Resensi Buku : Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh ?

Buku 'Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh?' yang ditulis oleh Said Iqbal dan Kahar S. Cahyono. Buku ini bisa didapatkan dengan mengirimkan pesan ke WA: 0859-4573-1398

Bogor, KPonline – Seharusnya, bukan saya yang menuliskan resensi buku “Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh ?” yang ditulis oleh dua orang tokoh besar pergerakan dan perjuangan kaum buruh Indonesia. Mungkin orang yang lebih tepat untuk menuliskan resensi buku yang sarat dengan sejarah pergerakan kaum buruh Indonesia ini seharusnya sekelas dosen atau pengamat ternama.

Kalau saya yang “nekat” menulis resensi tentang buku tersebut, tak ayal dan bisa saja terjadi, ayam jantan akan berkokok di saat Dzuhur dan rotasi Bumi akan terhenti untuk sesaat jika ada seseorang membacakan resensi buku tulisan saya ini, meskipun dengan nada yang merdu sekalipun (hehehe).

“Anak kemarin sore” macam saya ini, seharusnya nongkrong di bengkel motor gede, sambil ngoprek mesin chopper atau setidaknya nonton film Dillan sambil ditemani Sang Rembulan.

Dari cover bukunya saja sudah “mengganggu pandangan dan imajinasi”. Bagaimana tidak, sebuah kartu merah seakan-akan “diacungkan” kepada kita, kepada para pembaca buku tersebut tentunya. Pandangan kita akan menerawang ke sebuah pertandingan sepak bola dimana artinya ketika kartu merah tersebut “diacungkan” ke arah langit, maka seketika itu juga harus ada seorang pemain yang harus keluar dari lapangan pertandingan.

Pun begitu, imajinasi kita akan “dikoyak-koyak” dengan situasi dan kondisi dari keadaan negeri yang sangat kita cintai ini. Situasi carut marut perpolitikan dalam negeri yang hampir mirip dengan roman picisan 80-an. Kondisinya yang memang harus memaksa dan terpaksa, kartu merah tersebut harus “diacungkan” kepada pemerintah yang nyata-nyata sudah gagal dalam mengelola negara.

Ini dampak secara langsung atas kegagalan pengelolaan negara tersebut, sangat dirasakan oleh kaum buruh. Memang, si Dillan memang sudah seharusnya diganti atau mungkin dilengser keprabon-kan saja, segera !

Isi Buku

Sejarah pergerakan dan perjuangan kaum buruh, terdokumentasikan dengan apik dan ciamik dalam buku ini. Ditulis dengan detail tanpa ada unsur mengurangi jejak-jejak historis dari kaum buruh itu sendiri. Contoh saja, pembentukan Komite Aksi Jaminan Sosial. Hampir semua buruh yang ada di Indonesia mengakui, minimal mengetahui atau mengenal, apa itu KAJS. Yang sangat mungkin terjadi adalah, banyak kaum buruh Indonesia yang lupa, latar belakang, bagaimana dan kapan KAJS terbentuk dan diikrarkan bersama pada waktu itu.

Yup benar, saya pun juga sudah lupa. Tapi dengan membaca buku “Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh ?”, kita akan dibawa kembali menyusuri jejak-jejak pergerakan kaum buruh Indonesia¬† disaat berkumpul di Hotel Treva pada 6-7 Maret 2010 silam, dalam memperjuangkan Sistem Jaminan Sosial Nasional yang dimana payung hukumnya sudah ada, akan tetapi dalam pelaksanaannya belum juga dilakukan oleh pemerintah. Yang pada akhirnya, lahirlah BPJS yang hingga saat ini pun, program pemerintah tersebut masih harus terus diperbaiki dan diawasi oleh kita semua.

Genderang persatuan buruh yang diawali oleh Majelis Pekerja Buruh Indonesia (MPBI) pada 2012, lalu kemudian menyublim dan mengkristal kembali pada 2013 menjadi Komite Nasional Gerakan Buruh (KNGB). Terpecah pasca Pilpres 2014, pergerakan kaum buruh kembali menguat pada 2015 pada saat terbentuk Gerakan Buruh Indonesia (GBI).

Rekam jejak-jejak pergerakan dan perjuangan kaum buruh Indonesia, didokumentasikan dengan baik di buku ini. Seakan-akan buku ini berbicara kepada kita, kaum buruh tentunya, betapa isi buku ini akan menjadi saksi bisu, menembus batas waktu dan zaman, mengurai sejarah pergerakan dan perjuangan kaum buruh Indonesia, sekaligus mengatakan, bahwa ruang dan waktu tidak akan menjadi penghalang dalam mengingat rekam jejak sejarah pergerakan dan perjuangan kaum buruh Indonesia.

Apa dan bagaimana, perjuangan kaum buruh Indonesia dalam memperjuangkan UMK dan UMSK, terdeskripsikan dengan sangat jelas. Bahkan lagi-lagi, detail mengenai waktu, sangat diperhatikan dalam penulisan buku ini. PP 78/2015, Aksi Mogok Nasional, hingga Aksi 30 Oktober 2015 yang berbuntut panjang hingga kriminalisasi 26 aktivis buruh sampai proses peradilannya, dituturkan dengan baik oleh kedua tokoh buruh tersebut. Sikap politik FSPMI dan KSPI terhadap Pilpres 2014, mendorong kader-kader FSPMI untuk terus belajar, agar siap bertarung pada konstelasi politik 2019 yang akan datang.

