Jakarta, KPonline-Perjuangan panjang penuh air mata dan pengorbanan masih terus dijalani para mantan pekerja yang tergabung dalam PUK SPAI FSPMI PT Firna Glass (FNG). Delapan tahun sejak perusahaan dinyatakan pailit, ratusan buruh masih menunggu kepastian pembayaran hak pesangon yang hingga kini belum mereka terima.
Bagi para pekerja, perjuangan ini bukan sekadar persoalan administrasi kepailitan, melainkan menyangkut hak yang diperoleh dari puluhan tahun pengabdian kepada perusahaan. Banyak di antara mereka yang telah bekerja selama puluhan tahun sebelum akhirnya perusahaan mengalami kebangkrutan.
Sejak PT Firna Glass dinyatakan pailit, para pekerja memilih bertahan dan mendirikan tenda perjuangan di sekitar area perusahaan. Tenda tersebut menjadi simbol perlawanan dan harapan agar hak-hak mereka tidak diabaikan dalam proses pemberesan aset perusahaan.
Ketua dan pengurus PUK SPAI FSPMI PT Firna Glass menyampaikan bahwa selama bertahun-tahun para pekerja ikut menjaga aset perusahaan agar tidak hilang maupun berpindah tangan secara tidak bertanggung jawab. Mereka mengaku menjalankan komitmen tersebut berdasarkan kesepakatan bahwa setelah aset perusahaan terjual, hak pesangon pekerja akan dibayarkan.
Namun harapan tersebut perlahan berubah menjadi kekecewaan. Hingga saat ini proses penjualan aset perusahaan telah berlangsung dan sebagian besar aset telah terjual. Bahkan kini hanya tersisa gedung dan tanah perusahaan yang belum diselesaikan dalam proses pemberesan.
Di tengah penantian panjang itu, para pekerja justru menerima kabar yang membuat mereka terpukul. Mereka mengaku mendapatkan informasi bahwa hak pesangon pekerja tidak akan dibayarkan, sebuah pernyataan yang memicu kemarahan dan keresahan di kalangan mantan karyawan PT Firna Glass.
Kondisi tersebut dinilai sangat menyakitkan bagi para pekerja yang selama delapan tahun bertahan memperjuangkan haknya. Dari sekitar 270 pekerja yang dahulu bersama-sama memulai perjuangan, kini banyak yang telah meninggal dunia tanpa sempat menikmati hasil perjuangan dan menerima hak pesangon yang mereka nantikan.
Para buruh menilai keadaan ini sebagai bentuk ketidakadilan yang tidak seharusnya terjadi. Mereka mempertanyakan bagaimana pekerja yang telah mengabdi puluhan tahun justru harus berjuang bertahun-tahun hanya untuk mendapatkan hak normatif yang seharusnya dijamin oleh hukum.
Menurut pengurus PUK SPAI FSPMI PT Firna Glass Andi , perjuangan ini akan terus dilakukan sampai terdapat kepastian mengenai pembayaran pesangon. Mereka menegaskan tidak akan menyerah meskipun berbagai hambatan terus menghadang proses penyelesaian hak pekerja.
Sebagai bentuk keseriusan perjuangan, para pekerja telah mendatangi Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk meminta kejelasan mengenai proses kepailitan yang sedang berjalan. Mereka berharap lembaga terkait dapat memberikan kepastian hukum atas nasib hak-hak para pekerja.
PC SPAI FSPMI juga menegaskan akan melakukan perlawanan terhadap setiap pihak yang dianggap mengabaikan atau menghilangkan hak pekerja. Bagi mereka, persoalan pesangon bukan hanya soal uang, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap martabat dan pengabdian para buruh selama bekerja.
Dalam semangat perjuangan kelas, para mantan pekerja terus melakukan konsolidasi dan mengajak seluruh elemen buruh untuk memberikan dukungan. Mereka meyakini solidaritas merupakan kekuatan utama dalam memperjuangkan keadilan bagi pekerja yang terdampak kepailitan perusahaan.
Perjusngsn PC SPAI FSPMI menggelar aksi massa dengan menggeruduk dan mengepung Pengadilan Negeri Jakarta Pusat serta Kantor Pusat Bank ICBC di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat. Aksi tersebut dilakukan untuk menuntut kepastian pembayaran hak pesangon dan meminta seluruh pihak terkait bertanggung jawab atas penyelesaian hak pekerja.
Meskipun delapan tahun telah berlalu, semangat perjuangan buruh eks PT Firna Glass tidak pernah padam. Mereka bertekad untuk terus berdiri, melawan, dan memperjuangkan hak pesangon hingga keadilan benar-benar ditegakkan bagi seluruh pekerja yang terdampak kepailitan perusahaan.
Sampai detik ini para buruh ex PT firna glass (Fng) masih bertahan di depan pabrik PT firna glass di kawasan industri Pulo gadung .