Berbisnis Tenaga Kerja: Saya Bekerja Untuk Mendapatkan Uang, Tapi Kenapa Justru Dimintai Uang?

Ilustrasi pekerja.

Jakarta, KPonline – Seseorang bekerja untuk mendapatkan bayaran, atau yang bisa disebut upah. Tetapi bagaimana jika untuk bekerja justru diminta membayar sejumlah uang?

Ini seperti sudah menjadi rahasia umum. Di beberapa daerah, penggunaan ‘uang pelicin’ agar bisa diterima bekerja sering ditemui.

Di Serang, Banten, misalnya, untuk bisa bekerja di sebuah perusahaan harus membayar sejumlah uang kepada calo. Besarnya beragam. Bahkan mencapai 4 – 6 juta.

Tentu saja, itu jumlah yang tidak sedikit. Apalagi untuk pekerjaan dengan gaji yang hanya sebatas upah minimum, yang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun pas-pasan. Bagaimana mau balik modal?

Ironisnya, dalam satu kasus, ada yang baru bekerja satu minggu sudah diberhentikan. Gaji belum diterima tetapi uang sudah melayang. Padahal uang tersebut didapat dari berhutang.

Ada juga yang menggunakan sistem tunggu. Membayar uang di muka sekian juta, tetapi tidak langsung bekerja. Hanya dijanjikan mendapatkan prioritas utama ketika lowongan dibuka.

Satu cerita lagi, dia sudah sehari bekerja. Mendapatkan seragam. Kemudian dipanggil dan diminta membayar uang pelicin karena sudah diterima bekerja. Karena tidak punya, saat itu juga posisinya digantikan yang lain. Orang yang sudah siap membayar jasa si calo tenaga kerja.

Akibatnya jelas, mereka yang memiliki modal yang bisa bekerja. Sedangkan yang tidak, akses untuk ke sana tertutup rapat.

Kalau biasanya dalam bisnis yang dijual adalah barang atau jasa, maka dalam hal ini yang djual adalah manusia. Tenaga kerja.

Saya pernah mendengar seseorang mengeluhkan hal ini. “Saya bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi mengapa justru dimintai sejumlah uang?”

Sistem calo seperti yang membuat relasi antara pengusaha dan pekerja kian timpang. Karena merasa harus membayar dengan sejumlah uang untuk masuk kerja, maka seringkali si pekerja tidak memiliki keberanian untuk menuntu ketika hak-haknya tidak diberikan.

“Biarlah, mas. Asalkan saya masih bisa kerja. Belum balik modal soalnya,” demikian jawaban seorang kawan ketika saya menanyakan, mengapa dia tidak memprotes ketika kelebihan jam kerja tidak dibayar.

Kalimat ‘belum balik modal’ merujuk pada uang sogokan agar bisa masuk bekerja di sebuah perusahaan. Ini tentu saja tidak adil. Sebab pekerja lah yang mengeluarkan tenaga dan berkeringat, tetapi orang lain yang mendapatkan hasilnya. Kontan di muka.

Kita menolak jika ini dikatakan sebagai jasa rekrutmen. Semacam imbalan karena sudah membantu masuk kerja. Karena jika mata rantai ini dipotong, maka tidak ada lagi beban yang harus ditanggung para pencari kerja. Buruh tidak lagi dianggap barang yang bisa diperjual belikan.

Perusahaan pun diuntungkan, karena mendapatkan tenaga kerja yang mumpuni. Sesuai dengan keahlian yang dibutuhkan. Bukan tenaga kerja yang sekedar bisa membayar si calo.

Tetapi praktek ini sudah pat gulipat, melibatkan berbagai pihak. Seperti oknum perangkat desa, juga ada oknum HRD. Ironisnya, ada juga oknum serikat pekerja.