Dodi, Mutasi dan Jeritan Hati

  • Whatsapp

Bogor, KPonline – “Ya nggak tau, niat mereka apa. Karena pada awalnya, mereka (pihak HRD/GA) bilang ke saya kalau plant yang di Tangerang membutuhkan SDM yg berpengalaman. Tapi nyatanya, saya disini cuma jadi tukang panggul bongkar muat. Sejujurnya, hati kecil saya ingin di-PHK saja Bang” ujar Dodi kepada Media Perdjoeangan melalui pesan Whatsapp.

Sepenggal percakapan tersebut, baru kami tuliskan hari ini, dikarenakan betapa banyak hal yang harus kami pertimbangkan. Tidak hanya demi keamanan dan kenyamanan Dodi (bukan nama sebenarnya) ditempat kerjanya yang baru. Akan tetapi, memang dari pihak Dodi sendiri, “mewanti-wanti” saya agar tidak terlalu vulgar membahas hal tersebut. Terlebih mengangkat dan membahas hal ini di media. “Karena mungkin, sepertinya saya dan kawan-kawan yang lain, harus tiarap dulu Bang. Mendinginkan suasana yang saat ini sedang hangat, antara pihak Pengurus PUK saya dengan pihak Management, khususnya Manager HRD/GA di Bogor” pesan Dodi kepada Media Perdjoeangan.

Muat Lebih

Tersebutlah Dodi dan Surdi (keduanya bukan nama sebenarnya) yang merupakan anggota FSPMI, yang dimana mereka bekerja di salah satu perusahaan pembuat alat-alat kebutuhan rumah tangga diseputaran Ciawi, Bogor. Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba mereka berdua “ditugaskan” keluar daerah, tepatnya ke Plant Tangerang yang notabene hanya digunakan sebagai kantor cabang bagi para staff dan gudang penyimpanan.

“Ya mungkin aja, intinya mereka ingin mengeluarkan orang-orang seperti saya yang sudah menjadi karyawan tetap tanpa melalui proses PHK. Ya supaya mengundurkan diri mungkin aja kan Bang. Dan mungkin juga ingin menghancurkan serikat pekerja. Ya FSPMI. Yang saya lihat dan perhatikan sih selama ini kayak gitu Bang” lanjut Dodi.

Menempati sebuah kontrakan yang sempit, Dodi dan Surdi harus berbagi tempat dan luas kontrakan dengan ukuran 3×6 meter minus kamar mandi. Tak hanya itu, mereka berdua pun harus rela terpisah jarak dan waktu dengan anak-anak dan istri mereka di Bogor. “Ya paling-paling, 2 minggu sekali lah pulang ke Bogor. Kalau untuk kontrakan, bulan ini masih ditanggung sama perusahaan. Nggak tau deh Bang, bulan berikutnya. Itu juga hasil perjuangan PUK” tutur Dodi.

Diatas notulen perundingan hasil mediasi dengan pihak HRD/GA, mereka hanya diberikan fasilitas kontrakan. Tidak ada keterangan yang jelas dan detail mengenai rentang waktu, hingga kapan “pemberdayaan SDM berpengalaman” tersebut akan berakhir. Dan untuk fasilitas penunjang yang lain pun tidak ada.

Bahkan untuk tunjangan makan dan minum pun tidak diberikan, dengan alasan tidak ada biaya untuk hal-hal tersebut. “Bahkan, sebelum saya menyetujui “mutasi kerja” ini, saya sudah meminta kepada pihak Management agar memberikan tunjangan uang makan sebesar 50 ribu rupiah per hari.

Tapi mereka tidak mau memberikan juga, dengan alasan yang sama, mereka tidak bisa menyediakan” jawab Dodi sambil memandang langit-langit kontrakan yang tidak ada hiasan apapun, kecuali lampu bohlam 20 watt.

“Saat ini saya bingung aja Bang. Berat bagi saya untuk memilih. Di satu sisi  saya dengan berat hati harus menerima “mutasi kerja” ini. Tapi disisi lain, dari segi ekonomi saya masih sangat membutuhkan pekerjaan dan penghasilan dari pekerjaan saya ini.

Anak-anak dan istri saya yang sekarang menjadi tolak ukur saya dalam mengambil setiap keputusan. Karena sebagai kepala rumah tangga, tentunya saya yang bertanggung jawab. Abang pasti paham yang saya maksud. Kalau seandainya saya mengambil jalur mengundurkan diri, atuh bodoh banget saya kan Bang. Cuma 15 juta nanti yang bakal saya dapatkan.” tutur Dodi dengan intonasi yang mulai mendeskripsikan kepedihan.

Apa yang dialami oleh Dodi dan Surdi, saat ini sedang diterapkan oleh pengusaha-pengusaha hitam. Yang menginginkan anggota-anggota serikat pekerja mengundurkan diri atau serikat pekerja tersebut bubar dengan sendirinya.

Yaitu dengan cara-cara yang sangat patut dicurigai, sebagai langkah-langkah dalam memberangus serikat pekerja/serikat buruh. Yaitu melalui mekanisme mutasi, relokasi tempat usaha, intimidasi, dan berbagai cara lainnya.

Pos terkait