Departemen Perempuan FSPMI Konsolidasi Kepengurusan 2026–2031, Perkuat Kepemimpinan Perempuan dan Regenerasi Gerakan Buruh

Departemen Perempuan FSPMI Konsolidasi Kepengurusan 2026–2031, Perkuat Kepemimpinan Perempuan dan Regenerasi Gerakan Buruh

Jakarta, KPonline – Departemen Perempuan FSPMI menggelar rapat koordinasi pada 24 April 2026 dengan agenda utama membahas perubahan dan pergantian kepengurusan periode 2026–2031, sekaligus menyusun arah strategis gerakan perempuan dalam memperkuat perjuangan buruh ke depan.

Rapat dipimpin langsung oleh Wakil Presiden Bidang Perempuan FSPMI, Mundiah, dan dihadiri perwakilan rekomendasi dari PP SPA FSPMI. Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi organisasi, sekaligus menyiapkan kepemimpinan baru yang mampu menjawab tantangan perjuangan buruh yang semakin kompleks.

Bacaan Lainnya

Dalam sambutannya, Mundiah menegaskan bahwa pergantian kepengurusan bukan sekadar rotasi jabatan, melainkan momentum memperkuat arah gerakan perempuan FSPMI agar lebih progresif, responsif, dan mampu menjawab kebutuhan anggota di berbagai sektor.

“Pergantian kepengurusan harus menjadi ruang lahirnya energi baru dalam perjuangan. Kita ingin kepemimpinan baru hadir dengan visi yang kuat, berintegritas, dan mampu memperbesar peran perempuan dalam gerakan serikat pekerja,” tegas Mundiah.

Selain membahas struktur kepengurusan baru, rapat juga memfokuskan pembahasan pada penyusunan program kerja Departemen Perempuan FSPMI untuk lima tahun ke depan sebagai pijakan utama menjalankan agenda organisasi secara terarah dan berkelanjutan.

Mundiah menekankan bahwa penyusunan program kerja harus merujuk pada 15 hasil program kerja Konvensi Perempuan FSPMI pasca kongres dan Munas, agar arah gerakan tetap konsisten, terukur, dan memiliki basis perjuangan yang jelas.

Menurutnya, program kerja tidak boleh berhenti sebagai dokumen organisasi semata, tetapi harus diwujudkan melalui kerja-kerja nyata di lapangan untuk memperkuat posisi perempuan pekerja dan memperjuangkan hak-haknya secara konkret.

Salah satu poin penting yang juga mengemuka dalam rapat adalah pentingnya memperkuat kolaborasi lintas bidang, khususnya dengan Departemen Pekerja Muda FSPMI, sebagai bagian dari strategi membangun gerakan yang solid sekaligus menyiapkan regenerasi kepemimpinan organisasi.

Sinergi dengan pekerja muda dinilai menjadi langkah strategis untuk melahirkan kader-kader perempuan muda yang tangguh, militan, dan siap mengambil peran kepemimpinan di masa depan.

Mundiah menegaskan bahwa perempuan FSPMI harus memiliki ketangguhan, integritas, dan keberanian dalam setiap lini perjuangan, karena perempuan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sejarah maupun masa depan gerakan buruh.

“Perempuan bukan pelengkap dalam gerakan buruh, tetapi kekuatan utama yang harus terus diperkuat,” tegasnya.

Rapat koordinasi ini juga menjadi ruang diskusi terbuka bagi peserta untuk menyampaikan berbagai aspirasi dan masukan terkait arah organisasi ke depan. Beragam pandangan yang muncul dinilai menjadi kekuatan untuk memperkaya strategi gerakan perempuan FSPMI.

Sepanjang jalannya forum, para peserta menunjukkan komitmen kuat untuk mendukung perubahan kepengurusan serta menjalankan program kerja yang telah dirancang secara bersama, dengan semangat kolektif dan solidaritas organisasi.

Melalui pergantian kepengurusan periode 2026–2031 ini, Departemen Perempuan FSPMI diharapkan mampu melahirkan kader-kader baru yang progresif, berintegritas, dan memiliki visi perjuangan yang kuat dalam membela hak-hak buruh, khususnya pekerja perempuan.

Rapat koordinasi ini menjadi langkah awal memperkuat posisi strategis perempuan di tubuh FSPMI, sekaligus menegaskan bahwa perempuan akan tetap menjadi bagian penting di setiap lini perjuangan gerakan buruh Indonesia.

Pos terkait