Dalam hidup, manusia tidak pernah benar-benar bisa lari dari dua hal yang selalu berdampingan: baik dan buruk, benar dan salah. Semua hadir silih berganti mengisi perjalanan manusia sejak dilahirkan hingga kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada kehidupan tanpa ujian. Tidak ada kebaikan tanpa keburukan sebagai pembandingnya.
Di dalam keyakinan Islam, manusia bahkan diingatkan bahwa setiap perbuatan tidak pernah benar-benar luput dari pengawasan. Allah menciptakan malaikat pencatat amal, yang dikenal sebagai Raqib dan Atid, untuk mencatat seluruh amal baik dan buruk manusia. Selain itu ada pula Malaikat Munkar dan Nakir yang akan bertanya di alam kubur, serta Malik dan Ridwan yang menjadi penjaga neraka dan surga. Konsep ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia memang selalu berada dalam lingkaran pertanggungjawaban moral.
Namun persoalan tentang baik dan buruk tidak pernah sesederhana hitam dan putih. Apa yang menurut seseorang baik, belum tentu dianggap baik oleh orang lain. Apa yang terasa buruk bagi seseorang, bisa jadi justru menjadi jalan menuju kebaikan bagi yang lain.
Dalam kajian filsafat Islam dan akhlak, konsep baik dan buruk memang menjadi perdebatan panjang. Ada yang memandang akal manusia mampu menentukan baik dan buruk. Ada pula yang menegaskan bahwa ukuran sejati tentang benar dan salah harus kembali kepada wahyu dan ketentuan Tuhan.
Karena itulah manusia sering terjebak dalam penilaian subjektif. Banyak orang menganggap dirinya berada di pihak yang benar, hanya karena niatnya merasa baik. Padahal niat baik tidak selalu menghasilkan kebaikan. Dalam berbagai diskusi publik bahkan muncul ungkapan terkenal bahwa “jalan menuju neraka sering dipenuhi niat baik.” Sebab manusia kerap menilai dirinya berdasarkan niat, sementara menilai orang lain berdasarkan hasil tindakannya.
Di titik inilah manusia seharusnya belajar rendah hati. Sebab tidak semua yang tampak buruk benar-benar buruk di hadapan Tuhan. Begitu pula tidak semua yang terlihat baik benar-benar bernilai benar.
Sejarah kehidupan manusia penuh dengan contoh tentang hal tersebut. Ada orang yang dicaci pada zamannya, namun kemudian dikenang sebagai pembawa kebenaran. Ada pula mereka yang dipuja-puja ketika berkuasa, tetapi akhirnya tercatat sebagai pelaku kezaliman. Waktu selalu menjadi saksi bahwa kebenaran memiliki caranya sendiri untuk muncul ke permukaan.
Kebenaran memang bisa ditunda, disembunyikan, bahkan ditekan. Tetapi ia tidak pernah benar-benar mati.
Karena sejatinya, hidup bukan soal menjadi paling benar di mata manusia. Hidup adalah tentang bagaimana manusia tetap menjaga nurani, tetap berpihak pada kejujuran, dan tetap berjalan di atas keyakinan meski sering disalahpahami.
Kadang manusia terlalu sibuk menghakimi orang lain, seolah dirinya paling suci. Padahal di saat yang sama, malaikat pencatat amal tetap bekerja tanpa henti, mencatat seluruh ucapan, tindakan, bahkan niat yang tersembunyi di dalam hati.
Baik dan buruk akan selalu ada. Benar dan salah akan terus menjadi bagian dari kehidupan. Tetapi satu hal yang tidak pernah berubah adalah bahwa setiap manusia pada akhirnya akan mempertanggungjawabkan seluruh langkahnya.
Maka tidak perlu terlalu sibuk membenci ketika merasa diperlakukan buruk. Tidak perlu pula terlalu tinggi hati ketika merasa berada di pihak yang benar. Sebab hidup hanyalah perjalanan singkat menuju pengadilan yang sesungguhnya.
Dan pada akhirnya, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri.