Bukan tentang seberapa jauh perjalanan ditempuh, bukan pula tentang seberapa keras suara orasi perjuangan diteriakkan. Solidaritas sejati adalah ketika kaki tetap melangkah dengan hati yang tetap teguh karena ada saudara seperjuangan yang membutuhkan pertolongan.
Purwakarta, KPonline-Malam tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti. Gelap tidak selalu berarti kehilangan arah. Sebab bagi mereka yang memahami arti persaudaraan dalam perjuangan, ada panggilan yang jauh lebih kuat daripada rasa lelah, dinginnya malam, ataupun beratnya perjalanan.
Itulah potret perjalanan Garda Metal Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Purwakarta yang bertolak menuju Cianjur dengan menggunakan mobil komando (Mokom) bernama Si Jalu.
Perjalanan kali ini bukan sekadar perpindahan dari satu daerah ke daerah lain. Ada cerita tentang kesetiakawanan, ada makna tentang persaudaraan, dan ada pesan yang jauh lebih dalam mengenai arti solidaritas dalam sebuah gerakan buruh Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia.
Menyusuri jalan alternatif di tengah malam, Si Jalu bersama rombongan harus melewati jalur yang tidak mudah. Jalanan gelap gulita, tanjakan dan turunan silih berganti, sementara disisi kiri dan kanan jalan, terbentang jurang yang seolah mengingatkan bahwa perjalanan ini membutuhkan kewaspadaan dan keberanian.
Dipimpin Sulistiyanto sebagai Presiden Mokom Si Jalu, dan Sekretaris Garda Metal FSPMI Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) FSPMI PT. Hino Motors Manufacturing Indonesia, Mereka (Garda Metal FSPMI Purwakarta) melintasi kawasan Waduk Cirata menuju Cianjur.
Tidak ada kemewahan dalam perjalanan itu. Tidak ada karpet merah yang menyambut roda si Jalu. Hanya jalanan berliku, gelapnya malam, dan tekad untuk tetap berjalan bersama. Namun, justru disitulah makna solidaritas menemukan bentuknya.
Bagi Sulistiyanto, solidaritas itu bukan sekadar retorika. Solidaritas harus hidup dalam tindakan nyata.
Sebab, kata Sulistiyanto, solidaritas organisasi adalah tentang manusia yang saling menguatkan, tentang tangan yang saling menggenggam, dan tentang kesediaan untuk tidak membiarkan saudara seperjuangan berjalan sendirian.
Malam Senin 1 November 2026, perjalanan dari Purwakarta menuju Cianjur menjadi sebuah referensi bahwa jarak geografis tidak seharusnya menjadi batas bagi persaudaraan.
Singkatnya, solidaritas bukan tentang siapa yang paling dekat ketika keadaan mudah, melainkan siapa yang tetap datang berempati ketika perjalanan menjadi sulit.
Dibalik deru mesin Si Jalu yang dikemudikan Suhendar (Acil). Ada pesan yang jauh lebih besar bahwa perjuangan tidak mengenal batas wilayah, persaudaraan tidak mengenal sekat daerah, dan kesetiakawanan tidak boleh berhenti apa pun keadaannya.
Setidaknya, Garda Metal membawa nilai yang selama ini menjadi napas gerakan buruh FSPMI: “Solidarity Forever”. Dan pukul 23.00 WIB, Garda Metal FSPMI Purwakarta tiba di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Cianjur.
Untuk diketahui, Garda Metal FSPMI Purwakarta rencananya akan mengikuti aksi unjuk rasa di Kabupaten Cianjur pada Senin, 2 November 2026.
Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI Jawa Barat menginstruksikan jajaran FSPMI Jawa Barat untuk hadir dalam aksi di Kantor Pemerintahan Kabupaten Cianjur atas dugaan permasalahan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak yang dialami oleh salah satu Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) di Kabupaten tersebut.
Lokasi aksi pun akan dilakukan di Gedung Pemerintahan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat dengan tuntutan: “Tindak tegas pengusaha yang melakukan pelanggaran normatif terhadap hukum ketenagakerjaan yang berlaku”.



