Surabaya, KPonline–Musyawarah Cabang (Muscab) II Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan (SPLP) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kota Surabaya menjadi momentum penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus menyusun langkah strategis menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan yang semakin kompleks.
Kegiatan yang berlangsung pada minggu 7 Juni 2026 di Gedung Pertemuan Remaja, Jalan Dukuh Kupang XXV No. 52, Surabaya, ini dihadiri jajaran pengurus dan anggota SPLP FSPMI kota surabaya.
Dalam sambutannya, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) SPLP FSPMI, Ganang, SH, menegaskan bahwa Kota Surabaya memiliki posisi strategis sebagai poros perjuangan kaum buruh, khususnya bagi SPLP FSPMI.
“Surabaya memiliki potensi besar untuk menambah jumlah anggota dan menjadi pusat penguatan organisasi. Karena itu, diperlukan strategi yang tepat serta kemampuan membaca situasi dan tantangan yang ada,” ujar Ganang.
Menurutnya, salah satu fokus utama organisasi ke depan adalah peningkatan jumlah anggota melalui berbagai metode rekrutmen yang efektif. Selain itu, evaluasi terhadap keaktifan pembayaran Contribution of Solidarity (COS) juga harus dilakukan secara berkala setiap enam bulan sekali sebagai bagian dari upaya memperkuat kemandirian organisasi.
Ganang berharap Muscab II mampu menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang dapat mendorong pertumbuhan anggota dan berdampak positif terhadap distribusi serta penguatan COS di lingkungan SPLP FSPMI.
Dalam kesempatan tersebut, Ganang juga menyoroti terbitnya Permenaker Nomor 7 Tahun 2026 yang dinilai menjadi tantangan serius bagi gerakan buruh. Menurutnya, regulasi tersebut berpotensi memperluas praktik outsourcing dan semakin mempersempit kesempatan generasi mendatang untuk memperoleh status sebagai pekerja tetap.
“Kita menolak segala bentuk kebijakan yang semakin memperluas outsourcing. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka anak-anak kita ke depan akan semakin sulit mendapatkan kepastian kerja sebagai pekerja tetap,” tegasnya.
Lebih lanjut, Ganang mengingatkan bahwa Muscab bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan, melainkan forum penting untuk merumuskan program kerja organisasi yang berorientasi pada peningkatan keanggotaan dan penguatan perjuangan hak-hak buruh.
Ia juga mengajak seluruh pengurus untuk menjaga keberlangsungan organisasi, termasuk mempertahankan keberadaan minimal empat PUK sebagai syarat organisasi. Bahkan jika memungkinkan, jumlah PUK harus terus ditingkatkan.
Selain mengedepankan konsep lobi dan aksi dalam perjuangan, Ganang mengingatkan pentingnya mengamalkan filosofi Jawa sebagai pedoman dalam menjalankan organisasi.
“Ngluruk tanpo bolo, digdaya tanpo aji, menang tanpo ngasorake”.
Filosofi tersebut mengajarkan bahwa perjuangan harus dilakukan dengan kebijaksanaan, kekuatan moral, serta tanpa merendahkan pihak lain.
Sebagai langkah konkret, PP SPLP FSPMI mendorong pengurus di semua tingkatan untuk membangun komunikasi yang baik dengan perusahaan. Sebelum terjadi persoalan hubungan industrial, pengurus diharapkan aktif melakukan kunjungan kerja, bertemu dengan PUK maupun manajemen perusahaan untuk membangun hubungan yang positif.
“Kita harus mampu mempromosikan hal-hal baik tentang rumah besar kita, FSPMI, dengan cara yang elegan. Ketika terjadi persoalan yang tidak bisa diselesaikan sendiri, maka serahkan kepada ahlinya agar mendapatkan penyelesaian yang tepat,” pesannya.
Muscab II SPLP FSPMI Kota Surabaya diharapkan menjadi titik tolak penguatan organisasi, peningkatan keanggotaan, serta konsolidasi perjuangan buruh dalam menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan di masa mendatang.