PIJAR Pusat Resmi Dibentuk, Partai Buruh Siapkan Mesin Media untuk Dongkrak Elektabilitas Partai Buruh dan Suarakan Isu Rakyat

PIJAR Pusat Resmi Dibentuk, Partai Buruh Siapkan Mesin Media untuk Dongkrak Elektabilitas Partai Buruh dan Suarakan Isu Rakyat
Keterangan foto: Suasana jalannya rapat | foto by Budi Santoso

Jakarta, KPonline-Perwakilan dari masing-masing 11 organisasi inisiator pendiri Partai Buruh menghadiri agenda Rapat Pembentukan Kepengurusan Perhimpunan Jurnalis Rakyat (PIJAR) Pusat periode 2026-2031 yang digelar pada Senin (11/5/2026) di Kantor Exco Pusat Partai Buruh, Jakarta Timur.

Selain pembentukan kepengurusan baru, kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam memperkuat peran media Partai Buruh (Pijar), khususnya dalam menghadapi tantangan politik dan pertarungan opini publik menjelang agenda politik nasional 2029 mendatang.

PIJAR sendiri merupakan salah satu sayap perjuangan Partai Buruh yang bergerak di bidang informasi, publikasi, dan jurnalistik kerakyatan. Kehadirannya dinilai strategis untuk menyuarakan berbagai persoalan buruh, petani, nelayan, pekerja informal, hingga kelompok masyarakat akar rumput yang selama ini dinilai kurang mendapatkan ruang di media arus utama.

Dalam rapat tersebut, Vice Presiden Bidang Infokom Partai Buruh, Kahar S Cahyono menegaskan bahwa bulan Juni menjadi momen bersejarah bagi PIJAR. Menurutnya, organisasi tersebut telah berdiri sejak 10 Juni 2022 dan selama empat tahun terakhir terus berkembang menjadi alat perjuangan informasi Partai Buruh.

“Empat tahun keberadaan PIJAR didirikan. PIJAR merupakan sayap partai dalam mempromosikan dan mengenalkan Partai Buruh,” ujar Kahar.

Ia mengungkapkan, berbagai konten yang diproduksi PIJAR bahkan beberapa kali berhasil menjadi trending topic di media sosial tanpa bantuan pihak luar. Seluruh capaian tersebut, kata dia, lahir dari kerja kolektif kader dan relawan yang memulai semuanya dari nol.

“Semua berangkat dari nol, namun bisa mencapai apa yang dicita-citakan,” katanya.

Kahar menilai, tahun 2026 menjadi momentum penting untuk melakukan konsolidasi media dan memperluas jangkauan publikasi partai. Menurutnya, PIJAR memiliki tugas besar dalam meningkatkan popularitas para calon legislatif Partai Buruh agar lebih dikenal masyarakat luas.

“Keterkenalan para caleg ke depan di publik adalah tugas PIJAR dengan memperluas jangkauan sehingga nantinya bisa meningkatkan elektabilitas,” tegasnya.

Ia menjelaskan, salah satu target besar Partai Buruh adalah memastikan kader-kadernya mampu lolos ke DPR RI maupun DPRD di tingkat kabupaten, kota, dan provinsi. Karena itu, Pijar dinilai memiliki peran penting dalam membangun citra dan pengenalan publik terhadap figur-figur partai.

Menurut Kahar, pengalaman pemilu sebelumnya menunjukkan masih banyak calon legislatif Partai Buruh yang hanya dikenal di lingkungan organisasi atau kelompoknya sendiri, namun belum memiliki keterkenalan luas di masyarakat.

“Kita punya waktu cukup untuk mulai membangun popularitas teman-teman yang diprioritaskan menjadi caleg. Ketika pemilu berlangsung nanti, mereka setidaknya sudah dikenal publik,” ujarnya.

Selain fokus pada elektabilitas politik, PIJAR juga didorong menjadi media responsif terhadap situasi sosial, ekonomi, dan politik nasional. Kahar menegaskan bahwa setiap persoalan rakyat harus mampu direspons dan disuarakan oleh Partai Buruh melalui kerja-kerja media yang terorganisir.

Ia mencontohkan, ketika terjadi persoalan petani, buruh, perkotaan, atau kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat, maka bidang-bidang terkait di Partai Buruh harus aktif menyampaikan pandangan dan melakukan intervensi kebijakan melalui ruang publik.

“Supaya partai ini punya ciri, dekat dengan rakyat, sejalan dengan kehendak rakyat, dan menyuarakan persoalan di akar rumput,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Kahar juga memberikan kritik kepada Pijar, dan menyatakan bahwa konten Pijar masih ada yang terlalu identik dengan organisasi serikat pekerja. Menurutnya, ke depan Pijar harus tampil lebih inklusif sebagai sayap partai buruh, bukan sekadar perpanjangan tangan organisasi serikat.

Ia menilai strategi komunikasi partai harus diperbaiki agar masyarakat dapat membedakan antara gerakan serikat pekerja dan aktivitas politik partai.

“Kita tidak boleh terjebak hanya mengkampanyekan serikat. Pijar harus berbicara lebih luas tentang kebijakan, perubahan sistem, dan perjuangan merebut kekuasaan politik demi rakyat,” ujarnya.

Kahar juga menyoroti lemahnya pengelolaan beberapa kanal media sosial partai yang mulai tidak aktif dan tidak tertata dengan baik. Ia meminta agar ke depan ada pembagian yang jelas antara konten milik serikat pekerja dan konten resmi partai.

Menurutnya, penggunaan konten serikat di akun partai justru dapat menimbulkan kesan tidak profesional dan memperkuat stigma bahwa Partai Buruh hanya milik organisasi pendiri tertentu.

“Kalau partai memang dibikin eksklusif untuk partai. Kontennya harus dibuat khusus untuk kepentingan popularitas partai dan menjangkau publik luas,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mendorong agar PIJAR mulai mengeksplorasi berbagai potensi kader dan simpatisan Partai Buruh yang berasal dari beragam profesi seperti dokter, dosen, peneliti, advokat, akademisi, hingga influencer muda.

Menurutnya, keberadaan tokoh-tokoh muda dan profesional tersebut dapat menjadi kekuatan baru untuk memperluas daya tarik Partai Buruh di tengah masyarakat.

“Banyak potensi di partai yang harus dieksplorasi. Ada anak-anak muda, akademisi, dokter, advokat, peneliti, dan profesi lainnya yang bisa memperkuat pengaruh partai di publik,” katanya.