Rapat Jamkeswatch: “Relawan itu kan katamu…”

Mojokerto, KPonline – Pada ajang pesta politik dan penanganan bencana, keberadaan relawan sungguh sangat dibutuhkan. Dalam keadaan seperti itu, relawan pun bermunculan bak jamur di musim penghujan. Bentuk dukung mendukung atau bantu membantu memang tidak bisa dipisahkan dari kerja relawan dan kepentingan yang di tuju.

Namun tidak semua relawan tergantung musim dan arah angin kepentingan, kerja relawan tidak semata memberikan dukungan atau bantuan saja, akan tetapi bisa lebih dari itu. Contohnya adalah relawan Jamkeswatch.

Selain menjadi relawan untuk memberikan sosialisasi maupun advokasi kepada masyarakat terkait jaminan sosial. Relawan Jamkeswatch juga menjadi tim pemantau independen pelaksanaan sistem jaminan sosial nasional yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Sebuah tugas yang berkelanjutan ataukah serampangan?

Menjawab hal itu, Tim Jamkeswatch Jawa Timur melaksanakan rapat rutin wilayah yang ke- 5 yang digelar di Kantor Sekretariat Bersama Konsulat Cabang FSPMI Mojokerto (06/10/2018) dan dihadiri oleh perwakilan Tim Jamkeswatch daerah se- Jawa Timur.

” Relawan iku kan jaremu (relawan itu kan katamu. Red), tinggal kalian saja maunya seperti apa, kita pasti bisa kok, ” Kata Ipang Sugiasmoro koordinator Jamkeswatch Mojokerto selaku tuan rumah saat pembukaan rapat.

Tantangan relawan dalam membantu dan memantau pelaksanaan jaminan sosial memang sangat berat. Kondisi carut marut pelayanan jaminan sosial dan kurangnya harmonisasi antara pihak sering kali harus menyeret masyarakat pada kebingungan, menjadi korban hilangnya hak bahkan sampai apriori terhadap program pemerintah ini.

Dalam ratinwil kali ini jamkeswatch Jawa Timur membahas isu-isu jaminan sosial yang tengah mengemuka di masyarakat baik di BPJS Kesehatan maupun BPJS Ketenagakerjaan. Pembahasan itu diantaranya adalah : mitigasi sistem rujukan online, masalah seputar PBI, pendaftaran sendiri pekerja dalam BPJS, kupas tuntas temuan kasus, bedah regulasi BPJS, keberadaan BPRS dan soal kecelakaan kerja.

“Dari ratinwil ini banyak hal yang kita bahas dan kita rumuskan, ini hasil kerja sebagai relawan dan tim pemantau. Investigasi maupun evaluasi yang dilakukan sangat dibutuhkan untuk perbaikan kedepannya,” Ujar Mujahiddur rahmah koordinator Jamkeswatch Gresik.

Bobby, salah satu pengurus Jamkeswatch Surabaya dan sopir ambulans FSPMI ini mengatakan,” Ruwetnya birokrasi dan regulasi membuat jaminan sosial sering salah kaprah. Ratinwil ini menunjukkan keseriusan dan keberlanjutan kita mengawal jaminan sosial menuju masyarakat yang adil dan sejahtera. Kita lebih dari sekedar relawan,” tegas pria hitam manis ini mengakhiri pembicaraan. (Slamet Hariyanto)