Jangan Abaikan K3

  • Whatsapp
Obon Tabroni Saat mengunjungi korban laka lantas PT Epson

Jakarta, KPonline – Isu terkait keselamatan kerja menjadi semakin penting dewasa ini. Menurut data International Labour Organization (ILO), terdapat sekitar 6.000 insiden fatal yang terjadi setiap harinya di lingkungan kerja di seluruh dunia.

Di Indonesia, insiden kecelakaan kerja terjadi hampir setiap harinya dari setiap 100 ribu pekerja. Dari jumlah itu, 30 persen diantaranya terjadi pada sektor konstruksi.

Sedangkan data BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan pada akhir 2015 terdapat 105.182 kasus insiden kerja dengan korban meninggal mencapai 2.375 orang.

Pemerintah melalui Kementerian Tenaga Kerja (Kemenaker) berharap agar implementasi sistem manajemen keselamatan kerja dapat segera diterapkan berbagai perusahaan di tanah air. Hal ini karena dari sekitar 221 ribu perusahaan yang tergolong high risk, masih banyak yang belum menerapkan sistem K3 dengan baik.

“Penerapan sistem manajemen K3 yang baik penting untuk dilakukan oleh berbagai perusahaan. Mindset tentang K3 jangan hanya sebatas kertas dan para ahli K3 di Indonesia harus berperan nyata di bidang ini,” ujar Direktur Pengawasan Norma Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PNK3) Kemenaker Amri Ak, sebagaimana dikutip liputan6.com.

Terkait ini, Kementerian Tenaga Kerja bekerjasama dengan SAI Global Indonesia berkomitmen untuk mendukung visi pemerintah untuk mengimplementasikan Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) atau Health Safety Environment (HSE) yang baik di berbagai sektor industri dan manufaktur melalui penerapan ISO 45001.

Keeping workers dan environment safe adalah prioritas utama untuk semua perusahaan, untuk itu setiap perusahaan harus menerapkan sistem manajemen HSE secara serius dan dengan komitmen penuh,” ujar David Ngalusi, Managing Director Sai Global Indonesia. Ini diungkapkann David pada acara bertajuk HSE Conference “How to Improve HSE Performance” di Hotel Dharmawangsa Jakarta pada hari ini.

HSE Conference menjadi ajang bertukar informasi antara pelaku bisnis, pemerintah dan profesional HSE. “Kami berharap acara ini dapat menjadi ajang forum berkumpulnya para HSE profesional , pelaku bisnis dan tentunya pemerintah di wakili oleh Kementerian Tenaga Kerja RI dalam bertukar informasi, ilmu dan pengalaman,” imbuhnya.

Sementara Prana Aditya, National Sales Manager SAI Global Indonesia menyatakan, tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan dalam mengelola HSE adalah munculnya perubahan lingkungan operasi internal dan eksternal dalam mengidentifikasi bahaya dan mengelola risiko tersebut.

Sehingga diperlukan upaya-upaya peningkatan performa HSE melalui sertifikasi sistem manajemen dan pengoptimalan penggunaan perangkat teknologi.

“Penggunaan teknologi dapat membantu perusahaan dalam membangun budaya HSE dan memastikan aspek-aspek HSE menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, dimana proses capturing, monitoring dan reporting data dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja,” ujar Prana.