Jazuli Paparkan Sejarah dan Arah Perjuangan Buruh FSPMI di Forum MUSNIK IV ISEKI

Jazuli Paparkan Sejarah dan Arah Perjuangan Buruh FSPMI di Forum MUSNIK IV ISEKI

Pasuruan, KPonline – Sambutan penuh semangat dan sarat pesan strategis disampaikan Ketua DPW FSPMI Jawa Timur sekaligus Ketua EXCO Partai Buruh Jawa Timur, H. Jazuli, S.H., dalam acara Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) IV PUK SPAMK FSPMI PT ISEKI Indonesia yang digelar di RM Kurnia, Gading, Kota Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (25/4/2026).

 

Bacaan Lainnya

Dalam pidatonya, Jazuli mengajak seluruh peserta untuk menengok kembali perjalanan panjang perjuangan FSPMI di Pasuruan. Ia menyampaikan bahwa sejak tahun 2008 FSPMI mulai berdiri di Pasuruan, kemudian pada 2009 hingga 2010 sudah mampu menempatkan wakilnya di Dewan Pengupahan baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

 

“Perjuangan tidak instan. Tahun 2011 hingga 2012 mulai kita intens melakukan perjuangan upah, hingga mencapai puncaknya pada tahun 2013,” ungkapnya.

 

Ia juga menegaskan bahwa sejarah penting lainnya terjadi pada tahun 2014, ketika 1 Mei resmi ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional (May Day), yang menjadi simbol pengakuan atas perjuangan kaum pekerja.

 

Jazuli mengingatkan bahwa perjuangan upah minimum sektoral (UMSK) bukanlah hal yang mudah. Saat itu, tantangan datang dari berbagai pihak, mulai dari APINDO, pemerintah, hingga sebagian pimpinan serikat pekerja sendiri.

 

“Namun berkat konsistensi dan kekuatan gerakan, akhirnya pada Juni 2013 UMSK berhasil ditetapkan oleh Gubernur, meskipun saat itu hanya Kabupaten Pasuruan yang berhasil. Dari situlah daerah lain di ring 1 Jawa Timur mulai mengikuti,” jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Jazuli juga menekankan pentingnya momentum perjuangan May Day tahun 2026. Ia menyampaikan beberapa tuntutan utama yang harus terus diperjuangkan.

 

Pertama, mendesak segera disahkannya RUU Ketenagakerjaan, mengingat waktu yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi tinggal lima bulan.

 

Kedua, ia menyoroti ketidakadilan dalam kebijakan pajak terhadap pekerja perempuan yang sudah menikah namun masih diperlakukan sebagai pekerja lajang.

 

Ketiga, isu lokal terkait akses pendidikan, yakni mendorong adanya kuota minimal 10 persen bagi anak buruh dalam penerimaan siswa baru (SPMB) di SMA/SMK Negeri.

 

Selain itu, Jazuli juga mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan organisasi serta mendorong penyelesaian Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di PT ISEKI Indonesia.

 

Menutup sambutannya, ia memberikan apresiasi dan harapan kepada seluruh peserta MUSNIK.

 

“Selamat melaksanakan Musnik, semoga menghasilkan keputusan terbaik demi kemajuan organisasi dan kesejahteraan anggota,” pungkasnya.

(Dede Faisal RA)

Pos terkait