Kurelakan Engkau Pergi, Ika

Jakarta, KPonline – Hampir lupa kapan waktu pertama kali bertemu dengannya. Tapi, bagaimana rasanya yang tidak akan mungkin aku lupakan. Ach, mungkin aku sudah menapaki usia senja, rambut dan janggutku pun sudah mulai memutih. Mungkin aku lupa hari, lupa tahun, tapi rasa itu tidak akan pernah bisa aku lupakan.

Tatapan wajahmu waktu itulah yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Senyum simpul seribu bahasa, seakan-akan menerpa lembut hatiku yang terdalam. Kita masih sama-sama masih muda waktu itu. Bekerja dikantor yang sama, dan seringnya kita bertemu, salah satu penyebab, kenapa akhirnya aku tautkan hati ini kepadamu.

Dengan kelembutan dan penuh kasih, kau curahkan segalanya untukku dan keluarga. Hingga akhirnya, Soraya terlahir kedunia yang fana ini, satu dari keajaiban dan keindahan yang Tuhan berikan kepadaku. Ada kelengkapan yang akhirnya Tuhan berikan. Sebuah anugerah sekaligus amanah yang akan terus aku jaga, hingga akhir hayat.

Aktivitasku sebagai pemimpin pergerakan buruh, tak pernah membuat kau gundah, resah atau bahkan mungkin membuat dirimu marah. Kau dampingi aku, kau dorong aku, bahkan tak segan dan sungkan, kau beri aku masukan dan saran. Andaikata ada malaikat didunia ini, aku akan katakan, kaulah malaikat itu.

Belasan tahun lamanya, kau harus bergelut dengan Lupus. Menahan sakit dan perihnya cobaan yang terus menerus menerpamu. Lupus adalah penyakit peradangan (inflamasi) kronis yang disebabkan oleh sistem imun atau kekebalan tubuh yang menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Lupus dapat menyerang berbagai bagian dan organ tubuh seperti kulit, sendi, sel darah, ginjal, paru-paru, jantung, otak, dan sumsum tulang belakang.

Aku tahu, betapa penyakit tersebut terus menggerogoti tubuhmu, hari demi hari, bulan berganti tahun. Tapi engkau tetap tegar, dan terus bertahan.

Hingga, malam itu, 17 Juli 2019, kau harus segera bertemu dan menghadap Sang Pencipta. Malam itu merupakan malam terpanjang yang pernah kita lewati bersama. Malam yang tak kan mungkin bisa aku lupakan, pun meski harus aku relakan kepergianmu, untuk selama-lamanya.

Malam itu terasa panjang sekali rasanya.

18 Juli 2019 siang ini, kita kedatangan tamu yang sangat banyak sekali. Lihatlah, rumah kita dipenuhi tamu-tamu dari berbagai daerah. Mereka jauh-jauh datang untuk melihatmu, untuk menatapmu, dan memberikan penghormatan terakhir untukmu. Lihatlah, tengoklah mereka. Bahkan mereka rela berdiri, berdesak-desakan untuk mengantarkanmu. Kerumahmu yang terakhir.

Bersama sahabat, kerabat dan teman dekat, kuangkat kendaraanmu yang tak beroda dan mungkin hanya satu kali saja akan engkau rasakan. Bersama-sama kita sholat berjama’ah, hanya untuk mensholatkan engkau. Sholat yang untuk terakhir kalinya.

Kuangkat dan kugotong kendaraanmu ini, hingga rumah peristirahatanmu yang terakhir kalinya. Kuantar engkau hingga liang lahat, bahkan kupapah engkau hingga pembaringanmu yang terakhir ini. Sebuah lubang, dimana setiap manusia pasti akan merasakannya. Sebuah rumah terakhir bagi dirimu saat ini, bagi diriku pada suatu saat nanti, dan bagi setiap insan yang masih hidup saat ini.

Akan kupanjatkan doa disetiap malam-malamku, hanya untukmu. Akan kupastikan hal itu aku jalani di hari-hariku tanpa dirimu, mulai saat ini hingga akhir nanti. Tidak ada kata yang sanggup untuk terucap. Hanya bisa kuucapkan dalam relung hatiku yang paling dalam, “Kurelakan engkau pergi, Ika.” (RDW)

Facebook Comments