Nabi Muhammad SAW “Tuntutlah Ilmu hingga ke Liang Lahat”.

Kisah sukses Devi, Afad dan 27 akivis buruh dari Bekasi diatas adalah bukti bahwa semangat bisa memerdekakan kita dari kesusahan ekonomi.

Memang tak mudah, tapi kisah mereka bisa memberi semangat kepada ribuan anak-anak bangsa yang memiliki keterbasan ekonomi dan berasal dari keluarga tidak mampu.