Refleksi Akhir Tahun 2017 dan Resolusi 2018 FSPMI Bekasi

  • Whatsapp

Bekasi, KPonline – Kegiatan ini bertema “Arah dan Tujuan Gerakan FSPMI Kab/Kota Bekasi”.

Ini merupakan rangkaian dari acara refleksi akhir tahun 2017 dan resolusi 2018 FSPMI Bekasi. Diselenggarakan di Padepokan Buruh FSPMI, Jonggol, pada hari Rabu-Kamis, tanggal 27-28 Desember 2017.

Bacaan Lainnya

Kegiatan ini dihadiri oleh Pengurus PC SPA FSPMI, Garda Metal, Jamkeswatch, Media Perdjoeangan, OTC, Forum Kawasan serta UBSSM di Kabupaten/Kota Bekasi.

Dalam pembukaan, Ketua KC FSPMI Bekasi Supriyatno mengingatkan semua peserta tentang tujuan FSPMI dengan bersama-sama kembali membacakan ikrar FSPMI.

Kemudian Sukamto, orang tua dengan semangat muda ini mewakili sambutan dari Ketua PC SPA FSPMI Bekasi mengulas kegiatan-kegiatan sebelumnya yang berjalan dan memberikan semangat untuk rencana-rencana kegiatan kedepan.

Nurdin, selaku Anggota Dewan DPRD Kabupaten Bekasi memberikan sambutan mewakili kader-kader FSPMI yang masuk ke pemerintahan.

“Kita tercatat sebagai sejarah, dalam Pilkada juara 3. Meski setelah itu situasi semakin gelap dan perdebatan setelah Pilkada, kemudian kembali ke rel masing-masing.”

Nurdin berharap ada rekan-rekan lain dari FSPMI di DPRD untuk ikut mewarnai pengambilan kebijakan.

Di akhir sambutannya, Nurdin menyampaikan bahwa ‘meski perjuangan FSPMI semakin berat, semoga masih kokoh dan komitmen.

“Semoga dengan keikhlasan dan kekompakan di Jonggol ini jadi saksi kebangkitan kita bersam,” katanya.

Hadir pula perwakilan hakim adhook PHI dari FSPMI,  Aji.

Dia menyampaikan, bahwa acara ini menggugah suasana hatinya. Dia mengaku sangat bahagia bisa berkumpul dengan kawan-kawan Bekasi.

Baris Silitonga mewakili DPW FSPMI Jawa Barat, mengingatkan tentang verifikasi dan upah sektoral.

Dalam agenda pembukaan ini, Obon Tabroni mengatakan bahwa di Bekasi masalah yang ada antar personal itu muncul tidak pernah menimbulkan konflik. Nothing to loss aja. Itu yang berbeda dari Bekasi dengan daerah lain. Dan ini adalah yang di daerah lain tidak punya.

“Sekali lagi, kebersamaan seperti ini adalah budaya organisasi yang kita punya,” katanya.

Hal yang dikhawatikan adalah apakah budaya organisasi ini bisaturun temurun?

Terkait politik, menurut Obon, adalah alat untuk mencapai tujuan. “Caranya salah satunya adalah lewat politik. Yang kita tunjuk sebagai apapun mereka adalah bagian dari tugas organisasi dan jangan sebagai batu loncatan saja,” ujarnya.

Semoga acara ini menghasilkan hal-hal yang luar biasa untuk kemajuan kaum buruh.
(wie)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *