Di Bawah Fly Over Cibinong

  • Whatsapp

Bogor, KPonline –  Pertengahan musim hujan, Februari 2015.

Entah, sudah berapa gerbang pabrik yang telah didatangi Rahmi dan teman-temannya. Mereka memcoba mencari pekerjaan baru, setelah di PHK dari tempatnya bekerja.

Gadis berkulit kuning langsat lulusan SMA ini, satu dari sekian ribu pencari kerja. Sebelumnya, ia bekerja dengan status outsourching.

Outsourcing adalah kata yang sangat menakutkan untuk pencari kerja. Kata yang membuat rasa percaya diri untuk meraih impian masa depan dan cita-cita kemapanan seakan-akan ambruk bak dihantam ombak.

Outsourching, kerja kontrak, kini pemagangan, hanya itu yang tersedia dan disediakan oleh para pemilik modal. Sistem yang sepertinya telah mewabah ke seantero negeri. Salah satu korbannya adalah Rahmi.

Seperti biasa, kaum urban dan pencari kerja yang baru saja lulus akan segera membuat Kartu Kuning di Disnakertrans dan SKCK di Polsek terdekat. Sudahlah begitu, ketika diterima bekerja, statusnya hanya kontrak.

Ironisnya, setelah dikontrak berkali-kali, kemudian dibuang tanpa pesangon. Kadang atas nama efesiensi, atau apapun itu namanya.

Rahmi dan ratusan teman yang senasib dengannya, harus kembali gigit jari. Mau tidak mau, suka tidak suka, mereka harus menganggur kembali. Kenyataan yang pahit, bukan?

Usia Rahmi yang mulai menginjak usia 23 sudah mulai was-was dan khawatir, karena akan dianggap sudah usang dan tidak produktif lagi. Akan semakin sulit mendapat pekerjaan di usia 23 tahun ke atas.

Sakit, pedih, bingung. Segala perasaan berkecamuk dalam pikirannya.

Rahmi goyah. Ia adalah sosok penopang perekonomian keluarga. Hidup harus berlanjut. Ia harus terus mencari pekerjaan baru.

Awan mendung menaungi peluh dan keringat yang membasahi tubuh indahnya. Ia memiliki wajah yang rupawan. Entahlah. Mengapa nasib baik tak memihak. Mestinya ada Production House yang meliriknya, atau pemilik produk yang mungkin saja Rahmi menjadi Brand Ambassador dari produk ternama.

Keringat mulai menetes dari sela-sela rambut hitamnya yang sebahu. Diseka tissue yang sedari pagi tak pernah lepas dari genggamannya. Tissue yang agak sedikit kumal dan mulai kotor masih saja setia menemani tetesan keringatnya, meskipun ia tahu bahwa selembar tissue tersebut sudah mulai kotor.

Sore yang mendung mulai menggoda keteguhan jiwanya. Mendung dan mulai gelap, semendung relung-relung hatinya yang paling dalam. Teringat ibunya yang sudah mulai renta dan ayahnya yang entah kemana. Guncangan jiwanya mulai berkata. “Kemana ku harus mencari kerja?”

Keimanan seseorang akan diuji oleh situasi dan kondisi, termasuk Rahmi. Apa mau dikata, perut yang lapar dan haus akan keinginan dan juga cita-cita membuat Rahmi semakin gelap mata. Berkecamuk hatinya. “Maafkan aku, bu…”

Bersandar di tembok tinggi dan kokoh dibawah Fly Over didaerah pinggiran Ibukota, lirikan mata Rahmi mulai menyapu dari sudut ke sudut. Mencari sesuatu yang bernama uang. Dan yang tentu saja uang yang berada di kantong seseorang, laki-laki hidung belang yang haus akan nikmat fana duniawi. Bahkan, kemeja putih dan celana hitam khas para pencari kerjanya pun sudah semakin berdebu. Dekil dan kumal. Tapi, sekali cantik tetap saja cantik. Sesuatu yang indah akan tetap indah meskipun debu dan kotoran menutupinya.

Bagaikan pungguk merindukan bulan, tak lelah dan tak kenal putus asa, matanya tetap menari dan mencari. Laki-laki yang “haus” akan nikmat duniawi dan ia berharap segera mendapati. Karena rasa lapar dan ketidak mampuan, Rahmi merelakan tubuhnya demi sesuap nasi.

Tahukah anda, soal pekerjaan adalah soal kehidupan. Jika negara abai sehingga hak mendapatkan pekerjaan tak terpenuhi, ia akan menjadi tragedi.

Penulis: Rinto