Bekasi, KPonline – Perjuangan buruh di era digital tidak hanya berlangsung di tempat kerja, meja perundingan, atau jalanan, tetapi juga di ruang siber. Arus informasi yang begitu cepat menuntut kaum buruh memiliki kemampuan memilah informasi, mengenali propaganda yang menyesatkan, serta melawan penyebaran berita bohong atau hoaks.
Pentingnya pemahaman tersebut menjadi salah satu materi dalam Pelatihan Dasar Jurnalistik yang diselenggarakan Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi di Gedung Konsulat Cabang (KC) FSPMI, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Minggu (1/11/2026).
Kegiatan ini diikuti 51 peserta yang merupakan perwakilan Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPA FSPMI) dari wilayah Kabupaten/Kota Bekasi dan Karawang.
Dari empat pemateri yang hadir, salah satunya adalah Mohamat Indrayana, S.H., yang menyampaikan materi tentang Cyber dan Propaganda.
Dalam pemaparannya, Mohamat Indrayana menjelaskan bahwa ruang siber kini menjadi bagian penting dalam perjuangan buruh. Media digital bukan sekadar sarana menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun opini publik, menyuarakan aspirasi, dan memperjuangkan kepentingan kaum pekerja.
Namun, ruang digital juga menyimpan tantangan. Penyebaran berita bohong, propaganda yang menyesatkan, hingga pembentukan opini publik yang merugikan serikat pekerja merupakan persoalan yang harus dihadapi dengan pengetahuan dan kemampuan berpikir kritis.
Oleh karena itu, kader buruh, khususnya mereka yang terlibat dalam aktivitas media dan komunikasi organisasi, perlu memahami bagaimana informasi diproduksi, disebarluaskan, dan memengaruhi cara pandang masyarakat.
Kemampuan mengenali informasi yang tidak benar menjadi penting agar buruh tidak mudah terprovokasi, terjebak dalam narasi yang menyesatkan, atau ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Di sisi lain, pemahaman tentang propaganda juga dapat membantu kader serikat pekerja menyusun komunikasi yang lebih efektif dalam menyampaikan persoalan ketenagakerjaan kepada publik.
“Buruh tidak cukup hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga harus mampu menjadi produsen informasi yang benar, berimbang, dan bertanggung jawab.” katanya
Melalui materi Cyber dan Propaganda ini, peserta diharapkan semakin memahami pentingnya literasi digital dalam perjuangan organisasi. Dengan demikian, media dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memperkuat solidaritas, membangun kesadaran kolektif, dan menyampaikan fakta-fakta perjuangan buruh kepada masyarakat luas.
Pelatihan Dasar Jurnalistik Media Perdjoeangan Bekasi ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas kader agar mampu mendokumentasikan, menulis, dan menyebarluaskan informasi perjuangan secara profesional.
Sebab, di tengah derasnya arus informasi dan pertarungan opini di ruang digital, kemampuan menyampaikan fakta merupakan salah satu kekuatan penting dalam perjuangan kaum buruh.