Ada pemandangan yang sering kita lihat menjelang aksi buruh, grup WhatsApp ramai, daftar hadir diedarkan, koordinator sibuk telepon anggota satu-satu. “Besok wajib datang ya, ini instruksi.” Di lapangan, barisan memang penuh. Tapi kalau diperhatikan wajah-wajahnya, banyak yang datar. Datang karena takut dicoret, takut dibilang tidak solid, takut tidak dapat jatah kaos. Berangkat aksi masih terpaksa, belum karena panggilan hati.
Ini realitas pahit yang harus diakui serikat buruh hari ini. Jumlah massa bisa diklaim ribuan, tapi militansi tidak bisa dibohongi. Aksi yang lahir dari keterpaksaan akan berhenti di foto dokumentasi. Tidak ada daya dobrak, tidak ada roh perjuangan.
Kenapa Masih Terpaksa? penyebabnya antara lain:
1. Belum Merasakan Manfaat Langsung, Banyak anggota serikat tidak bisa menjawab pertanyaan sederhana: “Selama setahun ini, apa yang serikat kasih ke saya?” Iuran jalan, rapat ikut, aksi hadir, tapi upah tetap UMR, status tetap kontrak, dan kalau ada masalah malah disuruh hadapi sendiri. Wajar kalau aksi dianggap beban, bukan kebutuhan.
2. Tidak Paham Isu yang Diperjuangkan. Spanduk tulisannya “Tolak Omnibus Law”. Tapi ketika ditanya pasal berapa yang memberatkan, banyak yang diam. Sosialisasi seringkali cuma selebaran, tidak ada diskusi mendalam. Akhirnya anggota berangkat tanpa tahu dia sedang melawan apa. Ikut-ikutan, karena semua teman berangkat.
3. Trauma dan Ketakutan, Masih banyak yang trauma lihat temannya di-PHK karena aktif aksi. Diancam tidak perpanjang kontrak. Dicap “pembangkang” oleh atasan. Selama serikat belum bisa kasih jaminan perlindungan nyata, wajar kalau anggota datang dengan setengah hati. Badan di jalan, pikiran di mesin.
4. Aksi Jadi Rutinitas Kosong, Setiap May Day turun, setiap ada RUU turun. Tapi hasilnya? Aturan tetap disahkan, pengusaha tetap menang. Lama-lama aksi terasa seperti seremoni tahunan tanpa arah. Anggota lelah, dan lelah itu melahirkan keterpaksaan.
Aksi yang terpaksa mudah dibaca lawan. Pengusaha tahu itu massa titipan. Aparat tahu itu barisan yang tidak solid. Akibatnya gertakan serikat tidak digubris. “Biarin saja, besok juga bubar sendiri.”
Lebih bahaya lagi, keterpaksaan membunuh kaderisasi. Anggota yang terpaksa hari ini, besok akan jadi senior yang apatis. Dia tidak akan mau rekrut anggota baru, karena dia sendiri tidak percaya. Regenerasi pun mati.
Panggilan hati tidak bisa diinstruksikan. Ia tumbuh ketika tiga hal ada: paham, butuh, dan percaya.
1. Paham: Edukasi yang Membumi, Stop ceramah ideologi berat di awal. Mulai dari masalah di lantai produksi. Bedah slip gaji bareng. Hitung kerugian kalau lembur tidak dibayar. Ajak diskusi: “Kalau UU ini lolos, kontrak kita bisa selamanya.” Kalau anggota paham bahwa aksi ini soal nasib dapurnya, dia akan jalan tanpa disuruh.
2. Butuh: Buktikan Serikat Bekerja, Selesaikan kasus-kasus kecil tapi nyata. Bantu kawan yang upahnya dipotong. Dampingi yang sakit tapi BPJS dipersulit. Sekali anggota merasakan “oh, serikat bela saya”, maka saat serikat panggil aksi, dia merasa utang budi untuk membela rumahnya sendiri.
3. Percaya: Pemimpin yang Melindungi, Pengurus jangan cuma teriak di mobil komando. Pastikan ada tim advokasi yang siap pasang badan kalau ada anggota diintimidasi. Libatkan anggota dalam ambil keputusan. Kepercayaan itu mahal, dan dia lahir dari keteladanan.
Aksi buruh terbesar dalam sejarah bukan karena jumlahnya, tapi karena hatinya. Mereka bergerak karena sadar ditindas, sadar hanya persatuan yang bisa melawan, dan sadar tidak ada yang akan menolong kalau bukan mereka sendiri.
Tugas serikat hari ini bukan sekadar memobilisasi massa. Tugasnya adalah membangun kesadaran itu. Pelan, dari orang per orang. Dari kasus per kasus. Dari diskusi ke diskusi.
Sebab aksi yang dipaksa akan bubar jam 12 siang. Tapi aksi yang lahir dari panggilan hati, dia akan bertahan sampai menang.
Dan kemenangan buruh tidak pernah lahir dari barisan yang terpaksa. Ia lahir dari mereka yang percaya bahwa jalanan adalah rumah kedua, dan keadilan adalah harga mati. (Yanto)