Suara Rakyat, Amanah yang Tak Boleh Dikhianati

Suara Rakyat, Amanah yang Tak Boleh Dikhianati

Puisi Oleh : Yanto

Hari ini kalian berdiri,
Dengan pakaian kebesaran dan sumpah yang terucap.
Bunga-bunga menghiasi langkah,
Tepuk tangan mengiringi pelantikan,
Senyum keluarga menjadi saksi kebahagiaan.

Namun, wahai para kepala desa, Ingatlah…
Di balik jabatan yang kini kalian sandang,
Ada harapan rakyat yang harus diperjuangkan,
Ada air mata yang menunggu keadilan,
Ada suara kecil yang ingin didengarkan.

Jangan hanya datang saat membutuhkan suara,
Lalu menghilang setelah duduk di singgasana.
Jangan hanya pandai merangkai janji,
Tetapi lupa menepati setelah diberi kepercayaan.

Kami tidak meminta desa dibangun dengan istana,
Kami tidak menuntut jalan bertabur permata.
Kami hanya ingin pelayanan yang mudah,
Jalan yang layak untuk dilalui,
Bantuan yang tepat bagi yang membutuhkan,
Dan pemimpin yang tidak menutup telinga.

Jadilah pemimpin bagi semua,
Bukan hanya bagi mereka yang memilihmu.
Rangkul yang mendukung,
Hargai yang berbeda,
Dengarkan mereka yang mengkritik,
Sebab kritik bukan musuh,
Melainkan pengingat agar tak salah arah.

Delapan tahun bukan waktu yang sebentar,
Tetapi juga bukan alasan untuk berlama-lama.
Jangan habiskan waktu untuk membalas dendam politik,
Jangan gunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi.
Sebab jabatan hanyalah titipan,
Dan kekuasaan akan selalu ada batasnya.

Wahai 154 kepala desa,
Hari ini kalian menerima amanah,
Bukan sekadar menerima jabatan. Kelak,
rakyat tak akan mengingat
Seberapa megah acara pelantikan,
Seberapa banyak bunga yang diberikan,
Atau seberapa meriah sambutan.

Rakyat hanya akan mengingat
Apakah hidup mereka menjadi lebih baik,
Apakah hak mereka diperhatikan,
Apakah suara mereka didengarkan,
Dan apakah kalian benar-benar hadir
Saat mereka membutuhkan pertolongan.

Sebab pemimpin yang hebat
bukanlah dia yang paling tinggi duduk di kursi kekuasaan,
melainkan dia yang paling dekat dengan rakyatnya.

 

(Didedikasikan untuk 154 kepala desa Kabupaten Bekasi)