Dibuka Sekretaris Umum PP SPAMK FSPMI, KSPI Gelar Pelatihan Negosiasi Sektor Otomotif untuk Perkuat Kapasitas Pengurus Serikat

Dibuka Sekretaris Umum PP SPAMK FSPMI, KSPI Gelar Pelatihan Negosiasi Sektor Otomotif untuk Perkuat Kapasitas Pengurus Serikat

Bandung, KPonline-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menggelar Pelatihan Negosiasi Sektor Otomotif, Mesin, dan Komponen sebagai upaya meningkatkan kapasitas pengurus serikat pekerja dalam memperkuat kemampuan berunding, khususnya dalam penyusunan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja KSPI yang bekerja sama dengan Union Aid Abroad–APHEDA Australia dan SASK.

Pelatihan berlangsung selama dua hari, Kamis-Jumat (23–24 Juli 2026), di Golden Flower Hotel, Jalan Asia Afrika No. 15–17, Kota Bandung, Jawa Barat dan diikuti 20 peserta dari berbagai PUK SPAMK FSPMI. Selain penyampaian materi mengenai teknik negosiasi, kegiatan juga diisi dengan penyusunan rencana aksi dan tindak lanjut program sebagai langkah memperkuat jaringan negosiator serikat pekerja di sektor otomotif, mesin, dan komponen.

Bacaan Lainnya

Acara dibuka oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Serikat Pekerja Automotif, Mesin dan Komponen (PP SPAMK) FSPMI, Engkos Kosasih, yang mewakili Ketua Umum Pimpinan Pusat Serikat Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Khoirul Bakri, karena berhalangan hadir akibat agenda organisasi lainnya.

Dalam sambutannya, Engkos menyampaikan bahwa meskipun SPAMK FSPMI baru terbentuk sekitar tujuh hingga delapan bulan, organisasi tersebut terus bergerak cepat menjalankan berbagai program strategis.

“Meski usia organisasi masih sangat muda, kami tidak ingin berjalan lambat. Setelah menggelar seminar nasional tentang mobil listrik, hari ini kami melaksanakan pelatihan teknik negosiasi sektor otomotif. Ini menunjukkan komitmen PP SPAMK untuk terus meningkatkan kualitas organisasi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa seluruh program yang dijalankan merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas pengurus hingga tingkat PUK agar memiliki kemampuan menghadapi tantangan hubungan industrial yang semakin kompleks.

Engkos juga mengingatkan pentingnya dukungan seluruh jajaran organisasi terhadap setiap program yang telah disusun oleh pimpinan pusat. Menurutnya, keberhasilan organisasi tidak hanya ditentukan oleh pengurus pusat, tetapi juga oleh kesiapan dan partisipasi aktif pengurus di tingkat cabang maupun PUK.

“Kami berharap seluruh peserta benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar. Program seperti ini diperoleh melalui perjuangan yang panjang. Tidak mudah bagi FSPMI hingga akhirnya dipercaya menjadi pelaksana program bersama APHEDA Australia dan KSPI,” tegasnya.

Ia mengungkapkan bahwa sebelum akhirnya dilaksanakan oleh SPAMK FSPMI, program tersebut melalui proses seleksi yang melibatkan berbagai federasi di lingkungan KSPI maupun organisasi internal FSPMI.

Karena itu, Engkos mengingatkan agar seluruh peserta menghargai kesempatan tersebut dengan menunjukkan kedisiplinan dan kesungguhan selama mengikuti pelatihan.

“Kalau sudah diberi kesempatan mengikuti pelatihan, maka manfaatkan sebaik-baiknya. Bangun semangat belajar, bangun solidaritas, dan jadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal memperkuat perjuangan di tempat kerja masing-masing,” katanya.

Menurut Engkos, kemampuan melakukan negosiasi merupakan salah satu kunci keberhasilan serikat pekerja dalam menghasilkan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) yang berkualitas.

“PKB adalah mahkota organisasi. Karena itu kemampuan bernegosiasi harus terus ditingkatkan agar setiap pengurus mampu memperjuangkan hak-hak anggotanya melalui dialog yang konstruktif dan profesional,” ujarnya.

Ia juga berharap pelatihan tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi program yang berkelanjutan melalui forum diskusi dan konsultasi antar peserta setelah kegiatan selesai.

Sebagai bagian dari tindak lanjut, seluruh peserta juga tergabung dalam grup komunikasi PKB Just Transition (JTRS) yang akan menjadi wadah berbagi pengalaman, konsultasi, dan penguatan kapasitas negosiator serikat pekerja.

Sementara itu, materi pelatihan juga ak disampaikan oleh sejumlah pengurus PP SPAMK FSPMI, diantaranya Marupi, Kusianto, dan Sugeng sebagai hakim Ad-hoc.

KSPI juga melengkapi pelaksanaan kegiatan dengan Kerangka Acuan Kegiatan (KAK) Pelatihan Negosiasi Perjanjian Kerja Bersama (PKB) Sektor Otomotif, Mesin, dan Komponen sebagai pedoman pelaksanaan program.

Melalui pelatihan ini, KSPI berharap lahir lebih banyak negosiator serikat pekerja yang kompeten, mampu membangun strategi perundingan yang efektif, serta mendorong terciptanya hubungan industrial yang harmonis, adil, dan berkelanjutan di sektor otomotif, mesin, dan komponen.

Pos terkait