Polisi di Bekasi Represif, Dukungan untuk Obon Tabroni Makin Membesar

  • Whatsapp
Kesibukan di sekretariat Obon Tabroni Centre (OTC). | Foto: Adhie
Kesibukan di sekretariat Obon Tabroni Centre (OTC). | Foto: Adhie

Bekasi, KPonline – Setelah kemarin Polisi membubarkan aksi solidaritas buruh Bekasi, hari ini Obon Tabroni banjir dukungan. Di media sosial, facebook, banyak buruh Bekasi yang menyesalkan sikap aparat kepolisian yang dianggapnya berlebihan dalam melakukan pengamanan. Mereka berkeyakinan, para pengusaha hitam berada dibalik aparat keamanan. Karena itu mereka bertekad untuk memenangkan Obon Tabroni menjadi Bupati Bekasi agar hal seperti ini tidak lagi terjadi.

“Buruh harus ada yang melindungi,”kata seorang buruh yang bekerja di Kawasan Jababeka, Bekasi.

Bacaan Lainnya

Pengamanan berlebihan aparat kepolisian diceritakan pemilik alun facebook Supriyadi Irpus.

“Nggak main-main, pasukan 3 BKO Brimob diturunkan untuk menghalau pergerakkan buruh. Luar biasa bukan? Hanya untuk mengawal aksi damai sampai segitunya.”

Lebih lanjut ia mengatakan, di setiap perempatan sudah ada aparat yang mengarahkan ketika ada rombongan buruh hendak menuju DMC, titik kumpul aksi. Padahal, menurutnya, hal seperti ini tidak ditemui di daerah lain seperti  Karawang, Bogor, Tangerang, bahkan Surabaya. Disana, ketika grebek pabrik denhan memakirkan mobil komando di depan pabrik pun bukan suatu masalah. Tetapi di Bekasi? Jangankan membawa mokom. Hanya untuk bersolidaritas saja diusir. Bahkan ketika teman-teman yang mogok kerja didepan pabriknya sekalipun, tetap dibubarkan paksa.

Tidak hanya Supriyadi Irpus. Ada banyak Irpus Irpus lain yang memposting tulisan bernada sama.

Sebagian mengatakan, justru inilah saatnya mengganti pemimpin Bekasi yang tidak ramah terhadap buruh. Salah satunya disampaikan Adhie Bachtiar.

“Dari kejadian kemarin disaat kawan-kawan hanya sekedar memberikan dukungan dan support pada kawan-kawannya yang mengalami PHK sepihak yang dilakukan pengusaha di Kabupaten Bekasi, tetapi justru mengalami serangan balik dari aparat yang yang notabene penegak keadilan. Birokrasi dan ruang gerak sudah mati. Hanya ada kepentingan dan kekuasaan yang otoriter.”

Selanjutnya Adhie mengatakan, “Miris dan sungguh ironis melihat Kabupaten Bekasi. Bukalah mata hati kita semua. Apakah ini yang dinamakan pemimpin yang cinta akan masyarakatnya? Kolaborasi kepentingan pemodal dan kekuasaan sudah menggelapkan nurani mereka.”

“Militansi dan semangat kita saya pribadi dan teman-teman pasti terus bergelora. Tetapi apakah dengan hanya bermodal itu saja kita bisa merubah keadaan ini, bila arogansi kekuasaan masih diutamakan?” Kata pria yang aktif di Obon Tabroni Centre (OTC) ini.

Ini hanyalah sekedar contoh kecil ketidak beresan di Bekasi. Kenapa kita ingin merubah Bekasi yang lebih baik dan benar. Caranya, menurut Adhie, adalah dengan memilih Obon Tabroni dalam pilkada 2017 nanti.

Saatnya ganti pemimpin Bekasi, yang lebih sayang dan peduli terhadap rakyatnya sendiri. (*)

 

Pos terkait