Kapal yang Menolak Berkarat di Dermaga: Pesan Persatuan Rifqi Mubarok di Seremonial Pelantikan Pimpinan Pusat SPEE FSPMI

Kapal yang Menolak Berkarat di Dermaga: Pesan Persatuan Rifqi Mubarok di Seremonial Pelantikan Pimpinan Pusat SPEE FSPMI

Cikarang, KPonline-Di ballroom hotel Swiss Belinn, Cikarang, Kabupaten Bekasi, sejarah kembali dicatat oleh Serikat Pekerja Elektronik Elektrik Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (SPEE FSPMI). Dimana, pelantikan pengurus pimpinan pusat periode 2026–2031 yang dilakukan pada Kamis (11/6/2026) bukan sekadar seremoni. Ia menjelma menjadi panggung tempat idealisme, loyalitas, dan sindiran halus terhadap mereka yang memilih berjalan sendiri dipertontonkan secara terbuka.

Rifqi Mubarok sebagai Vice Presiden Div. Bid. Aksi FSPMI dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur sekaligus pesan politik organisasi yang kuat. Di hadapan para pengurus, anggota, dan tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia, Rifqi mengingatkan bahwa perjalanan organisasi telah melewati fase penting pasca Kongres FSPMI dan Musyawarah Nasional yang melahirkan kepemimpinan baru di bawah Presiden FSPMI Suparno bersama Sekretaris Jenderal FSPMI Sabilar Rosyad.

Dengan nada yang tenang namun mengandung makna mendalam, Rifqi menegaskan bahwa seluruh proses organisasi telah selesai. Keputusan telah diambil. Kepemimpinan telah ditetapkan. Menurutnya, tidak ada lagi ruang untuk mempertentangkan hasil yang telah menjadi keputusan organisasi.

Namun sebagaimana lazimnya sebuah rumah besar, selalu ada penghuni yang lebih sibuk menghitung ukuran kamarnya sendiri daripada menjaga kokohnya fondasi bangunan.

“Bahwasannya bukan lagi menjadi rahasia umum, ada sekelompok orang yang egoisme menjadi faktor utama sehingga melakukan tindakan-tindakan di luar kebersamaan dan kesepahaman kita semua,” ujar Rifqi.

Kalimat itu meluncur seperti anak panah yang tidak menyebut sasaran, tetapi semua orang di ruangan tampaknya memahami ke mana arahnya ditujukan.

Di dunia pergerakan buruh, perpecahan sering kali lahir bukan karena perbedaan cita-cita, melainkan karena terlalu banyak orang yang ingin menjadi nahkoda sementara kapal yang mereka rebutkan belum tentu bergerak ke mana-mana. Sebagian sibuk memperdebatkan kursi, sementara ombak ketidakadilan terus menghantam buruh di luar sana.

Rifqi tampaknya ingin mengingatkan bahwa Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia bukanlah panggung bagi individu yang haus tepuk tangan, melainkan rumah perjuangan yang dibangun oleh ribuan buruh dengan pengorbanan panjang.

“Rumah besar ini adalah milik kita bersama,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disambut tepuk tangan panjang dari peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh, Kepulauan Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Kalimantan Tengah hingga Makassar.

Kemudian, Rifqi berkali-kali menekankan pentingnya persatuan, persaudaraan, dan kesetiaan organisasi. Baginya, kesejahteraan buruh dan keadilan sosial tidak akan pernah lahir dari ego pribadi, melainkan dari kemampuan seluruh elemen organisasi untuk berdiri dalam satu barisan.

Pesan itu terasa relevan di tengah dinamika gerakan buruh yang belakangan kerap diwarnai konflik internal. Ironisnya, kadang-kadang musuh terbesar organisasi bukanlah perusahaan yang melakukan union busting, bukan pula regulasi yang dianggap merugikan pekerja, melainkan rasa paling benar yang tumbuh di antara sesama pejuang.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa gerakan buruh selalu kuat ketika berjalan bersama, dan selalu rapuh ketika terlalu sibuk bertengkar tentang siapa yang paling berjasa.

Momentum pelantikan PP SPEE FSPMI periode 2026–2031 sendiri dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Penasehat Khusus Presiden Republik Indonesia Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Indonesia, Said Iqbal, Plt. Bupati Bekasi, anggota DPRD, jajaran pimpinan federasi, serta perwakilan serikat pekerja dari berbagai daerah.

Namun bagian paling menarik dari pidato Rifqi justru hadir menjelang penutupan sambutannya.

Ia mengutip sebuah perumpamaan tentang kapal yang indah ketika bersandar di dermaga. Kapal terlihat bersih, tenang, dan aman ketika tidak menghadapi ombak. Akan tetapi, kata Rifqi, kapal tidak diciptakan untuk selamanya berdiam di pelabuhan.

Kapal dibuat untuk menembus lautan.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi mengandung kritik yang tajam.

Sebab dalam setiap organisasi selalu ada orang-orang yang lebih nyaman menjadi penonton daripada pelaut. Mereka menikmati cahaya lampu dermaga, menikmati pujian, menikmati status, tetapi enggan menghadapi badai perjuangan.

Padahal sejarah tidak pernah ditulis oleh mereka yang memilih berlabuh terlalu lama.

Sejarah ditulis oleh mereka yang berani mengangkat jangkar, memecah gelombang, dan mengambil risiko tenggelam demi mencapai tujuan.

Pelantikan SPEE FSPMI periode 2026–2031 akhirnya menjadi lebih dari sekadar acara seremonial. Ia menjadi penanda bahwa setelah kongres usai, setelah munas berakhir, setelah seluruh perdebatan selesai, saatnya organisasi kembali berlayar.

Karena menurut Rifqi Mubarok, kapal perjuangan buruh Indonesia tidak dibangun untuk menjadi pajangan di dermaga kekuasaan.

“Ia dibangun untuk mengarungi samudra ketidakadilan, menghadapi badai zaman, dan membawa para pekerja menuju pelabuhan kesejahteraan yang selama ini diperjuangkan bersama,” pungkasnya.