Wiwik Aswanti Tekankan Peran Strategis Media Perdjoeangan sebagai Alat Propaganda Organisasi dalam Rakerdasus IV Karawang

Wiwik Aswanti Tekankan Peran Strategis Media Perdjoeangan sebagai Alat Propaganda Organisasi dalam Rakerdasus IV Karawang

Karawang, KPonline – Perwakilan Pimpinan Redaksi Media Perdjoeangan FSPMI, Wiwik Aswanti, S.H., M.H., yang juga menjabat sebagai Wakil Sekretaris Media Perdjoeangan Nasional DPP FSPMI sekaligus Kabiro Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten dan Kota Bekasi, menekankan pentingnya peran media sebagai alat propaganda organisasi dalam menyampaikan perjuangan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) kepada anggota dan masyarakat luas.

Hal tersebut disampaikan Wiwik Aswanti dalam sambutannya pada Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus) IV Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten Karawang, yang berlangsung di lantai II Kantor Konsulat Cabang FSPMI Kabupaten Karawang, Rabu (26/8/2026).

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Wiwik menyampaikan bahwa Rakerdasus merupakan bagian dari perjalanan panjang Media Perdjoeangan. Ia mengingatkan bahwa kegiatan serupa telah menjadi bagian dari proses penguatan organisasi media sejak sekitar tahun 2018.

“Rakerdasus ini merupakan bagian dari perjalanan Media Perdjoeangan. Kalau tidak salah, kegiatan seperti ini sudah dimulai sejak tahun 2018. Tentunya banyak dinamika, proses, dan perkembangan yang telah kita lalui bersama,” ujar Wiwik.

Wiwik menjelaskan bahwa Media Perdjoeangan memiliki mekanisme dan struktur yang berbeda dengan struktur organisasi lainnya di lingkungan FSPMI.

Menurutnya, Media Perdjoeangan tidak menggunakan mekanisme Musyawarah Daerah (Musda), melainkan Rapat Kerja Daerah Khusus (Rakerdasus). Sementara untuk struktur kepengurusan di tingkat kabupaten/kota digunakan istilah Kepala Biro (Kabiro), bukan Koordinator Daerah (Korda).

“Di Media Perdjoeangan kita memang memiliki mekanisme yang berbeda dengan struktur organisasi lainnya. Kita tidak mengenal Musda, tetapi menggunakan Rapat Kerja Daerah Khusus atau Rakerdasus. Untuk struktur di daerah, istilah yang digunakan adalah Kepala Biro atau Kabiro, bukan Korda. Sementara untuk tingkat wilayah dikenal dengan istilah Korwil,” jelasnya.

Ia menegaskan, perbedaan istilah tersebut bukan sekadar persoalan nama, tetapi berkaitan dengan fungsi, tugas, tanggung jawab, serta mekanisme kerja yang dijalankan oleh Media Perdjoeangan.

“Perbedaan istilah tersebut tentu bukan sekadar nama, tetapi berkaitan dengan fungsi, tugas, tanggung jawab, dan mekanisme kerja Media Perdjoeangan,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wiwik juga menyampaikan adanya rencana pengembangan struktur Media Perdjoeangan di tingkat wilayah, khususnya di Jawa Barat.

Ia mengatakan bahwa komunikasi mengenai rencana tersebut telah dilakukan. Selain sebagai bagian dari Media Perdjoeangan Nasional, Wiwik juga menyebut dirinya berada dalam jajaran DPW FSPMI Provinsi Jawa Barat di bidang informasi, komunikasi dan propaganda.

“Untuk tingkat Jawa Barat sendiri, ke depan juga direncanakan akan dibentuk struktur Media Perdjoeangan tingkat wilayah. Saya sendiri sudah berkomunikasi terkait hal tersebut karena kebetulan saya juga berada dalam jajaran kepengurusan DPW FSPMI Provinsi Jawa Barat di bidang informasi, komunikasi dan propaganda,” ungkapnya.

Menurut Wiwik, nantinya kawan-kawan dari berbagai daerah, termasuk Karawang, diharapkan dapat terlibat dalam struktur tersebut.

Ia menilai keterlibatan kader-kader media yang aktif sangat dibutuhkan karena ke depan aktivitas Media Perdjoeangan di Jawa Barat diperkirakan akan semakin banyak, baik dalam kegiatan organisasi, aksi, maupun agenda-agenda perjuangan lainnya.

“Nantinya tentu akan ada keterlibatan kawan-kawan dari daerah, termasuk Karawang. Kemungkinan struktur wilayah akan diisi oleh beberapa orang yang benar-benar aktif dan siap menjalankan tugas, karena ke depan kegiatan Media Perdjoeangan di Jawa Barat akan semakin banyak, termasuk dalam kegiatan organisasi, aksi, maupun agenda-agenda lainnya,” tuturnya.

