Momen Yang Langka vs Buzzer

  • Whatsapp

Bogor, KPonline – Ada beberapa pesan melalui Messenger dan Whatsapp, yang mempertanyakan soal dokumentasi saat Aksi Menuntut Pencabutan Omnibus Law sebagai Undang-undang pada 6-8 Oktober 2020 yang lalu. Mereka mempertanyakan soal anarkisme yang terjadi pada saat aksi tersebut terjadi. “Buruh anarkis! Mahasiswa anarkis! Pendemo brutal!. Dan itu semua adalah jelas-jelas hasil framing media-media arus utama, yang kuat dugaan, mereka lebih takut dibredel pemerintah ketimbang menyuarakan kebenaran. Bukankah suara rakyat adalah suara Tuhan?

“Apa nggak ada, dokumentasi yang menyejukkan pas aksi kemarin Mas? Mungkin ada. Tapi saya belum mendapatkannya beberapa hari yang lalu. Hingga kemarin, ada seseorang yang mengirimkannya ke saya lewat pesan Whatsapp. Ada beberapa foto yang membuat hati saya terenyuh, bergetar dan mulai menyesakkan dada. Karena tanpa sadar, ada setitik air yang menyembul dari sudut bola mata saya. Terharu.

Bacaan Lainnya

Ada sebuah foto, seorang aparat kepolisian yang menggendong seorang mahasiswi. Berdasarkan keterangan dari sang pengirim foto, ketika itu pecah bentrokan antara pendemo yang mayoritas adalah buruh dan mahasiswa Cianjur. Ahh, saya koq jadi baper yaa melihat foto tersebut. Dan sepertinya mereka akan “jadian” pasca aksi demonstrasi tersebut. Siapa sangka bukan?


Ada juga foto, ketika seorang mahasiswa dan seoranga aparat kepolisian sedang makan siang bersama. Dalam satu bungkus nasi yang sama. Kuat dugaan, mereka bersahabat. Hanya saja, jalan hidup yang mereka pilih berbeda. Atau foto anggota Pasukan Anti Huru-hara yang sedang memberikan sebotol air mineral kepada  pendemo, melewati sebuah pagar yang menghalangi keduanya.

Momen-momen langka tersebut, jarang sekali diekspos oleh media-media arus utama. Bahkan, semenjak RUU Omnibus Law tersebut digulirkan oleh pemerintah melalui Jokowi, hingga proses pembuatan Undang-undang sapu jagat tersebut, pun bisa dikatakan sangat sedikit media arus utama yang meliputnya.

Kembali ke UU Cipta Kerja yang ternyata tidak menciptakan lapangan kerja. Banyak kalangan masyarakat yang nyinyir terhadap apa yang dilakukan kaum buruh. “Demo melulu luh kerjanya! Mending kerja daripada demo yang gak jelas! Dasar buruh gak tau bersyukur!

Jlebbb.. Sakit memang, tapi itulah hidup. Apa yang kita lakukan dan kerjakan, akan ada sekelompok manusia yang akan berkomentar miring. Akan ada pasukan buzzer yang terus mengintai. Biarkan. Karena memang itu pekerjaan mereka.

Beberapa pesan juga menanyakan, “Kenapa banyak elemen masyarakat yang menolak Omnibus Law?”. Saya cuma jawab, “Sudah baca belum?”

Sudah mirip kayak Bapak itu belum ? (RDW)

Pos terkait