Buku ini mengkritisi sikap pemerintah yang seakan-akan tidak peduli dengan penderitaan rakyat. Sebut saja kenaikan tarif dasar listrik (TDL), bahan bakar minyak (BBM), yang berakibat langsung dengan penurunan daya beli masyarakat, rakyat Indonesia tentunya. Aksi 105 watt didepan Gedung MPR/DPR adalah bentuk perlawanan kaum buruh atas kebijakan pemerintah yang nyeleneh itu.

Bagaimana tidak, setelah buruh ditekan dengan PP 78/2015, lalu ditambah lagi dengan dicabutnya subsidi BBM untuk golongan jenis Premium, yang kesemuanya itu berdampak langsung kepada rakyat khususnya kaum buruh, yaitu penurunan daya beli masyarakat atas suatu barang dan jasa. Jika hal itu terjadi, maka hasil-hasil produksi barang dan jasa tentunya juga akan menurun, sehingga buruh-buruh yang memproduksi barang dan jasa tersebut akan terancam keberadaannya.

Penulis, Kahar S. Cahyono (paling kanan) saat membedah buku ”Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh?’ di sela Seminar Kebangsaan di Gedung Joeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (29/4/2018).

Solidaritas buruh di kancah internasional hingga solidaritas kemanusiaan untuk Palestina, Rohingya pun dituliskan dari sudut pandang buruh yang tegas. Bahwa gerakan buruh adalah bagian dari demokrasi dan gerakan kemanusiaan.

FSPMI dan KSPI pun dengan terang benderang menyatakan dalam aksi-aksi kemanusiaan, bahwa buruh juga manusia, dan bagaimana mungkin kita sebagai buruh tidak peduli dengan kemanusiaan? Karena dengan membangun solidaritas baik itu dalam ruang lingkup internal ataupun eskternal, membangun solidaritas di kancah internasional pun sudah seharusnya dilakukan bagi FSPMI dan KSPI.

Karena FSPMI dan KSPI menyadari betapa pentingnya solidaritas bagi kaum buruh maupun bagi kemanusiaan. Karena FSPMI dan KSPI menyadari, sebuah kekuatan besar akan terbangun dari sebuah solidaritas. Itulah makna dari slogan Solidarity Forever bagi kaum buruh, khususnya FSPMI dan KSPI.

Kekuatan kaum buruh laksana gletser yang siap melahap apapun yang mencoba untuk menghalangi dan yang mencoba menggerogoti. Pasca Reformasi 1998, kekuatan besar kaum buruh sudah mulai terbangun, meskipun pasang surut terjadi, api perlawanan kaum buruh sepertinya sulit untuk dipadamkan, karena kaum buruh akan terus melakukan pergerakan dan berjuang.

Kaum buruh akan terus melakukan perlawanan terhadap Lingkaran Setan Kapitalisme yang memang sudah seharusnya dihancurkan. Kaum buruh akan terus mencoba mengakhiri kerakusan korporasi dalam mengeruk dan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia di negeri ini, yang sudah seharusnya dihentikan. Kaum buruh akan terus membendung imperialisme yang sudah mengakar hingga sulit untuk ditumbangkan, hingga praktek-praktek oligarki yang sulit untuk dihapuskan, yang sudah seharusnya dibumi hanguskan dari negeri kita tercinta ini.

Informasi pemesanan dan pembelian buku ‘Pemerintah Gagal Menyejahterakan Buruh?’

Akhir kata

5 kali membaca buku ini, saya diajak kembali untuk membangun kekuatan diri dalam mempersiapkan segala hal. Karena bagaimana pun juga, perjuangan kaum buruh tidak akan berhenti sampai disini. Perjuangan kaum buruh tidak hanya sebatas perundingan dan aksi-aksi massa, akan tetapi lebih dari itu.

Gerakan Politik dan Gerakan Ekonomi kaum buruh, sepertinya akan menjadi salah satu alternatif perjuangan kaum buruh kedepannya. Disamping terus belajar dan berdiskusi, kaum buruh harus mempersiapkan metode-metode baru dalam pergerakan dan perjuangannya. Memperkuat solidaritas, menciptakan dan membangun militansi anggota-anggota serikat buruh/pekerja hingga bersiap menempuh jalur yang curam mendaki dan menurun terjal. Saya percaya, kaum buruh akan terus berlawan.

Mengulas kekurangan buku ini ? Bukan saya tidak berani atau tidak menghormati 2 orang penulis buku ini. Setiap kekurangan akan sirna jika dalam sebuah karya tulis ataupun karya jurnalistik lainnya, kita mengedepankan secara positif sebuah karya seseorang. Karena apapun bentuknya, sebuah karya adalah sebuah seni. Hanya orang-orang berhati emas, berpikiran positif dan berkelakuan baik yang akan mampu melihat sebuah karya.

Hanya satu kekurangan yang ada didalam buku ini, sepertinya penerbit lupa menuliskan nama saya (hehehe)

Oh yaa, satu hal lagi, setelah kamu membaca buku ini, kamu pasti akan berkata, “biarkan kami kaum buruh yang akan terus melakukan perjuangan dan perlawanan ini, si Dillan mah ke laut aja

Angkat tinggi-tinggi kartu merahmu untuk Jokowi !

Wassalam. Tabik!

Rinto Dwi Wahana