Demo tidak, Demo tidak

Demo tidak, Demo tidak
Presiden KSPI Said Iqbal di lokasi demo buruh di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (6/9/2022)

Yang satu mengatakan aksi Agustus tidak perlu.

Yang lain mengatakan bukan tidak perlu. Hanya ditunda.

Bahkan ada rencana turun lagi pada akhir Agustus.

Begitulah buruh.
Semakin besar gerakannya, semakin banyak pula cara berpikirnya.

Dan itu sebenarnya bukan sesuatu yang buruk.

Dalam sebuah rumah tidak mungkin semua orang selalu sepakat soal kapan pintu harus dibuka.

Yang penting jangan sampai mereka lupa bahwa mereka masih tinggal di rumah yang sama.

Persoalannya menjadi menarik karena yang sedang diperdebatkan bukan hal kecil.

RUU Ketenagakerjaan sedang dibahas.
Ada soal outsourcing.

Ada soal upah.

Ada soal perlindungan pekerja.
Ada soal masa depan hubungan industrial.
Maka wajar kalau sebagian buruh merasa harus turun ke jalan.

Tapi wajar pula kalau sebagian lainnya merasa meja perundingan justru sedang terbuka.

Ada yang sudah menyampaikan usulan kepada DPR.

Ruang dialog dengan pemerintah juga mulai terbuka.

Maka aksi Agustus ditunda.

Bukan dibatalkan selamanya.

Kalau dialog menghasilkan sesuatu, buat apa demo?
Tetapi kalau dialog hanya menghasilkan foto bersama dan secangkir kopi, sementara tuntutan buruh tidak bergerak, tentu pertanyaannya menjadi lain.
Untuk apa dialog?

Di sinilah saya kira buruh sedang diuji.
Bukan diuji apakah berani berdemo.
Itu sudah biasa.

Tetapi apakah buruh bisa membedakan antara strategi dan gengsi.

Demo adalah strategi kalau memang diperlukan.

Dialog juga strategi kalau memang menghasilkan sesuatu.

Yang tidak boleh adalah menganggap cara sendiri paling benar hanya karena cara kelompok lain berbeda.

Buruh yang berdemo jangan mencibir buruh yang memilih dialog.

Buruh yang berdialog jangan mencibir buruh yang memilih turun ke jalan.

Sebab pada akhirnya, yang menentukan keberhasilan bukan berapa banyak spanduk yang dibawa.

Bukan juga berapa banyak orang yang memenuhi jalan.

Tetapi apa yang berubah setelah semuanya selesai.

Kalau satu juta orang turun ke jalan tetapi pasal yang merugikan pekerja tetap masuk ke undang-undang, apa gunanya?

Sebaliknya, kalau hanya lima orang duduk di ruang rapat tetapi berhasil mengubah pasal yang merugikan jutaan pekerja, bukankah itu juga perjuangan?

Mungkin sudah waktunya buruh tidak sibuk menghitung siapa yang paling banyak turun ke jalan.

Hitung saja hasilnya.
Sebab perjuangan buruh bukan lomba membuat kerumunan.

Bukan pula lomba siapa paling keras berteriak.

Perjuangan buruh adalah memastikan ketika RUU Ketenagakerjaan selesai, buruh tidak keluar dari gedung DPR sebagai pihak yang dirugikan

Demo boleh.
Dialog boleh.
Ditunda boleh.
Dilanjutkan juga boleh.

Asalkan satu hal jangan ikut ditunda:
kepentingan buruh.