Bogor, KPonline — Penguatan kapasitas kepemimpinan perempuan dan generasi muda terus menjadi bagian penting dalam membangun organisasi serikat pekerja yang kuat, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan dunia ketenagakerjaan.
Hal tersebut menjadi salah satu fokus dari Industriall Sask Project kali ini dalam kegiatan Women and Youth Leadership yang diselenggarakan di Ole Suite Hotel, Babakan Madang, Sentul, Bogor, Senin (31/8) hingga Rabu (2/9). Kegiatan ini diikuti 22 orang peserta dari 3 Federasi Serikat Pekerja yaitu FSPMI, FSP KEP KSPI dan FSP KEP KSPSI.
Pelatihan ini menjadi sebuah ajang pembelajaran bagi peserta untuk meningkatkan kemampuan kepemimpinan, khususnya dalam membangun komunikasi yang efektif serta kemampuan berbicara di depan publik. Kemampuan tersebut dinilai menjadi modal penting bagi kader perempuan dan generasi muda agar mampu menyampaikan gagasan, memperjuangkan kepentingan anggota, serta mengambil peran lebih besar dalam organisasi.

Salah satu materi disampaikan oleh Isnaeni Marzuki, yang saat ini menjabat sebagai Ketua PC SPEE FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi, Ketua PUK SPEE FSPMI PT PHC Indonesia, sekaligus Sekretaris Nasional Garda Metal FSPMI. Dalam sesi tersebut, Isnaeni membawakan materi mengenai “Terampil Berkomunikasi”.
Menurut Isnaeni, kemampuan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang berbicara, tetapi juga bagaimana pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain. Seorang pemimpin dituntut mampu menyampaikan gagasan secara jelas, membangun hubungan dengan orang lain, mendengarkan secara aktif, serta menyesuaikan cara berkomunikasi dengan situasi dan lawan bicara.
“Komunikasi merupakan salah satu kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang pemimpin. Apa yang kita pikirkan dan apa yang ingin kita perjuangkan harus mampu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga pesan tersebut dapat diterima dan mampu menggerakkan orang lain,” kata Isnaini dalam sesi tersebut.
Materi kemudian dilanjutkan oleh Muhammad Nurfahroji, S.H., yang lebih akrab disapa Bang Oji. Dalam sesi ini, Bang Oji memberikan pembekalan mengenai public speaking, khususnya bagaimana seseorang mempersiapkan diri sebelum tampil dan menyampaikan materi di hadapan orang lain.
Bang Oji menekankan bahwa kemampuan berbicara di depan publik bukan sekadar keberanian untuk tampil, tetapi membutuhkan persiapan yang matang. Seorang pembicara perlu memahami materi yang akan disampaikan, mengenali siapa audiensnya, menyusun alur pembicaraan, serta menggunakan bahasa yang sederhana agar pesan dapat diterima dengan mudah.
Selain itu, kesiapan mental dan kemampuan mengendalikan rasa gugup juga menjadi bagian penting dalam public speaking.
Di sela kegiatan kali ini, Mimin ida Nujanah Selaku Project Koordnitaor juga memnyampaikan pesan, bahwa setelah palatihan ini selesai dan kembali ke tempat kerja masing-masing, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki keberanian untuk mempraktikkan kemampuan komunikasi dan public speaking dalam kehidupan organisasi.
Perempuan dan generasi muda diharapkan semakin siap mengambil peran strategis sebagai kader dan pemimpin masa depan yang mampu menyampaikan aspirasi, membangun solidaritas, serta membawa perubahan positif bagi organisasi dan dunia ketenagakerjaan.