Lebih lanjut, Wiwik menekankan bahwa Media Perdjoeangan bukan sekadar media dokumentasi, melainkan memiliki fungsi strategis sebagai alat propaganda organisasi FSPMI.

Menurutnya, tugas media adalah membangun citra organisasi, menyampaikan perjuangan anggota, serta memberikan informasi kepada masyarakat mengenai berbagai aktivitas FSPMI.

“Media Perdjoeangan merupakan alat propaganda organisasi FSPMI. Apa yang kita publikasikan melalui media sosial maupun media nasional akan menjadi cerminan FSPMI di mata masyarakat,” ujarnya.

Karena itu, ia mengingatkan seluruh insan Media Perdjoeangan untuk berhati-hati dalam membuat dan menyebarkan informasi. Setiap tulisan, foto, video, maupun konten yang dipublikasikan harus dapat mencerminkan nilai-nilai perjuangan organisasi.

Wiwik juga menyoroti pentingnya penguatan identitas media sosial FSPMI di tingkat daerah.

Ia mendorong agar akun media sosial daerah memiliki identitas yang seragam sehingga masyarakat lebih mudah mengenali media resmi organisasi. Salah satunya melalui penggunaan nama Suara FSPMI, yang kemudian disesuaikan dengan wilayah masing-masing, seperti Suara FSPMI Karawang.

“Dengan identitas yang jelas dan seragam, masyarakat akan lebih mudah mengetahui bahwa akun tersebut merupakan bagian dari media resmi organisasi,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa Media Perdjoeangan tetap menjadi bagian dari FSPMI dan tidak berdiri sebagai organisasi tersendiri.

“Tidak ada organisasi di dalam organisasi. Media Perdjoeangan menginduk kepada FSPMI dan menjalankan fungsi untuk mendukung perjuangan organisasi,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Wiwik juga meminta jajaran Media Perdjoeangan di daerah meningkatkan kecepatan dalam melakukan peliputan dan publikasi.

Setiap kegiatan organisasi, baik aksi, Musnik, Muscab, rapat, konsolidasi, pendidikan maupun kegiatan lainnya, diharapkan dapat diberitakan pada hari yang sama.

Minimal, dokumentasi foto dapat langsung dipublikasikan ketika kegiatan masih berlangsung.

“Idealnya lima sampai sepuluh foto terbaik sudah bisa dipublikasikan pada hari kegiatan berlangsung. Setelah itu, berita lengkap dapat dibuat,” katanya.

Menurut Wiwik, kecepatan publikasi semakin penting karena masyarakat saat ini lebih banyak mengonsumsi informasi melalui konten visual dan media sosial.

Satu berita, kata dia, juga dapat dikembangkan menjadi berbagai bentuk konten, mulai dari artikel, foto, video pendek, reels hingga konten media sosial lainnya.

“Berita yang kita buat bisa menjadi bahan untuk membuat konten. Narasinya kita ambil, kemudian dipadukan dengan video dan foto sehingga menjadi konten yang lebih mudah diterima masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya membuat pembukaan atau hook yang menarik dalam konten video agar mampu mempertahankan perhatian penonton sejak beberapa detik pertama.

Lebih lanjut, Wiwik menyampaikan bahwa Media Perdjoeangan Nasional akan terus memperkuat koordinasi dengan media-media daerah.

Salah satu upaya yang akan dilakukan adalah pelaksanaan rapat koordinasi media secara rutin setiap bulan melalui platform Zoom.

Koordinasi tersebut penting karena jaringan Media Perdjoeangan tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dengan koordinasi secara daring, evaluasi dan penguatan kapasitas media daerah dapat dilakukan secara lebih efektif.

Ia berharap media-media daerah yang selama ini masih kurang aktif dapat meningkatkan produktivitas dan mampu menghasilkan karya jurnalistik maupun konten digital yang berkualitas.

“Media Perdjoeangan harus mampu menjadi media yang menyampaikan perjuangan, mendokumentasikan sejarah perjuangan buruh, membangun opini positif, sekaligus menjadi jembatan informasi antara organisasi dengan masyarakat,” pungkasnya.

Melalui Rakerdasus IV ini, Wiwik berharap Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten Karawang semakin solid, kreatif, profesional, dan konsisten dalam menjalankan fungsi media sebagai bagian dari perjuangan organisasi.

Rakerdasus IV Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten Karawang menjadi momentum untuk melakukan evaluasi, menyusun program kerja, serta memperkuat strategi pengelolaan media dan publikasi perjuangan FSPMI di tengah perkembangan media digital yang semakin pesat.

Pos terkait