Cirebon, KPonline-Memasuki hari keempat perjalanan bersama, KSPI dan LO Norwegia kembali melanjutkan agenda kunjungan lapangan. Setelah sebelumnya mengunjungi PT Leea Foot Wear Indonesia, perusahaan yang memproduksi sepatu ASICS, rombongan pada Kamis (13/8/2026) mendatangi PT Indocement Tunggal Prakarsa di Cirebon.
PT Indocement Tunggal Prakarsa merupakan perusahaan besar dengan jumlah pekerja lebih dari 4.000 orang yang tersebar di tiga wilayah, yakni Cirebon, Bogor, dan Cilacap, dengan pembagian unit atau plant di masing-masing wilayah.
Dari sisi hubungan industrial, Indocement dinilai memiliki kondisi yang relatif baik. Upah pekerjanya berada di atas rata-rata, kesejahteraan telah berjalan cukup baik, sementara Perjanjian Kerja Bersama (PKB) juga menjadi salah satu instrumen penting dalam mengatur hubungan antara pekerja dan perusahaan.
Namun, bagi KSPI dan LO Norwegia, kunjungan ini tidak berhenti pada soal berapa besar upah atau seberapa baik PKB. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: seberapa kuat organisasi pekerja mampu menjaga, mengawal, dan memperjuangkan kepentingan anggotanya di tengah perubahan dunia kerja?
Rombongan diterima Ketua PUK Serikat Pekerja Indocement Tunggal Prakarsa, Heri Hardian, bersama jajaran pengurus PUK. Pertemuan berlangsung terbuka dan dilanjutkan dengan diskusi mengenai pengorganisasian atau organizing.
Organizing bukan sekadar aktivitas mencari dan menambah anggota. Ia merupakan proses membangun organisasi agar memiliki struktur yang jelas, pembagian tugas yang tegas, koordinasi yang kuat, serta kemampuan menggerakkan anggota untuk mencapai tujuan bersama.
Dalam diskusi tersebut, ditekankan bahwa pengorganisasian harus dimulai dari pemahaman terhadap tujuan organisasi, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan struktur, pembagian tugas berdasarkan kemampuan, pengaturan kewenangan, hingga mekanisme koordinasi dan pengawasan.
Di sinilah tantangan sebenarnya bagi serikat pekerja. Organisasi yang besar belum tentu kuat jika struktur di bawahnya tidak berjalan. Jumlah anggota yang banyak tidak otomatis menjamin daya tawar apabila tidak dibarengi kaderisasi, administrasi yang rapi, komunikasi yang efektif, serta kemampuan pengurus membaca perubahan yang terjadi di tempat kerja.
Karena itu, pengalaman Indocement menjadi bagian penting dalam pembelajaran organizing. Kondisi hubungan industrial yang relatif baik tidak boleh membuat organisasi pekerja kehilangan kewaspadaan. Justru ketika kondisi sedang baik, serikat harus memperkuat fondasi organisasi agar mampu menghadapi perubahan dan potensi persoalan di masa depan.
Setelah diskusi panjang dan terbuka, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke pemandian air panas di wilayah Cirebon. Agenda hari itu ditutup dengan makan bersama sebagai bagian dari membangun komunikasi dan solidaritas antarpeserta.
Kunjungan KSPI dan LO Norwegia ini menunjukkan satu hal penting: organizing bukan pekerjaan sehari, bukan sekadar pelatihan, dan bukan hanya soal menambah jumlah anggota. Organizing adalah membangun kekuatan kolektif agar serikat pekerja tetap hidup, solid, kritis, dan memiliki daya tawar dalam menghadapi perubahan dunia kerja.



