Jakarta, KPonline-Praktik Trainers Training Module (TTM 1) Batch 2 yang diselenggarakan di PT Transportasi Jakarta resmi ditutup dengan sesi sosialisasi dan advokasi BPJS Kesehatan. Sabtu, (4/7/2026).
Kegiatan ini menjadi pelengkap materi pelatihan setelah sebelumnya peserta mendapatkan pembekalan mengenai Kebebasan Berserikat dengan tema “Membangun Serikat Pekerja yang Kuat, Mandiri, dan Demokratis.”
Pada sesi penutupan, Nurlaksono Adji dari Jamkeswatch hadir sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya perlindungan jaminan kesehatan bagi pekerja dan keluarganya. Materi yang disampaikan berfokus pada hak-hak peserta BPJS Kesehatan sekaligus peran serikat pekerja dalam memberikan pendampingan kepada anggotanya.
Dalam paparannya, Nurlaksono Adji menegaskan bahwa advokasi BPJS Kesehatan merupakan salah satu bentuk nyata perjuangan serikat pekerja di luar persoalan hubungan industrial.
Menurutnya, banyak pekerja yang masih mengalami kendala dalam mengakses layanan kesehatan maupun memahami hak-haknya sebagai peserta BPJS Kesehatan.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian besar dari peserta adalah mengenai mekanisme penambahan anak keempat dalam kepesertaan BPJS Kesehatan. Topik tersebut sering menjadi pertanyaan di kalangan pekerja karena berkaitan langsung dengan perlindungan kesehatan anggota keluarga.
Nurlaksono Adji menjelaskan bahwa setiap persoalan administrasi maupun kepesertaan harus dipahami berdasarkan ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, pekerja diimbau untuk tidak ragu berkonsultasi apabila menghadapi kendala, sehingga dapat memperoleh solusi yang tepat melalui jalur yang benar.
Ia juga menekankan bahwa kehadiran Jamkeswatch bukan hanya untuk memberikan sosialisasi, tetapi juga melakukan advokasi terhadap pekerja yang mengalami kesulitan dalam mengakses hak pelayanan kesehatan. Pendampingan diberikan agar peserta BPJS Kesehatan memperoleh pelayanan yang sesuai dengan ketentuan dan tidak kehilangan haknya akibat kurangnya informasi.
Menurutnya, masih banyak persoalan di lapangan, mulai dari kendala administrasi, perubahan data kepesertaan, hingga persoalan pelayanan di fasilitas kesehatan. Dalam kondisi seperti itu, pendampingan dari Jamkeswatch menjadi sangat penting agar pekerja tidak menghadapi permasalahan tersebut sendirian.
Peserta terlihat antusias mengikuti sesi tanya jawab. Berbagai persoalan yang selama ini dihadapi terkait BPJS Kesehatan disampaikan secara langsung kepada narasumber, sehingga diskusi berlangsung interaktif dan memberikan solusi yang bermanfaat bagi seluruh peserta.
Melalui kegiatan ini, peserta juga diingatkan bahwa kader serikat pekerja harus memiliki pemahaman yang baik mengenai program jaminan sosial. Dengan bekal tersebut, mereka diharapkan mampu membantu rekan-rekan pekerja ketika menghadapi persoalan terkait BPJS Kesehatan di lingkungan kerjanya masing-masing.
Jamkeswatch berharap sinergi dengan FSPMI dapat terus diperkuat melalui kegiatan pendidikan dan sosialisasi seperti ini. Semakin banyak kader yang memahami mekanisme BPJS Kesehatan, maka semakin luas pula jangkauan advokasi yang dapat diberikan kepada para pekerja dan keluarganya.
Sesi sosialisasi ini melengkapi rangkaian Praktik TTM 1 Batch 2, yang sebelumnya diisi dengan penguatan kapasitas kader dalam bidang kebebasan berserikat. Dengan adanya materi advokasi BPJS Kesehatan, peserta tidak hanya dibekali kemampuan organisasi, tetapi juga pengetahuan praktis mengenai perlindungan sosial bagi pekerja.
Melalui pendidikan yang berkelanjutan serta penguatan fungsi advokasi, FSPMI bersama Jamkeswatch diharapkan mampu terus hadir sebagai garda terdepan dalam memperjuangkan hak-hak pekerja. Tidak hanya memperjuangkan kesejahteraan di tempat kerja, tetapi juga memastikan setiap pekerja dan keluarganya memperoleh akses terhadap layanan kesehatan yang layak melalui BPJS Kesehatan.